Bom Waktu Demografi: Dampak Ekonomi Menua di Asia Timur bagi Dunia

Senin, 1 Desember 2025 - 09:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kemenangan ide atas senjata. Teori Norm Life Cycle menjelaskan cara standar hak asasi manusia meresap ke dalam kebijakan nasional dan memaksa negara otoriter untuk patuh demi pengakuan internasional. Dok: Istimewa.

Kemenangan ide atas senjata. Teori Norm Life Cycle menjelaskan cara standar hak asasi manusia meresap ke dalam kebijakan nasional dan memaksa negara otoriter untuk patuh demi pengakuan internasional. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Matahari terbit di Asia Timur, namun senja tampaknya datang lebih cepat bagi populasi mereka. Tiga raksasa ekonomi Asia—Jepang, Korea Selatan, dan China—sedang duduk di atas bom waktu demografi yang siap meledak.

Data statistik terbaru melukiskan gambaran suram. Jepang terus mencatatkan rekor penyusutan penduduk setiap tahunnya. Sementara itu, Korea Selatan memegang rekor dunia sebagai negara dengan tingkat kesuburan terendah.

Bahkan, China yang dulu terkenal dengan ledakan penduduknya, kini mulai menyusut. Populasi mereka menurun untuk pertama kalinya dalam enam dekade terakhir. Fenomena “menjadi tua sebelum kaya” ini bukan hanya masalah lokal, melainkan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Krisis Tenaga Kerja dan Beban Pensiun

Dampak domestik dari penuaan ekstrem ini sangatlah brutal. Pertama, ketiga negara tersebut mengalami kekurangan tenaga kerja akut. Pabrik-pabrik kesulitan mencari buruh muda, sementara rumah sakit kebanjiran pasien lansia.

Baca Juga :  Pelaku Copet iPhone Dikalungi Tulisan “Saya Copet” di Arak Keliling Tanah Abang

Akibatnya, roda ekonomi melambat. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mereka terancam stagnan atau bahkan minus. Selain itu, beban fiskal negara membengkak drastis.

Pemerintah harus memutar otak untuk membiayai dana pensiun dan layanan kesehatan bagi jutaan lansia. Padahal, jumlah pembayar pajak usia produktif terus berkurang. Lantas, deflasi struktural mengintai karena lansia cenderung lebih hemat belanja dibandingkan anak muda.

Berakhirnya Era “Pabrik Dunia”

Dampak internasionalnya pun tak kalah hebat. Selama tiga dekade terakhir, China memegang peran vital sebagai “pabrik dunia”. Mereka menyediakan tenaga kerja murah yang melimpah ruah untuk memproduksi segala barang, mulai dari mainan hingga iPhone.

Kini, era itu telah berakhir. Pasokan tenaga kerja muda di Tiongkok menipis. Oleh sebab itu, upah buruh di sana merangkak naik dengan cepat.

Imbasnya, dunia akan merasakan inflasi upah global. Barang-barang murah “Made in China” perlahan akan menghilang dari pasaran. Konsumen di Amerika dan Eropa harus bersiap membayar lebih mahal untuk produk elektronik dan tekstil.

Baca Juga :  Tragedi di Polsek Nowgam: 9 Tewas Usai Ledakan Bahan Peledak Sitaan Modul Teror Dokter

Angin Segar bagi India dan ASEAN

Di sisi lain, pepatah lama mengatakan “kesulitan satu orang adalah peluang bagi orang lain”. Bom waktu di Asia Timur justru menjadi kado manis bagi kawasan lain.

India dan Asia Tenggara (ASEAN), termasuk Indonesia, kini menjadi primadona baru. Pasalnya, wilayah ini masih menikmati bonus demografi dengan populasi muda yang melimpah.

Investor global mulai memindahkan pabrik mereka (relokasi) dari China ke Vietnam, India, atau Indonesia. Maka, kita sedang menyaksikan pergeseran pusat manufaktur dunia yang baru. Indonesia berpeluang besar mengambil alih tongkat estafet sebagai basis produksi global.

Demografi Adalah Takdir

Pada akhirnya, demografi adalah takdir yang sulit kita lawan. Mesin pertumbuhan Asia Timur yang dulu perkasa kini mulai “batuk-batuk” karena faktor usia.

Dunia harus segera beradaptasi dengan realitas baru ini. Bagi Indonesia, ini adalah momentum emas. Kita harus memanfaatkannya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain inti dalam tatanan ekonomi baru.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
AntĂłnio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

AntĂłnio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB