WINA, POSNEWS.CO.ID – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mendesak Iran untuk segera bekerja sama kembali. Sebab, IAEA ingin melanjutkan inspeksi pada berbagai situs nuklir yang hancur akibat serangan militer tahun lalu.
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan informasi resmi mengenai kondisi situs nuklir tersebut. Sementara itu, tim pengawas menduga sebagian besar cadangan uranium berkadar tinggi masih tersimpan dengan aman. Bahan berbahaya tersebut memiliki tingkat pemurnian hingga mencapai 60 persen. Akibatnya, para ahli mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan bahan itu untuk pembuatan senjata nuklir.
Draf Resolusi Keras dari AS dan Sekutu Eropa
Merespons situasi tersebut, Amerika Serikat bersama Inggris, Prancis, dan Jerman mengajukan draf resolusi baru. Draf ini mendesak Tehran untuk memberikan informasi lengkap tanpa adanya penundaan. Selain itu, Iran wajib memberikan akses penuh bagi para inspektur IAEA di lapangan. Meskipun demikian, langkah tegas ini berisiko mempersulit jalannya negosiasi damai antara Washington dan Tehran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penolakan Iran dan Sikap Optimis Donald Trump
Pihak delegasi Iran di PBB menolak keras draf resolusi tersebut melalui pernyataan resminya. Mereka menilai draf tersebut sebagai bentuk tekanan politik yang tidak adil dari negara Barat. Oleh karena itu, Iran memperingatkan bahwa pemaksaan hanya akan merusak peluang solusi diplomasi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tetap optimis mengenai kelanjutan kesepakatan damai. Ia meyakini konflik terbaru antara Israel dan Iran tidak akan mengganggu proses negosiasi. Pada akhirnya, dunia kini menanti keputusan akhir dari sidang dewan gubernur IAEA pekan ini.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












