Thailand Bantah Gencatan Senjata: Perang Lanjut Meski Trump Klaim Damai Tercapai

Minggu, 14 Desember 2025 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Thailand dan Kamboja setujui gencatan senjata yang ditengahi oleh Trump dan Malaysia pada beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

Thailand dan Kamboja setujui gencatan senjata yang ditengahi oleh Trump dan Malaysia pada beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

BANGKOK, POSNEWS.CO.ID  Situasi di perbatasan Thailand dan Kamboja semakin membingungkan dan berbahaya. Perdana Menteri sementara Thailand, Anutin Charnvirakul, secara tegas membantah adanya kesepakatan gencatan senjata pada Sabtu (13/12/2025).

Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebelumnya, Trump mengumumkan lewat media sosial bahwa kedua negara telah sepakat untuk menghentikan tembak-menembak.

Namun, Anutin menegaskan realitas yang berbeda di lapangan. Pasukan Thailand akan terus bertempur demi mempertahankan kedaulatan.

“Thailand tidak menyetujui gencatan senjata dengan Kamboja. Kami akan terus melakukan aksi militer sampai kami tidak lagi merasakan bahaya dan ancaman,” tegas Anutin melalui unggahan Facebook.

Trump: “Mereka Sepakat Berhenti Menembak”

Kekacauan informasi bermula dari postingan Trump di platform Truth Social pada Jumat. Ia mengklaim telah berbicara dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet.

Baca Juga :  Tolak Pengusiran Paksa: 8 Negara Muslim Kecam Rencana Israel Buka Rafah Satu Arah

“Mereka setuju untuk MENGHENTIKAN semua penembakan efektif malam ini,” tulis Trump. Bahkan, ia memuji peran Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam memfasilitasi kesepakatan tersebut.

Sayangnya, klaim itu tampaknya prematur. Kementerian Luar Negeri Thailand merespons dengan dingin. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow menyayangkan pernyataan Trump yang dinilai tidak mencerminkan pemahaman akurat tentang situasi lapangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami menyesal dan kecewa,” ujar Sihasak.

Perang Sengit: Jet Tempur vs Roket

Di medan tempur, suara ledakan masih menggema keras. Pasukan Thailand melancarkan serangan udara menggunakan jet tempur. Sebagai balasan, Kamboja menembakkan rentetan roket BM-21 ke sepanjang wilayah perbatasan.

Data korban jiwa terus merangkak naik. Militer Thailand melaporkan 15 tentaranya gugur. Selain itu, mereka mengestimasi sekitar 165 personel militer Kamboja tewas dalam baku tembak.

Baca Juga :  Skandal Pemerasan Bupati Tulungagung, KPK: Ajudan Jadi Motor Penagihan Setoran OPD

Pihak Kamboja belum mengonfirmasi kerugian militer mereka. Akan tetapi, mereka melaporkan setidaknya 11 warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka.

Akar Konflik dan Propaganda

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, juga tidak menyinggung soal gencatan senjata dalam pernyataan resminya. Justru, ia menyarankan AS dan Malaysia menggunakan intelijen mereka untuk memverifikasi siapa yang melepaskan tembakan pertama.

Akar konflik ini tertanam jauh dalam sejarah. Faktanya, permusuhan ini bersumber dari sengketa klaim teritorial berdasarkan peta tahun 1907 buatan kolonial Prancis. Sengketa Kuil Preah Vihear terus menjadi duri dalam daging hubungan kedua negara.

Kini, perang propaganda berlangsung sama sengitnya dengan perang fisik. Sementara Trump mencoba mengklaim kemenangan diplomatik, tentara di kedua sisi perbatasan masih saling bidik dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih
Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus
Trump Tegaskan Tak Butuh Bantuan China Akhiri Perang Iran
ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’
Mendag Pastikan Harga Sembako Stabil, MinyaKita di Jawa-Sumatra Sesuai HET Rp15.700 per Liter

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:34 WIB

Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:20 WIB

Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:08 WIB

KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:51 WIB

BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus

Berita Terbaru

Guncangan otoritas kesehatan. Kepala FDA Marty Makary mengundurkan diri setelah setahun menjabat, meninggalkan lembaga tersebut dalam ketidakpastian di tengah perselisihan mengenai kebijakan rokok elektrik dan tinjauan obat-obatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Para senator Republik menuntut rincian lebih dalam atas usulan anggaran $1 miliar dari Secret Service, termasuk dana $220 juta guna mengamankan ruang dansa baru Presiden Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:34 WIB