Horor di El-Fasher: RSF Dituduh Lakukan Genosida, 14 Juta Warga Sudan Mengungsi

Jumat, 7 November 2025 - 06:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Jatuhnya el-Fasher ke tangan RSF mengungkap laporan pembunuhan massal, pemerkosaan sistematis, dan pembersihan etnis. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Jatuhnya el-Fasher ke tangan RSF mengungkap laporan pembunuhan massal, pemerkosaan sistematis, dan pembersihan etnis. Dok: Istimewa.

SUDAN, POSNEWS.CO.ID — Perang saudara yang brutal di Sudan kini telah memasuki tahun ketiga. Akibatnya, perang ini memicu krisis kemanusiaan dan pengungsian terbesar di dunia. Situasi memburuk secara drastis setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut el-Fasher, ibu kota Darfur Utara. Tindakan ini memicu laporan pembunuhan massal, pembersihan etnis, dan pemerkosaan sistematis.

Untuk itu, Perdana Menteri Sudan, Kamil Idris, kini secara terbuka menyerukan kepada komunitas internasional untuk menetapkan RSF sebagai “organisasi teroris”.

Krisis Pengungsian Terbesar di Dunia

Data terbaru dari PBB melukiskan gambaran bencana. Sudan kini memiliki lebih dari 9,5 juta pengungsi internal (IDP). Selain itu, 4,34 juta lainnya telah melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Chad, dan Sudan Selatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Total, 14 juta orang, atau lebih dari seperempat populasi Sudan, telah terusir dari rumah mereka. Bahkan, PBB mencatat lebih dari separuh (51%) dari pengungsi internal tersebut adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.

Jatuhnya el-Fasher pada 26 Oktober, setelah pengepungannya selama 18 bulan, telah memperparah krisis. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan 81.817 orang telah mengungsi dari area tersebut hanya dalam beberapa hari. Mirisnya, kebanyakan dari mereka melarikan diri dengan berjalan kaki.

Baca Juga :  BPBD DKI & TNI-AU Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 21 Agustus

Mereka Tahu Suku Saya dari Warna Kulit

Laporan dari para penyintas yang berhasil lolos dari el-Fasher mengungkap kengerian yang sistematis. PBB dan lembaga bantuan internasional telah mengonfirmasi banyak laporan mengenai eksekusi massal, penyiksaan, dan pemerkosaan yang dilakukan oleh pejuang RSF.

Perang ini telah mengambil dimensi etnis yang mengerikan, terutama di Darfur. “Saya tidak bisa kembali,” kata seorang pengungsi kepada petugas bantuan. “Mereka akan tahu dari warna kulit saya dari suku mana saya berasal, dan mereka akan membunuh saya.”

Wanita dan anak-anak adalah korban utama. PBB melaporkan bahwa para pelaku menggunakan kekerasan seksual secara sistematis “untuk menghukum, meneror, dan menghancurkan.”

“Kami melarikan diri dari el-Fasher dan itu sangat tragis,” kata Najwa, seorang pengungsi. “Mereka mengambil suami saya dan menyiksanya… Mereka membawanya dalam keadaan berlumuran darah, tidak sadarkan diri. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.”

Tidak hanya itu, para pelaku juga menarik paksa anak-anak laki-laki ke dalam konflik. Laporan menyebutkan bahwa mereka mengirim truk-truk berisi anak-anak ke garis depan untuk mempersenjatai mereka.

Baca Juga :  Update Bencana Sumatera: Korban Jiwa Tetap, Pengungsi Berkurang - Infrastruktur Dipulihkan

Seruan Teroris dan Krisis Pendanaan

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, PM Kamil Idris mengecam RSF sebagai “milisi pemberontak dan tentara bayaran”. Ia menyebut kejahatan mereka “belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.”

“Mengutuk saja tidak cukup,” tegas Idris. “Oleh karena itu, apa yang dibutuhkan sekarang adalah menetapkan kelompok ini sebagai milisi teroris karena bahayanya tidak hanya mengancam Sudan, tetapi juga stabilitas Afrika dan seluruh dunia.”

Meskipun RSF telah membantah beberapa tuduhan terburuk, video-video kekejaman beredar luas (termasuk pembebasan komandan Abu Lulu, yang mendapat tuduhan melakukan kekejaman). Hal ini memperkuat seruan PM Idris.

Namun, di tengah krisis ini, respons kemanusiaan global masih sangat kurang. Laporan PBB menyebutkan bahwa dari total dana yang dibutuhkan, baru sekitar seperempatnya yang pihak PBB terima.

“Pendanaan untuk perlindungan dan dukungan psikososial bagi perempuan dan anak-anak bukanlah pilihan. Ini adalah penyelamat nyawa,” tulis seorang pejabat bantuan. “Lagipula, setiap hari dunia memalingkan muka, lebih banyak nyawa hilang… Diam bukanlah netralitas. Diam memberikan cek kosong bagi horor untuk terus berlanjut.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Thailand Janji Perketat Kontrol Senjata Api
Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak
Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Thailand Janji Perketat Kontrol Senjata Api

Kamis, 13 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Berita Terbaru

Pemerintah Thailand berjanji memperketat kontrol senjata api usai dua penembakan mematikan dekat Bangkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Thailand Janji Perketat Kontrol Senjata Api

Kamis, 13 Agu 2026 - 07:00 WIB

Ilustrasi, langit cerah di kawasan Jakarta dan Jabodetabek saat cuaca panas pada 13 Agustus 2026.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Cuaca Jabodetabek 13 Agustus 2026 Cerah, Suhu Capai 35 Derajat

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:29 WIB

Aeon Co mengakui bahwa staf lapangan sempat mengizinkan karyawan masuk kembali ke mal yang terdampak gempa di Kumamoto. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Aeon Akui Izinkan Karyawan Masuk Kembali ke Mal Terdampak

Kamis, 13 Agu 2026 - 06:00 WIB