NINGXIA, POSNEWS.CO.ID – Bagi mata awam, gurun pasir tampak sunyi dan statis. Namun, bagi para ilmuwan dan penduduk yang tinggal di tepiannya, bukit pasir adalah raksasa tidur yang sedang bergerak. Masalah utama yang mereka hadapi adalah “penyerobotan” (encroachment): bukit-bukit ini merayap pasti, didorong oleh angin, mengancam akan menelan gedung dan tanaman pangan di Afrika, Timur Tengah, dan China.
Program Lingkungan PBB (UNEP) bahkan telah menjadikan pencegahan bukit pasir yang melahap kota sebagai prioritas global. Di sisi lain, habitat keras ini menyediakan ceruk bagi tanaman dan hewan langka yang telah beradaptasi secara khusus.
Bentuk yang Menipu Mata
Pasir sendiri biasanya terdiri dari mineral keras seperti kuarsa. Warna kuning atau kemerahan menandakan kehadiran zat besi, sementara pasir putih adalah gipsum murni. Menariknya, angin memahat material ini menjadi berbagai bentuk geometris raksasa.
Bentuk paling umum di Bumi (dan Mars) adalah sabit (crescentic). Gundukan ini melebar dan terbentuk di bawah tiupan angin satu arah yang konsisten. Faktanya, jenis ini bergerak paling cepat. Di Provinsi Ningxia, China, sekelompok bukit pasir tercatat berpindah lebih dari 100 meter per tahun.
Berbeda halnya dengan bukit pasir bintang (star dunes). Bentuk ini tumbuh ke atas, bukan melebar, menyerupai piramida dengan lengan-lengan yang memancar dari pusat. Di Gurun Badain Jaran, China, bukit bintang menjulang hingga 500 meter, menjadikannya calon bukit pasir tertinggi di Bumi.
Fisika Longsoran Pasir
Bagaimana pasir bisa menumpuk tinggi tanpa runtuh? Jawabannya terletak pada “sudut istirahat” (angle of repose). Angin terus memindahkan pasir ke puncak tumpukan hingga mencapai kemiringan kritis sekitar 30-34 derajat. Saat batas ini terlewati, pasir akan runtuh karena beratnya sendiri hingga mencapai kestabilan kembali.
Siklus berulang ini—pasir merayap naik di sisi yang berangin lalu tergelincir turun di sisi sebaliknya—memungkinkan bukit pasir untuk “berjalan” bermigrasi searah tiupan angin. Jejak geologis dari proses gali-timbun ini bahkan tersimpan sebagai fosil struktur yang disebut cross-bedding.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Misteri Nyanyian Gurun
Fenomena paling memukau dari gurun adalah kemampuannya untuk “bernyanyi”. Bukit pasir tertentu dapat menghasilkan suara hingga 115 desibel—setara konser rock—dengan nada-nada spesifik.
Gunung Pasir di Nevada bernyanyi di nada C rendah, sementara bukit di Maroko melolong di nada G kres. Awalnya, ilmuwan mengira longsoran pasir membuat seluruh bukit beresonansi seperti biola raksasa.
Namun, riset pertengahan 2000-an mematahkan teori itu. Ilmuwan menemukan bahwa suara tersebut murni akibat tumbukan antarbutiran pasir yang tersinkronisasi. Getaran ini membuat lapisan luar bukit bergetar layaknya kerucut pengeras suara (loudspeaker). Nada suara yang keluar sangat bergantung pada ukuran butiran pasir itu sendiri.
Simulasi Masa Depan
Di laboratorium, para peneliti kini menggunakan simulasi komputer canggih untuk mereproduksi pola dan dinamika gurun. Ternyata, efisiensi transportasi pasir meningkat secara bertahap melalui evolusi bentuk bukit.
Temuan ini sangat krusial. Dengan memahami “zona bayangan”—wilayah di mana pasir membuang peluang untuk bergerak—ilmuwan dapat membangun model prediksi yang lebih akurat. Tujuannya jelas: mengetahui kapan raksasa pasir itu akan tiba di depan pintu rumah kita, dan bagaimana cara menghentikannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















