STOCKHOLM, POSNEWS.CO.ID – Selama abad terakhir, dunia memandang Bangsa Viking dengan kacamata yang terus berubah. Terkadang sejarah mencerca mereka sebagai penakluk yang keji, namun di lain waktu, dunia meromantisasi mereka sebagai petualang yang gagah berani.
Jejak mereka tertanam dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Bahasa Inggris berutang banyak pada Bahasa Norse Kuno. Kata-kata benda seperti Hell (neraka), husband (suami), law (hukum), dan window (jendela), serta kata kerja seperti take (ambil) dan want (ingin), semuanya berasal dari mereka.
Namun, asal-usul kata “Viking” itu sendiri masih kabur. Apakah itu berarti “bajak laut Skandinavia”? Ataukah merujuk pada “teluk kecil” (inlet), atau mungkin tempat bernama Vik di Norwegia modern? Keraguan ini menyiratkan satu hal: kebingungan sejarah yang mendalam.
Secara umum, Zaman Viking bertahan dari akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-11. Mereka berlayar ke Inggris pada 793 M untuk menyerbu biara pesisir. Namun, jangkauan mereka jauh lebih luas dari sekadar penjarahan.
Viking sebagai Alat Politik Nasionalisme
Interpretasi tentang Viking sering kali bergantung pada siapa yang bercerita dan situasi politik saat itu. Pada abad ke-19, sejarawan di Denmark, Norwegia, dan Swedia “membangun” ulang Zaman Viking mereka sendiri demi alasan nasionalistik. Saat itu, ketiga negara sedang dalam krisis.
Denmark, yang baru saja kalah perang dan menyerahkan wilayah ke Jerman, membutuhkan suntikan moral. Norwegia, yang baru merdeka dari Swedia pada 1905 namun rentan secara ekonomi, berusaha menciptakan identitas terpisah. Sejarawan Norwegia, Gustav Storm, bersikeras bahwa nenek moyang merekalah—bukan Swedia atau Denmark—yang mengoloni Islandia, Greenland, dan Vinland (Kanada).
Sementara itu, Swedia yang telah kehilangan Norwegia dan Finlandia, berupaya memoles citranya. Mereka menggunakan temuan arkeologi mewah untuk memamerkan kejayaan masa lalu Viking mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemikir abad ke-19 juga terpengaruh oleh Herbert Spencer dan konsep “survival of the fittest”. Transisi Viking dari politeisme (banyak dewa) ke Kristen dianggap sebagai kemajuan moral. Padahal, sejarawan modern kini melihat bahwa Viking “kafir” dan orang Eropa Kristen pada masa itu sebenarnya sama-sama brutal.
Misteri Rusia dan Perang Dingin
Perdebatan paling panas mengenai Viking terjadi di timur. Selama empat dekade terakhir, interpretasi mengenai pengaruh Viking di Rusia berubah-ubah secara liar.
Sebagian besar sarjana non-Rusia percaya bahwa Viking menciptakan sebuah kerajaan di Rusia barat dan Ukraina modern yang dipimpin oleh seorang pria bernama Rurik pada tahun 862 M. Buktinya kuat: batu-batu ukir di Swedia menggambarkan perjalanan ke timur, dan bahasa Rusia serta Ukraina memiliki banyak kata serapan dari Norse Kuno. Nama populer seperti Igor dan Olga pun berakar dari sana.
Namun, selama era Uni Soviet, narasi ini berubah total. Demi kepentingan Perang Dingin, Soviet menekankan asal-usul Slavia untuk membedakan diri dari “musuh” Swedia yang Viking.
Kini, sains modern mulai menjernihkan kabut politik tersebut. Studi genetika terbaru mendukung teori kolonisasi Norse: DNA penduduk Rusia barat ternyata konsisten dengan penduduk wilayah utara Stockholm di Swedia. Banyak orang Rusia modern kini menganggap diri mereka sebagai hibrida.
Sains Menulis Ulang Legenda
Sejarawan masa kini memiliki alat yang jauh lebih canggih daripada sekadar menerjemahkan hikayat (sagas) yang ditulis 300 tahun setelah kejadian.
Linguistik, numismatik (ilmu mata uang), dendrokronologi (penanggalan lingkar pohon), hingga analisis DNA dan kristalografi es kini menjadi senjata utama untuk mengungkap kebenaran. Meskipun demikian, sejarawan tetaplah “anak zaman mereka sendiri”, yang pandangannya tak bisa lepas sepenuhnya dari konteks masa kini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















