SEOUL, POSNEWS.CO.ID β Korea Utara kembali unjuk kekuatan militer. Mereka menembakkan sejumlah rudal ke arah perairan di lepas pantai barat pada hari Selasa. Militer Korea Selatan segera mengonfirmasi peluncuran tersebut.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan merilis pernyataan resmi mengenai insiden ini. Rudal-rudal tersebut meluncur dari Chongju, Provinsi Pyongan Utara, sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Oleh karena itu, militer Seoul kini meningkatkan status kewaspadaan mereka di wilayah perbatasan.
Eskalasi Berulang: Dari April hingga Mei
Peluncuran ini menjadi aktivitas rudal pertama sejak 19 April lalu. Pada saat itu, Pyongyang menguji coba rudal balistik jarak pendek yang mereka klaim dilengkapi dengan bom klaster.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Korea Utara juga telah menguji coba hulu ledak bom klaster baru pada rudal balistik awal April lalu. Bahkan, mereka sempat menguji senjata elektromagnetik. Analis menilai langkah ini sebagai upaya Pyongyang untuk memamerkan kapasitas mereka dalam menghadapi perang modern.
Ambisi Nuklir yang Tidak Terhentikan
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mempertegas posisi negaranya pada Maret lalu. Ia menyatakan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir kini bersifat permanen dan tidak dapat diubah. Maka dari itu, Kim memandang perluasan “pencegah nuklir defensif” sebagai komponen esensial bagi keamanan nasional.
Meskipun demikian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap memberlakukan sanksi ketat terhadap program nuklir dan rudal balistik Korea Utara sejak 2006. Namun, Pyongyang terus mempercepat upaya pembangunan arsenal militer di bawah pemerintahan Kim. Langkah ini memicu kecaman keras dari Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat.
Menghadapi Ancaman Regional
Kegiatan militer rutin ini mempertegas tantangan stabilitas di Asia Timur. Singkatnya, Pyongyang terus mengirim sinyal penolakan terhadap tekanan internasional. Mereka memilih untuk fokus pada penguatan pertahanan mandiri sebagai prioritas utama.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini memantau bagaimana Seoul dan Tokyo merespons provokasi terbaru ini. Di tahun 2026 yang penuh gejolak, ketidakpastian di Semenanjung Korea tetap menjadi salah satu tantangan keamanan paling krusial bagi stabilitas kawasan Pasifik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












