AS Sanksi Jaringan Tentara Bayaran Kolombia yang Bantu Genosida Sudan

Rabu, 10 Desember 2025 - 07:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi,
Tragedi di Kordofan. Kelompok paramiliter RSF meluncurkan serangan drone mematikan yang menyasar warga sipil dan bantuan pangan, memperburuk krisis kemanusiaan di tengah ancaman kelaparan massal. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tragedi di Kordofan. Kelompok paramiliter RSF meluncurkan serangan drone mematikan yang menyasar warga sipil dan bantuan pangan, memperburuk krisis kemanusiaan di tengah ancaman kelaparan massal. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat (AS) mengambil langkah tegas untuk memutus rantai pasok kekerasan di Afrika. Departemen Keuangan AS resmi menjatuhkan sanksi kepada empat individu dan empat perusahaan pada Selasa (09/12/2025).

Jaringan ini terbukti mendalangi perekrutan tentara bayaran asal Kolombia. Tujuannya, mereka mengirim para petarung tersebut untuk bertempur dalam perang saudara brutal di Sudan.

Para tentara bayaran ini memperkuat Rapid Support Forces (RSF). Padahal, Washington telah menuding kelompok paramiliter tersebut melakukan genosida. RSF bertanggung jawab atas kejahatan perang mengerikan, termasuk pembantaian etnis dan penculikan massal.

Komoditas Panas Pasar Perang

Mengapa harus orang Kolombia? Mantan tentara Kolombia memang menjadi komoditas paling dicari di pasar perang global. Faktanya, mereka memiliki pengalaman tempur yang luas dari puluhan tahun perang sipil di negaranya sendiri.

Selain itu, mereka menguasai penggunaan peralatan standar NATO dan memiliki pelatihan tempur tingkat tinggi. Akibatnya, keahlian mematikan mereka menjadi aset berharga bagi faksi-faksi yang bertikai di Sudan.

Baca Juga :  Dua Bocah SD Tewas Tenggelam di Waduk STTAL Kelapa Gading, Usai Selamatkan Teman

Laporan investigasi mengungkap fakta miris di lapangan. Para tentara bayaran ini tidak hanya bertempur. Mereka juga melatih tentara anak dan mengoperasikan drone tempur.

Bahkan, salah satu tentara bayaran memberikan pengakuan mengejutkan kepada media. Ia menyebut melatih anak-anak di Sudan sebagai hal yang “mengerikan dan gila”. Namun, ia berdalih dingin dengan mengatakan, “Sayangnya, begitulah perang.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otak Perekrutan di Dubai

Sanksi AS kali ini membidik tokoh-tokoh kunci di balik layar. Salah satunya adalah Álvaro Andrés Quijano Becerra, seorang pensiunan perwira militer Kolombia yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA).

AS menuduh Quijano memainkan peran sentral dalam merekrut dan mengerahkan pasukan ke Sudan. Istrinya, Claudia Viviana Oliveros Forero, juga turut masuk dalam daftar sanksi.

Sementara itu, Mateo Andrés Duque Botero menjadi target selanjutnya. Ia mengelola perusahaan yang mengurus aliran dana haram tersebut. Tercatat, perusahaannya melakukan transfer jutaan dolar AS untuk membiayai operasi ini pada tahun 2024 dan 2025.

Baca Juga :  Hukuman Penjara Mulai Digeser, Ini 968 Lokasi Pidana Kerja Sosial Versi Kemenimipas

“Amerika Serikat kembali menyerukan kepada aktor eksternal untuk berhenti memberikan dukungan finansial dan militer kepada pihak yang bertikai,” tegas pernyataan Departemen Keuangan AS.

Langkah Penting Tapi Belum Cukup

Analis memberikan reaksi beragam atas keputusan ini. Elizabeth Dickinson dari International Crisis Group menyambut baik langkah tersebut. Ia menyebutnya sebagai tonggak penting untuk mengungkap siapa yang bermain di balik layar.

Akan tetapi, Sean McFate, pakar tentara bayaran, memberikan peringatan realistis. Menurutnya, sanksi saja tidak akan cukup mematikan industri ini.

Bisnis perang adalah ekonomi ilegal yang berpusat di Dubai dan relatif kebal sanksi. Oleh karena itu, McFate memprediksi dunia masih akan melihat lebih banyak tentara bayaran Kolombia di medan konflik global. “Perang adalah bisnis,” peringatnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi
Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung
Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik
Inggris Pertimbangkan UU untuk Hapus Andrew Mountbatten-Windsor dari Garis Suksesi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:57 WIB

ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:37 WIB

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:52 WIB

Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:39 WIB

Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Berita Terbaru

Zelensky sedang memberikan pidato pada konferensi beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:37 WIB