WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Para politisi Republik dan Demokrat di Capitol Hill mendesak Presiden Donald Trump untuk segera menunjuk direktur intelijen nasional yang permanen. Langkah taktis ini bertujuan untuk mempermudah Kongres memperpanjang wewenang pengawasan penting sebelum masa berlakunya habis. Namun, Trump hingga saat ini tetap bersikeras menolak usulan tersebut.
Trump justru mempertahankan pilihan sementaranya untuk memimpin berbagai badan intelijen tersebut. Sebab, ia memilih regulator keuangan perumahan federal Bill Pulte meskipun tidak memiliki pengalaman militer atau keamanan nasional.
Akibatnya, kubu Demokrat menolak memberikan dukungan suara untuk memperpanjang aturan Seksi 702 Undang-Undang Pengawasan Intelijen Asing (FISA). Aturan penting ini akan kedaluwarsa pada tanggal 12 Juni ini. Oleh karena itu, Trump meminta perpanjangan jangka pendek untuk memberikan waktu dalam memilih kepala badan yang permanen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ancaman Celah Kosong Pengawasan Asing
Kebuntuan politik ini dapat membatasi kemampuan pemerintah Amerika Serikat dalam mengumpulkan data intelijen asing secara instan. Padahal, turnamen akbar Piala Dunia dan perayaan hari jadi negara ke-250 akan segera bergulir dalam waktu dekat.
Pemimpin Mayoritas Senat John Thune menegaskan bahwa para pemimpin Republik telah menyampaikan pandangan mereka secara terbuka kepada pihak Gedung Putih. Dengan demikian, mereka berharap presiden segera memahami langkah yang diperlukan demi meloloskan undang-undang tersebut.
Trump mengeklaim sedang mewawancarai lima kandidat mumpuni yang memiliki latar belakang keamanan nasional yang kuat. Ketua DPR Mike Johnson juga mendukung langkah tersebut setelah bertemu langsung dengan Trump untuk membahas kebuntuan ini.
Kontroversi Penunjukan Bill Pulte
Seksi 702 FISA memberikan wewenang hukum bagi CIA, NSA, dan FBI untuk menyadap komunikasi target asing tanpa surat perintah. Meskipun begitu, beberapa politisi skeptis karena khawatir aturan ini menyadap komunikasi warga Amerika Serikat secara tidak sengaja.
Kesepakatan bipartisan sebenarnya sudah hampir rampung setelah kedua kubu merumuskan rancangan undang-undang kompromi. Namun, kubu Demokrat kini menahan dukungan suara karena penunjukan kontroversial Pulte sebagai penjabat direktur.
Senator Demokrat Mark Warner menyamakan keputusan presiden tersebut dengan melempar granat tangan ke tengah proses legislasi. Akibatnya, tujuh senator Republik bergabung dengan kubu Demokrat untuk memblokir perpanjangan jangka panjang tersebut pekan lalu. Sementara itu, Warner hanya akan mendukung perpanjangan jangka pendek jika Aaron Lukas yang bertindak sebagai penjabat direktur intelijen nasional.
Peringatan Keras Senat dan Tuntutan Mundur
Ketua Komite Intelijen Senat Tom Cotton bersama Ketua Komite Yudisial Senat Chuck Grassley langsung membunyikan alarm bahaya. Oleh sebab itu, mereka mengirim surat resmi untuk memperingatkan potensi terjadinya celah kosong intelijen asing yang kritis.
Para senator juga menyoroti rekam jejak Pulte yang tidak memiliki pengalaman di bidang intelijen atau keamanan nasional. Selain itu, mereka mempersoalkan keterlibatan Pulte dalam penyelidikan kasus dugaan penipuan hipotek di masa lalu.
Pihak oposisi menuduh penyelidikan tersebut murni bertujuan untuk menghukum lawan-lawan politik Donald Trump di tingkat federal. Pada akhirnya, Mike Johnson menilai penunjukan Pulte hanya bersifat sementara sebagai langkah renovasi untuk merampingkan birokrasi lembaga.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












