BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) menghadapi hari yang sibuk pada Kamis (22/1). Dalam kesempatan tersebut, Juru bicara He Yongqian menyampaikan serangkaian pernyataan tegas yang menyoroti dinamika dagang China dengan tiga kekuatan ekonomi utama: Uni Eropa, Jepang, dan Kanada.
Sorotan utama tertuju pada Eropa. Beijing segera menyatakan “keprihatinan kuat” terhadap aturan baru Uni Eropa. Pasalnya, dokumen kebijakan blok tersebut mengharuskan negara-negara anggota untuk mengecualikan apa yang mereka sebut sebagai “pemasok berisiko tinggi” dari 18 sektor kunci, termasuk energi, transportasi, dan layanan TIK.
He Yongqian tidak menahan diri. Bahkan, ia menyebut pelabelan perusahaan China sebagai berisiko tinggi tanpa bukti nyata sebagai tindakan diskriminatif.
“Perusahaan China telah lama beroperasi di Eropa dengan mematuhi hukum setempat dan berkontribusi pada pengembangan industri telekomunikasi digital wilayah tersebut,” tegas He. Lebih lanjut, ia menuding langkah UE ini mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan.
Tegas pada Jepang: “Demi Non-Proliferasi”
Selanjutnya, beralih ke tetangga timurnya, China mengambil sikap defensif namun tegas. Saat menanggapi pertanyaan mengenai Jepang, He membela kebijakan kontrol ekspor China terhadap barang-barang penggunaan ganda (dual-use items). Barang-barang ini memiliki potensi penggunaan ganda, baik untuk tujuan sipil maupun militer.
He menegaskan bahwa China menerapkan kontrol ini sejalan dengan kewajiban non-proliferasi internasional dan hukum domestik. Oleh karena itu, pemerintah akan menyetujui aplikasi ekspor yang jelas-jelas memenuhi persyaratan penggunaan sipil demi menjaga stabilitas rantai pasok global.
Namun, Beijing menarik garis merah yang jelas. “Melarang ekspor ke pengguna militer Jepang atau untuk tujuan militer adalah sepenuhnya sah, masuk akal, dan sesuai hukum,” tegas juru bicara tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Angin Segar dari Kanada: Kuota EV 49.000 Unit
Di sisi lain, di tengah ketegangan dengan Eropa dan Jepang, hubungan dagang dengan Kanada justru menunjukkan progres signifikan. He Yongqian mengumumkan terobosan dalam negosiasi kendaraan listrik (EV).
Kanada sepakat memberikan China kuota tahunan sebesar 49.000 kendaraan listrik. Nantinya, bea cukai akan mengenakan tarif most-favored-nation (MFN) sebesar 6,1 persen untuk kendaraan dalam kuota ini. Akibatnya, kesepakatan ini menggantikan ancaman biaya tambahan (surcharge) 100 persen yang sebelumnya membayangi.
Lebih lanjut, kedua negara berencana memperluas kuota ini secara bertahap. Selain itu, terkait isu otomotif, China juga berkomitmen untuk terus mengatasi masalah perdagangan biji rapa (rapeseed) dengan Kanada melalui dialog dan konsultasi dalam kerangka kerja yang berbasis aturan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















