JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Nama Irjen Pol Eko Hadi Santoso semakin dikenal publik setelah sederet pengungkapan kasus narkoba besar di bawah Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.
Perjalanan kariernya tidak dibangun dalam semalam. Sebelum dipercaya memimpin pemberantasan narkoba di tingkat Mabes Polri, Eko dikenal sebagai perwira reserse yang memiliki pengalaman dalam penanganan tindak pidana terorisme.
Kini, kariernya kembali menanjak. Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026, Eko mendapat kenaikan pangkat menjadi Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) dan menempati jabatan Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat I Bareskrim Polri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, namanya tetap lekat dengan jabatan Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri yang diembannya sejak April 2025.
Lulusan Akpol 1999
Eko Hadi merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan ke-4 tahun 1996. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian dan menjadi bagian dari lulusan Akpol 1999.
Setelah menjadi perwira Polri, Eko menjalani berbagai penugasan strategis.
Pengalaman tersebut membentuk karakter Eko sebagai perwira yang terbiasa bekerja di lapangan sekaligus menangani perkara dengan tingkat kerumitan tinggi.
Pada 2018, Eko dipercaya menjadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok dengan pangkat AKBP.
Selanjutnya, pada Agustus 2020, ia menjabat Kabag Monitoring dan Evaluasi Robinopsnal Bareskrim Polri. Posisi tersebut membuatnya berkutat dengan pengawasan dan evaluasi operasional penyidikan.
Kariernya kemudian semakin meningkat. Pada 2022, Eko menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi dan bertugas sebagai Pengembang Teknologi Informasi Kepolisian Utama Tingkat II Divisi TIK Polri.
Dari Antiteror ke Perang Melawan Narkoba
Penunjukan Eko sebagai Dirtipidnarkoba pada April 2025 cukup menarik perhatian.
Sebab, rekam jejaknya selama ini lebih dikenal dalam bidang reserse dan pengungkapan tindak pidana terorisme.
Kapolri kemudian mempercayakannya menghadapi tantangan berbeda: membongkar jaringan narkotika dari hulu hingga hilir.
Saat pertama ditunjuk, Eko menyampaikan pesan sederhana tetapi tegas kepada wartawan.
Ia menekankan pentingnya integritas dan penegakan hukum yang lebih masif sembari meminta dukungan serta kerja sama para wartawan.
Sikap tersebut memperlihatkan gaya komunikasi yang tidak berjarak dengan media. Dalam berbagai pengungkapan perkara, Eko juga kerap menjadi sumber informasi langsung mengenai perkembangan penyidikan.
Bongkar Sindikat Narkoba Jelang DWP
Salah satu pengungkapan menonjol terjadi menjelang Djakarta Warehouse Project (DWP) 2025.
Dittipidnarkoba Bareskrim mengungkap enam sindikat peredaran narkoba yang diduga beroperasi menjelang gelaran DWP 2025. Polisi mengamankan 17 tersangka dalam perkara tersebut.
Eko saat itu menjelaskan pola transaksi yang digunakan jaringan, mulai dari sistem tempel, cash on delivery (COD), hingga transaksi melalui perbankan.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa jaringan narkoba tidak lagi bekerja secara sederhana. Mereka memanfaatkan teknologi, sistem pembayaran, hingga pola distribusi yang semakin rapi.
Bongkar Pabrik Vape Etomidate di Jakarta
Pada Agustus 2026, Eko kembali menjadi sorotan setelah Bareskrim membongkar produksi vape yang diduga mengandung etomidate di sebuah kamar kos kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Pengungkapan bermula dari informasi masyarakat. Polisi kemudian menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam produksi tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian karena modus peredaran narkotika terus berkembang.
Zat yang berbahaya tidak hanya beredar dalam bentuk konvensional, tetapi juga menyusup melalui produk yang tampak seperti vape.
Kasus 1,3 Ton Ketamin
Tidak kalah besar, Bareskrim juga menangani perkara penyelundupan sekitar 1,3 ton ketamin di Kepulauan Riau.
Sebanyak delapan anak buah kapal (ABK) MV King Sun dibawa ke Jakarta untuk menjalani penyidikan lanjutan oleh Dittipidnarkoba Bareskrim.
Eko menyampaikan langsung perkembangan penanganan perkara tersebut kepada wartawan.
Kasus itu memperlihatkan bahwa jalur laut masih menjadi salah satu pintu yang dimanfaatkan jaringan internasional untuk memasukkan narkotika ke Indonesia.
Bongkar Jaringan Narkoba Planet Batam
Pada Agustus 2026, nama Eko kembali mencuat dalam pengungkapan jaringan narkoba di kawasan tempat hiburan malam Planet Batam.
Dalam operasi tersebut, aparat mengamankan 32 orang yang berstatus tersangka dan saksi.
Pendalaman kemudian mengarah kepada Basri Lewaimang yang diduga berperan sebagai pengelola sekaligus bandar narkoba. Polisi kemudian menetapkan Basri sebagai DPO.
Penyidik juga menetapkan Yuwanky sebagai tersangka sekaligus DPO dalam pengembangan perkara tersebut. Eko menyebut penyidik turut menelusuri aset yang diduga berkaitan dengan jaringan narkotika.
Perkara Planet Batam menjadi salah satu pengungkapan besar karena penyidik tidak berhenti pada pengguna atau pengedar lapangan.
Polisi bergerak membongkar struktur jaringan dan menelusuri pihak yang diduga berada di balik distribusi narkotika.
Tangani Kasus Internal Polisi
Eko juga memimpin penanganan perkara narkotika yang menyeret anggota Polri.
Salah satunya kasus mantan Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro. Dalam pengembangan perkara tersebut, Bareskrim mengungkap dugaan jaringan narkoba yang berkaitan dengan mantan pejabat kepolisian tersebut.
Langkah tersebut menjadi pesan bahwa pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti pada masyarakat sipil. Aparat yang diduga terlibat pun harus menghadapi proses hukum.
Komunikasi dengan Wartawan
Di tengah karakter pekerjaan yang keras, Eko menunjukkan gaya komunikasi yang relatif terbuka kepada media.
Ketika ditunjuk sebagai Dirtipidnarkoba, ia secara terbuka meminta doa dan kerja sama wartawan untuk mendorong penegakan hukum.
Sikap itu penting karena kerja kepolisian dan pers memiliki irisan yang kuat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Wartawan membutuhkan informasi yang akurat, sedangkan kepolisian membutuhkan ruang komunikasi publik yang bertanggung jawab.
Karena itu, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Jenderal Bintang Dua dengan Tantangan Baru
Kenaikan pangkat menjadi Irjen Pol menjadi babak baru perjalanan Eko Hadi Santoso.
Mutasi terbaru menempatkannya sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat I Bareskrim Polri. Telegram tersebut tidak menjelaskan alasan khusus di balik perubahan jabatan tersebut.
Karena itu, mutasi tersebut tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan satu kasus tertentu. Perjalanan Eko memperlihatkan bahwa seorang perwira tidak hanya dituntut mengejar target pengungkapan.
Lebih dari itu, ia harus mampu menjaga integritas, membangun komunikasi, dan memastikan proses hukum berjalan profesional.
Dari pengalaman menangani terorisme, teknologi informasi, hingga jaringan narkoba, Eko kini memasuki fase baru sebagai jenderal bintang dua.
Bagi masyarakat, tantangannya jelas: membuat hukum semakin tajam terhadap bandar dan jaringan besar, tetapi tetap profesional, transparan, dan menghormati hak setiap orang.
Sebab, perang melawan narkoba bukan sekadar mengejar tersangka. Di balik setiap jaringan yang dibongkar, ada keluarga yang diselamatkan, anak muda yang dilindungi, dan masa depan generasi yang dipertaruhkan. **
Editor : Hadwan














