Menolak Bapakisme dan Menuntut Kesetaraan di Kantor

Kamis, 20 November 2025 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Benturan budaya kerja antara Gen Z dan atasan senior semakin nyata. Artikel ini mengupas tuntutan transparansi, penolakan feodalisme kantor, hingga perjuangan kesehatan mental pekerja muda. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Benturan budaya kerja antara Gen Z dan atasan senior semakin nyata. Artikel ini mengupas tuntutan transparansi, penolakan feodalisme kantor, hingga perjuangan kesehatan mental pekerja muda. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Lorong-lorong kantor kini tak lagi sunyi dan patuh. Suara-suara baru mulai bergema keras di ruang rapat. Generasi Z mulai membanjiri dunia kerja dengan idealisme mereka yang menyala.

Mereka membawa standar baru yang sering kali mengejutkan para atasan dari Generasi X atau Boomers. Akibatnya, benturan budaya kerja pun tak terelakkan. Kantor berubah menjadi medan negosiasi antara tradisi lama dan tuntutan baru.

Generasi tua terbiasa dengan loyalitas buta dan kepatuhan mutlak. Sebaliknya, pekerja muda datang dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Mereka tidak sekadar bekerja untuk gaji, tetapi menuntut makna dan keadilan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Transparansi dan Kesehatan Mental: Bukan Sekadar Bonus

Anak muda ini memperjuangkan nilai-nilai yang dulunya tabu. Mereka berani berbicara soal gaji secara terbuka tanpa rasa takut. Bahkan, mereka mendesak perusahaan untuk transparan mengenai rentang upah.

Baca Juga :  Hakim AS Batalkan Pemotongan Hibah $100 Juta oleh Trump

Selain itu, isu kesehatan mental menjadi prioritas utama mereka. Mereka menolak mengorbankan kewarasan demi target perusahaan semata. Oleh karena itu, fleksibilitas seperti Work From Anywhere (WFA) atau sistem Hybrid kini menjadi syarat mutlak.

Mereka juga menuntut purpose atau tujuan jelas dari tempat mereka bekerja. Gen Z enggan menghabiskan waktu bagi perusahaan yang tidak memiliki dampak sosial positif.

Melawan Label “Generasi Lembek”

Perubahan drastis ini tentu mengundang resistensi keras. Banyak atasan senior melabeli mereka sebagai generasi “lembek” atau “stroberi”. Mereka sering mendapat cap “banyak mau” dan kurang tahan banting.

Padahal, penilaian tersebut sering kali salah sasaran. Gen Z sebenarnya hanya menolak romantisasi hustle culture yang merusak tubuh dan pikiran. Mereka bekerja cerdas, bukan sekadar bekerja keras tanpa henti.

Justru, keberanian mereka menetapkan batasan (boundaries) adalah bentuk profesionalisme baru. Mereka paham bahwa istirahat berkualitas akan menghasilkan kinerja yang lebih optimal.

Baca Juga :  Israel Ngebut Bangun 19 Pemukiman Ilegal di Tepi Barat

Runtuhnya Budaya “Bapakisme”

Satu hal paling mencolok adalah perlawanan terhadap budaya “Bapakisme”. Istilah ini merujuk pada gaya kepemimpinan feodal di mana atasan selalu benar dan bawahan harus patuh membungkuk.

Gen Z menolak hormat gila semacam itu. Bagi mereka, rasa hormat harus didapat melalui kompetensi dan kepemimpinan yang adil, bukan sekadar usia atau jabatan.

Lantas, hierarki kaku perlahan mulai runtuh. Pekerja muda ini mengutamakan kolaborasi setara. Mereka tidak segan mengkritik atasan di forum terbuka jika melihat ada keputusan yang keliru.

Evolusi Menuju Perusahaan Humanis

Pada akhirnya, perusahaan tidak memiliki banyak pilihan. Mereka wajib berevolusi jika ingin menarik talenta-talenta terbaik masa depan.

Bisnis harus mengubah wajah mereka menjadi lebih humanis dan inklusif. Ingatlah, anak muda ini bukan sekadar pemberontak. Mereka adalah agen perubahan yang sedang membentuk ulang definisi “sukses” di tempat kerja agar lebih manusiawi bagi semua orang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB