TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran mengecam keras aksi agresi militer Amerika Serikat ke wilayah selatan mereka pada Rabu pagi. Sebab, serangan udara brutal tersebut melanggar kedaulatan wilayah dan kedaulatan negara secara nyata.
Aksi Balasan Militer dan Hak Bela Diri
Pasukan militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara menyusul jatuhnya helikopter Apache pada Senin malam kemarin. Namun, Iran menganggap gempuran tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung membalas tindakan agresif tersebut secara cepat pada hari yang sama. Akibatnya, unit militer IRGC meluncurkan rentetan rudal balistik dan pesawat tanpa awak ke pangkalan sekutu AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Serangan balasan taktis tersebut menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Yordania secara beruntun. Dengan demikian, Iran menggunakan hak membela diri secara sah untuk melindungi kedaulatan wilayah mereka.
Peringatan Keras bagi Sekutu Regional
Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) mengeklaim serangan udara mereka murni bertujuan untuk melindungi diri secara proporsional. Selain itu, CENTCOM menuduh militer Iran terus mengganggu kelancaran pelayaran kapal dagang internasional di Selat Hormuz.
Sebaliknya, pemerintah Iran memperingatkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk untuk tidak membantu agresi Amerika Serikat. Sebab, membiarkan fasilitas militer lokal menjadi pangkalan penyerangan akan memicu aksi balasan yang setimpal dari Tehran.
“Kami akan membalas setiap tindakan permusuhan secara tegas dan tanpa ragu,” tulis pernyataan resmi kementerian.
Koordinasi Diplomatik Tingkat Tinggi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera meluncurkan langkah diplomasi paralel untuk meredam kekhawatiran regional. Oleh sebab itu, ia menelepon Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud secara khusus.
Araghchi juga menghubungi Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan untuk membahas eskalasi militer terbaru tersebut. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jalur komunikasi tertutup ini mampu mencegah pecahnya perang energi yang lebih luas.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












