JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Kelompok perusuh melemparkan batu dan kembang api ke arah barisan aparat kepolisian di Jenewa hari Minggu kemarin. Langkah taktis ini mewarnai aksi unjuk rasa besar-besaran untuk menentang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi G7.
Polisi Swiss merespons tindakan anarkis tersebut secara tegas menggunakan gas air mata dan semprotan meriam air. Sebab, massa mulai membakar sejumlah kendaraan mewah serta merusak gedung-gedung di sekitar markas PBB.
Bentrokan hebat ini meletus sesaat sebelum Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di kota wisata Evian-les-Bains. Sementara itu, Macron bersiap menyambut kehadiran para pemimpin negara G7 untuk memulai pertemuan puncak hari Senin ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isu KTT G7 dan Geopolitik Global
Pertemuan puncak G7 tahun ini berlangsung di tengah berkecamuknya perang tiga bulan melawan militer Iran di Timur Tengah. Dengan demikian, para pemimpin dunia harus menghadapi tantangan berat untuk merumuskan draf perdamaian global secepatnya.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menjadwalkan kedatangan melalui bandara udara Jenewa. Meskipun begitu, ancaman unjuk rasa susulan memaksa aparat keamanan untuk bersiaga penuh selama KTT berlangsung.
Otoritas Jenewa mengerahkan sekitar 4.000 personel tentara tambahan untuk memperkuat barisan pertahanan kepolisian di perbatasan. Oleh sebab itu, pemerintah Prancis juga menerjunkan hampir 16.000 petugas gabungan untuk mengamankan wilayah Evian.
Dampak Kerusakan dan Tuntutan Pengunjuk Rasa
Sebagian besar dari 20.000 demonstran sebenarnya melakukan aksi jalan kaki secara damai di sepanjang rute yang aman. Namun, sekelompok perusuh berbaju hitam atau Black Bloc mulai memicu kerusuhan di beberapa titik kota.
Mereka mencorat-coret dinding bangunan mewah menggunakan slogan bernada kecaman terhadap kesenjangan ekonomi global dan kapitalisme ekstrem. Akibatnya, puluhan toko dan fasilitas umum mengalami kerusakan parah akibat amuk massa yang tidak terkendali tersebut.
Koalisi penolak G7 akhirnya membatalkan rencana pertemuan tandingan akibat ketatnya pembatasan wilayah dari pemerintah Prancis. Pada akhirnya, ketegangan ini membuktikan besarnya penolakan publik terhadap aliansi imperialis yang mengontrol arah kebijakan dunia.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












