POSNEWS.CO.ID, CARACAS — Presiden Delcy RodrĂguez menyetujui kesepakatan yang memberikan Amerika Serikat kendali atas sekitar seperlima cadangan minyak Venezuela pekan lalu. Cadangan ini merupakan yang terbesar di dunia.
Banyak warga Venezuela memandang kesepakatan ini sebagai bentuk penyerahan kedaulatan. Sejumlah pihak bahkan menilai penguasaan minyak Venezuela menjadi tujuan utama sejak AS menangkap mantan Presiden Nicolás Maduro awal tahun ini.
“Ini bukan sekadar mengkhawatirkan, ini memalukan,” ujar arsitek Caracas, Lisandro Castro. Ia menyebut warga Venezuela merasakan kekhawatiran kolektif yang nyata atas situasi ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama lebih dari 100 tahun, identitas warga Venezuela terbentuk dari keyakinan bahwa minyak adalah milik rakyat. Namun, harga minyak yang jatuh pada 1980-an dan krisis ekonomi berkepanjangan sejak era Maduro justru memperburuk kondisi negara ini.
Meski pasar kini tercukupi stok barang, inflasi tinggi membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pekerja sektor publik rata-rata hanya menerima gaji sekitar $160 per bulan.
Berdasarkan kesepakatan ini, AS membentuk usaha patungan dengan North American Blue Energy Partners. RodrĂguez memberikan hak 100 tahun atas 17 ladang minyak dengan cadangan terbukti 65 miliar barel.
Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan misi Trump di Venezuela bertujuan membawa perdamaian dan kemakmuran. Sementara itu, RodrĂguez membela kesepakatan ini dan menyatakan ingin menjadikan Venezuela sebagai kekuatan energi besar.
Meski demikian, warga Cabimas tetap skeptis atas manfaat kesepakatan ini. “Di satu sisi, kita merasa salah satu cadangan minyak terbesar telah diserahkan,” ujar pekerja minyak Erwin Ayala.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














