BANGKOK/KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Pertempuran di perbatasan Thailand dan Kamboja mencapai titik didih yang mengerikan. Data terbaru per 21 Desember 2025 menunjukkan lonjakan korban jiwa yang signifikan.
Tercatat, konflik ini telah merenggut nyawa 53 warga sipil dari kedua belah pihak. Kementerian Dalam Negeri Kamboja melaporkan 19 warganya tewas dan 79 lainnya terluka. Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand mengonfirmasi kematian 34 warga sipilnya.
Tak hanya itu, militer Thailand juga menderita kerugian personel. Pusat Pers Gabungan melaporkan 21 tentara Thailand gugur dalam tugas. Akibatnya, total korban tewas kini menembus angka 74 jiwa.
Dampak kemanusiaan kian tak terkendali. Lebih dari 510.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri dari hujan peluru.
Jet Tempur F-16 Hancurkan Kasino
Situasi di lapangan masih sangat tegang. Pasukan Kamboja terus memborbardir wilayah perbatasan di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, pada Minggu sore.
Thailand merespons dengan kekuatan penuh. Lantas, mereka mengerahkan jet tempur F-16 untuk menghancurkan depot senjata Kamboja. Depot tersebut tersembunyi di dalam sebuah kasino yang terbengkalai.
Selain itu, serangan udara juga menargetkan jalur suplai senjata lawan. Pasukan darat Thailand kini berhasil mengambil kendali awal atas Highland 350, sebuah dataran tinggi strategis di wilayah sengketa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, pasukan Kamboja melancarkan serangan balik menggunakan drone dan peluncur roket. Juru bicara Kamboja, Meas Sopheakdet, menuding serangan Thailand mengancam situs warisan budaya dunia.
ASEAN Akhirnya Bergerak
Di tengah eskalasi ini, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akhirnya mengambil langkah konkret. Sebuah Pertemuan Luar Biasa Menteri Luar Negeri ASEAN akan berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 22 Desember.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menaruh harapan besar pada pertemuan ini. Sebagai Ketua ASEAN, Malaysia ingin memajukan dialog dan mengimplementasikan konsensus de-eskalasi.
Kabar baiknya, kedua negara yang bertikai telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Forum ini menjadi ujian krusial bagi relevansi ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.
China Intensifkan Diplomasi Ulang-Alik
Sementara itu, China terus memainkan peran mediator aktif. Utusan Khusus Deng Xijun telah terbang ke kedua negara untuk melakukan “diplomasi ulang-alik” (shuttle mediation).
Menteri Luar Negeri Wang Yi juga telah menelepon mitranya di Bangkok dan Phnom Penh. Hasilnya, kedua belah pihak menyatakan keinginan untuk meredakan ketegangan dan mencapai gencatan senjata.
Kini, nasib jutaan warga di perbatasan bergantung pada meja perundingan di Kuala Lumpur. Jika diplomasi gagal lagi, perang terbuka yang lebih luas di jantung Asia Tenggara mungkin tak terelakkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















