Menteri HAM Soroti Tewasnya Pendeta GKI di Intan Jaya, Minta TNI-Polri Kendalikan Personel

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Koops TNI Habema Ungkap Analisis Insiden Tembakan KKB yang Tewaskan Warga Sipil di Sugapa
Jaya. (Posnews/Ist)

Koops TNI Habema Ungkap Analisis Insiden Tembakan KKB yang Tewaskan Warga Sipil di Sugapa Jaya. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta Panglima TNI dan Kapolri memperketat pengendalian terhadap personel yang bertugas di Papua menyusul tewasnya seorang pendeta Gereja Kristen Injili (GKI) dalam insiden penembakan di Kabupaten Intan Jaya.

Pernyataan tersebut disampaikan Pigai di Jakarta, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, rangkaian kekerasan yang terus menelan korban jiwa di Papua harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.

Pigai meminta aparat keamanan menjalankan tugas secara profesional sekaligus mengutamakan perlindungan terhadap warga sipil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan, setiap operasi keamanan harus tetap menghormati hak asasi manusia.

“Penembakan pendeta di Intan Jaya dan Papua, kita minta Panglima TNI dan Kapolri agar mengendalikan anggotanya yang bertugas di Papua,” tegas Pigai.

Ia menilai perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban di tengah konflik.

Baca Juga :  Kemendag Kawal Ekspor 360 Ribu Porsi Makanan Siap Saji untuk Jamaah Haji di Arab Saudi

Sementara itu, aparat masih mendalami insiden penembakan tersebut setelah muncul klaim dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

Selain itu, Pigai menyoroti masih tingginya korban sipil di Papua. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai hal biasa karena menyangkut hak hidup setiap warga negara.

“Hampir setiap hari ada kematian warga sipil tidak berdosa,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan negara berkewajiban menjamin keamanan masyarakat sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan di Papua dengan mengedepankan pendekatan hak asasi manusia.

Minta Evaluasi Penempatan Personel

Pigai mengungkapkan Kementerian HAM menerima laporan langsung dari Bupati Intan Jaya terkait penemuan jenazah korban yang sebelumnya disebut sempat ditahan TNI pada 29 Juni 2026.

Berdasarkan laporan itu, korban ditemukan pada 1 Juli 2026 dengan lima luka tembak, luka sayatan, dan kehilangan satu telinga.

Pernyataan tersebut merupakan keterangan Menteri HAM dan belum disertai hasil penyelidikan resmi aparat penegak hukum.

Baca Juga :  Afrika Selatan Kerahkan Pasukan ke Cape Town Lawan Teror Geng Kriminal

Atas dasar itu, Pigai meminta Mabes TNI dan Polri mengevaluasi penempatan personel di Papua serta mengusut dugaan pelanggaran secara terbuka.

“Saya sekali lagi minta Mabes TNI dan Polri mengevaluasi deployment militer di Papua. Panglima TNI dan Kapolri harap bisa mengendalikan anggotanya dan melakukan proses hukum secara transparan,” tegasnya.

Khawatir Memicu Perlawanan Massal

Pigai juga mengaku khawatir meningkatnya korban jiwa di Papua dapat memicu gejolak yang lebih luas apabila tidak segera ditangani secara bijaksana.

Ia mengaku menerima laporan dari Bupati Intan Jaya mengenai meningkatnya keresahan masyarakat setelah penemuan jenazah korban.

Menurut Pigai, situasi tersebut berpotensi memicu reaksi yang lebih besar apabila penegakan hukum dan perlindungan warga sipil tidak berjalan maksimal.

Karena itu, Pigai mendorong sinergi semua pihak untuk menjaga Papua tetap aman dan kondusif.

Kementerian HAM terus memantau situasi di Papua dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani setiap dugaan pelanggaran HAM sesuai hukum.**

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alarm Laut Indonesia! 601 Operasi SAR, 239 Orang Meninggal
Eks Pejabat Pajak Ditahan KPK, Uang Sponsorship Fashion Anak Terseret
Korban Gempa Flores Dapat Bantuan Rumah hingga Rp30 Juta, Ini Syaratnya
Pigai Ingin HAM Jadi Pelajaran Wajib, Bukan Sekadar Bab
Kabar Gembira Driver Ojol, Perpres Perlindungan Ditargetkan Terbit Awal September
Uang PT BKS Mengalir ke Bebizie, KPK: Bukan Bayaran Manggung
Jelang Demo BEM UI, 21 Orang Diciduk Bawa Molotov dan Petasan Bukan Mahasiswa
Tragedi Gempa NTT, 1.245 Orang Jadi Korban dan 27.700 Warga Mengungsi

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:32 WIB

Alarm Laut Indonesia! 601 Operasi SAR, 239 Orang Meninggal

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:23 WIB

Eks Pejabat Pajak Ditahan KPK, Uang Sponsorship Fashion Anak Terseret

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:45 WIB

Korban Gempa Flores Dapat Bantuan Rumah hingga Rp30 Juta, Ini Syaratnya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:58 WIB

Pigai Ingin HAM Jadi Pelajaran Wajib, Bukan Sekadar Bab

Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Kabar Gembira Driver Ojol, Perpres Perlindungan Ditargetkan Terbit Awal September

Berita Terbaru

Siswa menggunakan masker saat beraktivitas di tengah ancaman kabut asap karhutla di Singkawang, Kalimantan Barat.

DAERAH

Asap Karhutla Kepung Singkawang, Masker Bukan Solusi Utama

Jumat, 21 Agu 2026 - 07:59 WIB

Kebocoran video gameplay dan peta Leonida dari GTA 6 memicu tindakan takedown DMCA cepat dari Rockstar Games menjelang peluncuran trailer resmi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kebocoran Gameplay dan Peta GTA 6 Picu Langkah Hukum

Jumat, 21 Agu 2026 - 07:00 WIB

Bareskrim Polri memburu Yuwanky, bos Planet Batam yang masuk DPO kasus dugaan peredaran narkoba. (Posnews/Bareskrim)

JABODETABEK

Basri Sudah Ditangkap, Kini Bareskrim Kejar Yuwanky ke Singapura

Jumat, 21 Agu 2026 - 06:35 WIB

Microsoft resmi meluncurkan Surface Laptop 8 berbasis ARM dengan peningkat daya tahan baterai, namun mematok harga lebih mahal akibat kenaikan biaya komponen memori. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Microsoft Rilis Surface Laptop 8 dengan Baterai Lebih Awet

Jumat, 21 Agu 2026 - 06:16 WIB