WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat (AS) mengambil langkah tegas untuk memutus rantai pasok kekerasan di Afrika. Departemen Keuangan AS resmi menjatuhkan sanksi kepada empat individu dan empat perusahaan pada Selasa (09/12/2025).
Jaringan ini terbukti mendalangi perekrutan tentara bayaran asal Kolombia. Tujuannya, mereka mengirim para petarung tersebut untuk bertempur dalam perang saudara brutal di Sudan.
Para tentara bayaran ini memperkuat Rapid Support Forces (RSF). Padahal, Washington telah menuding kelompok paramiliter tersebut melakukan genosida. RSF bertanggung jawab atas kejahatan perang mengerikan, termasuk pembantaian etnis dan penculikan massal.
Komoditas Panas Pasar Perang
Mengapa harus orang Kolombia? Mantan tentara Kolombia memang menjadi komoditas paling dicari di pasar perang global. Faktanya, mereka memiliki pengalaman tempur yang luas dari puluhan tahun perang sipil di negaranya sendiri.
Selain itu, mereka menguasai penggunaan peralatan standar NATO dan memiliki pelatihan tempur tingkat tinggi. Akibatnya, keahlian mematikan mereka menjadi aset berharga bagi faksi-faksi yang bertikai di Sudan.
Laporan investigasi mengungkap fakta miris di lapangan. Para tentara bayaran ini tidak hanya bertempur. Mereka juga melatih tentara anak dan mengoperasikan drone tempur.
Bahkan, salah satu tentara bayaran memberikan pengakuan mengejutkan kepada media. Ia menyebut melatih anak-anak di Sudan sebagai hal yang “mengerikan dan gila”. Namun, ia berdalih dingin dengan mengatakan, “Sayangnya, begitulah perang.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Otak Perekrutan di Dubai
Sanksi AS kali ini membidik tokoh-tokoh kunci di balik layar. Salah satunya adalah Álvaro Andrés Quijano Becerra, seorang pensiunan perwira militer Kolombia yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA).
AS menuduh Quijano memainkan peran sentral dalam merekrut dan mengerahkan pasukan ke Sudan. Istrinya, Claudia Viviana Oliveros Forero, juga turut masuk dalam daftar sanksi.
Sementara itu, Mateo Andrés Duque Botero menjadi target selanjutnya. Ia mengelola perusahaan yang mengurus aliran dana haram tersebut. Tercatat, perusahaannya melakukan transfer jutaan dolar AS untuk membiayai operasi ini pada tahun 2024 dan 2025.
“Amerika Serikat kembali menyerukan kepada aktor eksternal untuk berhenti memberikan dukungan finansial dan militer kepada pihak yang bertikai,” tegas pernyataan Departemen Keuangan AS.
Langkah Penting Tapi Belum Cukup
Analis memberikan reaksi beragam atas keputusan ini. Elizabeth Dickinson dari International Crisis Group menyambut baik langkah tersebut. Ia menyebutnya sebagai tonggak penting untuk mengungkap siapa yang bermain di balik layar.
Akan tetapi, Sean McFate, pakar tentara bayaran, memberikan peringatan realistis. Menurutnya, sanksi saja tidak akan cukup mematikan industri ini.
Bisnis perang adalah ekonomi ilegal yang berpusat di Dubai dan relatif kebal sanksi. Oleh karena itu, McFate memprediksi dunia masih akan melihat lebih banyak tentara bayaran Kolombia di medan konflik global. “Perang adalah bisnis,” peringatnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















