Bareskrim Kejar Jaringan Impor Sianida Ilegal, Diduga Berasal dari China dan Korea

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas Bareskrim Polri menunjukkan ratusan drum sodium cyanide (sianida) yang disita dalam pengungkapan jaringan perdagangan sianida ilegal senilai Rp769,9 miliar yang diduga memasok tambang emas tanpa izin di Indonesia. (Posnews/Ist)

Petugas Bareskrim Polri menunjukkan ratusan drum sodium cyanide (sianida) yang disita dalam pengungkapan jaringan perdagangan sianida ilegal senilai Rp769,9 miliar yang diduga memasok tambang emas tanpa izin di Indonesia. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri membongkar praktik perdagangan ilegal sodium cyanide (sianida) yang diduga memasok tambang emas tanpa izin (PETI) di berbagai daerah.

Pengungkapan ini mengungkap dugaan jaringan distribusi bahan kimia berbahaya yang beroperasi secara terstruktur sejak 2024.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan penyelidikan bermula dari informasi intelijen mengenai peredaran sianida tanpa izin.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah didalami, penyidik menemukan pola distribusi yang menyasar sektor pertambangan ilegal.

“Dari hasil penyelidikan, kami menemukan adanya kegiatan perdagangan sodium cyanide tanpa izin resmi dan didistribusikan ke sektor pertambangan ilegal,” ujar Ade Safri, Selasa (30/6/2026).

Sita 362 Drum Sianida

Bareskrim menggerebek tiga lokasi di Jabodetabek yang diduga menjadi gudang penyimpanan sekaligus pusat distribusi. Dari operasi tersebut, polisi menyita 362 drum sianida atau sekitar 18,1 ton.

Baca Juga :  BMKG Peringatkan Warga Jabodetabek, Siang Berpotensi Hujan Petir dan Angin Kencang

Sebanyak 54 drum ditemukan di Pondok Gede, Bekasi, 160 drum di Kalideres, Jakarta Barat, dan 148 drum di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Seluruh barang bukti kemudian dipindahkan ke gudang penyimpanan di Kosambi, Tangerang, demi keamanan dan kelancaran penyidikan.

Nilai Perdagangan Capai Rp769,9 Miliar

Penyidik menduga bisnis ilegal ini berlangsung sejak 2024 hingga 2026. Selama periode tersebut, pelaku diduga mengedarkan sekitar 840,1 ton sianida atau setara 16.802 drum dengan nilai ekonomi mencapai Rp769,9 miliar.

Menurut Ade Safri, aktivitas tersebut menunjukkan pola yang terorganisasi, bukan tindakan sesaat.

“Ini bukan kegiatan insidental. Ada indikasi kuat praktik ini dilakukan secara terorganisir dan berkelanjutan,” katanya.

Bareskrim menetapkan dua tersangka berinisial S alias U dan DW. Keduanya diduga memperdagangkan sianida tanpa izin kepada penambang emas ilegal di Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Kedua tersangka dijerat Undang-Undang Perdagangan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara serta denda hingga Rp10 miliar.

Baca Juga :  Kapal Selam Domestik Taiwan Narwhal Sukses Uji Tembak Torpedo

Bahaya bagi Lingkungan

Polri menegaskan penyalahgunaan sianida tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat.

Bahan kimia tersebut sangat beracun dan berpotensi mencemari tanah maupun sumber air jika digunakan tanpa standar keselamatan.

Selain itu, distribusi sianida ilegal turut memperkuat praktik pertambangan tanpa izin yang merugikan negara dan merusak lingkungan.

Kejar Jaringan hingga Luar Negeri

Bareskrim kini mengembangkan penyidikan dengan menelusuri aliran dana menggunakan pendekatan follow the money.

Penyidik berkoordinasi dengan PPATK untuk mengungkap jaringan yang diduga melibatkan jalur impor dari China dan Korea.

“Penyidikan akan kami kembangkan hingga ke akar jaringan, termasuk pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari distribusi ilegal ini,” tegas Ade Safri.

Polri juga menggandeng kementerian dan lembaga terkait guna memperketat pengawasan impor serta distribusi bahan kimia berbahaya.

Bareskrim menegaskan pengungkapan ini menjadi bukti komitmen Polri memberantas perdagangan bahan kimia berbahaya yang menopang aktivitas tambang ilegal.

Penyidik memastikan akan memburu seluruh pihak yang terlibat agar praktik serupa tidak kembali terjadi. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemendag Turunkan Harga Patokan Ekspor Emas hingga 5,36 Persen Mulai 1 Juli 2026
KPK Sita Bukti Transaksi Keuangan dalam OTT Kuansing, Bupati dan Sekda Diperiksa
Cuaca Jabodetabek Rabu, 1 Juli 2026: Cerah Berawan Pagi, Hujan Berpotensi Sore Hari
Dari Kampung ke Dunia, Argotelo Buktikan Singkong Indonesia Mendunia
Vonis Nadiem Makarim: 10 Tahun Penjara dan Rekomendasi Usut Dugaan TPPU
Empat Perwira Resmi Jadi Komjen, Kapolri Promosikan 87 Pati Polri
Selat Hormuz: Iran dan Amerika Serikat Saling Serang
11 Orang Tewas Setelah Pesawat Jatuh Dekat Pemukiman

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:48 WIB

Kemendag Turunkan Harga Patokan Ekspor Emas hingga 5,36 Persen Mulai 1 Juli 2026

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:28 WIB

Bareskrim Kejar Jaringan Impor Sianida Ilegal, Diduga Berasal dari China dan Korea

Rabu, 1 Juli 2026 - 04:11 WIB

KPK Sita Bukti Transaksi Keuangan dalam OTT Kuansing, Bupati dan Sekda Diperiksa

Rabu, 1 Juli 2026 - 03:54 WIB

Cuaca Jabodetabek Rabu, 1 Juli 2026: Cerah Berawan Pagi, Hujan Berpotensi Sore Hari

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:45 WIB

Vonis Nadiem Makarim: 10 Tahun Penjara dan Rekomendasi Usut Dugaan TPPU

Berita Terbaru

Haaland sang pembuat sejarah. Gol dramatis Erling Haaland pada masa krusial membawa Norwegia lolos ke babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kali. Dok: Istimewa.

SPORT

Gol Telat Erling Haaland Singkirkan Pantai Gading 2-1

Rabu, 1 Jul 2026 - 05:34 WIB