PUCALLPA, PERU – Sebuah jalan raya utama di pedalaman Peru kini menyimpan cerita ironis. Awalnya, dana bantuan Amerika Serikat membangun jalan ini sebagai program insentif bagi warga lokal. Pemerintah berharap infrastruktur ini membantu petani beralih dari panen koka—bahan baku kokain—ke alternatif ekonomi yang legal.
Namun, empat tahun kemudian, jalan tersebut berubah menjadi jalur pengisap sumber daya global. Truk-truk besar mengangkut kayu dari hutan hujan Peru menuju pelabuhan untuk dikirim ke China. Pabrik-pabrik di Shanghai dan Beijing akan menyulap kayu tersebut menjadi lantai parket mewah. Sebagian besar produk akhirnya juga akan memenuhi pasar furnitur di Amerika Utara dan Eropa.
Shihuahuaco: Pohon Penjaga Ekosistem
Di sepanjang jalan yang berlumpur, terbentang hutan tua yang warga sebut sebagai Monte Alto. Di sini, para petani lokal memanfaatkan sinar matahari yang masuk lewat kanopi hutan untuk menanam singkong, ubi jalar, dan pisang. Hasil panen ini sangat krusial untuk membiayai kebutuhan dasar seperti sekolah dan rumah sakit.
Namun, fokus utama riset ekologi saat ini tertuju pada spesies Dipteryx atau Shihuahuaco. Dalam perdagangan internasional, kayu ini terkenal dengan nama Cumaru. Para ekolog menyebutnya sebagai pohon “keystone” atau spesies kunci. Biji besarnya menjadi sumber pangan bagi herbivora hutan saat musim kemarau. Selain itu, lubang di batangnya menjadi tempat bersarang yang aman bagi burung beo dan macaw.
Perjalanan Menuju Esperanza
Penyelidikan berlanjut ke kota penggergajian kayu di Pucallpa. Perjalanan dua hari menembus hutan berakhir di sebuah komunitas bernama Esperanza atau “Harapan”. Di tengah lahan pertanian tradisional (Chacra), terdapat sebuah kamp penebangan kayu sementara.
Keluarga Medinas di sana menjalankan bisnis yang unik. Mereka mengelola perlindungan bagi burung, babi hutan, dan primata yang selamat dari area penebangan. Meskipun mereka hidup dari hasil hutan, kepedulian terhadap satwa tetap menjadi prioritas. Dari titik ini, jalur penebangan meluas hingga ke dalam hutan primer yang akan segera tumbang.
Krisis Regenerasi di Hutan Primer
Kondisi pohon-pohon dewasa di hutan ini sungguh luar biasa. Ketinggiannya mencapai 50 meter dengan diameter batang mencapai 1,3 meter. Akar banirnya yang raksasa menyebar hingga lima meter di sekeliling batang utama. Ironisnya, hampir semua pohon raksasa ini masuk dalam daftar panen untuk pelayaran jauh melintasi Pasifik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Data lapangan menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Peneliti menemukan sekitar 250 bibit dan anakan pohon, namun hanya ada dua pohon muda yang berhasil mencapai kanopi. Minimnya jumlah pohon muda yang tumbuh menjadi dewasa menandakan krisis regenerasi. Tanpa intervensi, hutan Amazon berisiko kehilangan pohon pelindung ini selamanya akibat eksploitasi yang tidak seimbang dengan pertumbuhan alaminya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















