Budaya War Tiket: Ketika Musik Berubah Menjadi Ajang Pamer Status dan Utang

Selasa, 25 November 2025 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rela berutang demi Instastory konser viral? Fenomena

Rela berutang demi Instastory konser viral? Fenomena "War Tiket" kini bukan soal musik lagi, tapi soal validasi. Simak bahaya komodifikasi kesenangan ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jam dinding menunjukkan pukul 09.55 WIB. Jantung berdegup kencang. Jari-jari tangan gemetar di atas layar ponsel atau keyboard laptop.

Ribuan orang menatap layar dengan penuh harap. Mereka bersiap menghadapi pertempuran digital yang brutal demi selembar tiket konser. Fenomena ini kita kenal sebagai “War Tiket”.

Belakangan ini, konser musik artis internasional seperti Coldplay, Taylor Swift, atau grup K-Pop bukan sekadar hiburan. Sebaliknya, acara tersebut berubah menjadi ajang pertaruhan status sosial pasca-pandemi. Orang berlomba mendapatkan tiket bukan hanya untuk mendengar musik, melainkan untuk membuktikan eksistensi diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ekonomi Calo dan Bot Jahat

Semangat tinggi para penggemar ini sayangnya dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab. Seketika, muncullah ekosistem “calo digital” yang merusak pasar.

Para calo ini tidak bekerja sendirian. Bahkan, mereka menggunakan bot canggih untuk memborong tiket dalam hitungan detik. Tiket yang seharusnya terjangkau kini menjadi barang mewah.

Baca Juga :  Sopir Truk Ditembak di Yahukimo, Papua - Peluru Tembus Lengan Diduga Ulah KKB

Akibatnya, harga tiket di pasar sekunder melambung tidak masuk akal. Calo menjualnya kembali dengan harga tiga hingga lima kali lipat. Nahasnya, penggemar yang putus asa tetap membelinya demi memenuhi hasrat menonton idola.

Tekanan FOMO: Takut Tak Dianggap

Mengapa orang rela membayar semahal itu? Jawabannya terletak pada tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO).

Media sosial menciptakan standar baru dalam pergaulan. Seolah-olah, kita berdosa jika tidak hadir di acara yang sedang hype. Banyak orang ikut “war tiket” bukan karena mereka penggemar berat musisinya.

Justru, mereka hanya ingin mengamankan stok konten untuk Instagram Story. Mereka takut tertinggal obrolan atau dianggap kurang gaul. Lantas, kehadiran fisik di konser menjadi alat validasi bahwa mereka adalah bagian dari kaum urban yang relevan.

Baca Juga :  KPK Bongkar Modus Eks Sekjen Kemnaker Tampung Uang Suap Lewat Rekening Keluarga

Rela Berutang Demi Satu Malam

Dampak finansial dari gaya hidup ini sangat mengkhawatirkan. Faktanya, banyak anak muda nekat mengambil keputusan finansial yang buruk.

Mereka rela menghabiskan tabungan darurat yang sudah mereka kumpulkan bertahun-tahun. Parahnya lagi, sebagian dari mereka terjerat layanan Pinjaman Online (Pinjol).

Mereka berutang jutaan rupiah demi pengalaman satu malam. Padahal, bunga pinjaman tersebut akan mencekik keuangan mereka berbulan-bulan ke depan. Logika finansial runtuh di hadapan ego gengsi.

Komodifikasi Kesenangan

Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan pergeseran makna seni pertunjukan. Musik tidak lagi menjadi sarana katarsis jiwa. Musik telah berubah menjadi komoditas konsumsi yang kompetitif.

Kita tidak lagi menikmati lagu dengan khidmat. Melainkan, kita sibuk merekam panggung demi pamer di media sosial.

Maka, tanyakan pada diri sendiri sebelum ikut “war tiket” berikutnya. Apakah kita benar-benar menyukai musiknya? Atau, kita hanya sedang membeli tiket masuk menuju pengakuan sosial yang semu?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB

 Xbox resmi menerbitkan game action espionage PHYSINT karya Hideo Kojima setelah PlayStation membatalkan kerja sama. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Xbox Resmi Ambil Alih Penerbitan Game PHYSINT

Minggu, 13 Sep 2026 - 15:43 WIB