Mimpi Punya Rumah: Utopia atau Realita bagi Milenial dan Gen Z?

Rabu, 19 November 2025 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kesenjangan antara gaji dan harga properti membuat mimpi punya rumah makin sulit bagi anak muda. Apakah menyewa selamanya menjadi solusi masa depan? Dok : Istimewa.

Ilustrasi, Kesenjangan antara gaji dan harga properti membuat mimpi punya rumah makin sulit bagi anak muda. Apakah menyewa selamanya menjadi solusi masa depan? Dok : Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Generasi muda kini menghadapi tembok tebal dalam mewujudkan mimpi klasik orang tua mereka. Memiliki rumah pribadi rasanya semakin jauh dari jangkauan. Statistik terbaru menunjukkan tren penurunan angka kepemilikan hunian di kalangan usia produktif.

Kecemasan ini bukan tanpa alasan. Milenial dan Gen Z harus bertarung di arena ekonomi yang jauh lebih ganas ketimbang era sebelumnya. Pertanyaan besar pun muncul. Apakah rumah hanya sekadar utopia bagi generasi ini?

Jurang Menganga: Gaji vs Harga Properti

Masalah utamanya terletak pada matematika sederhana yang kejam. Kita sering mendengar istilah housing affordability crisis atau krisis keterjangkauan hunian. Fenomena ini nyata adanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kenaikan harga properti melesat bak roket setiap tahunnya. Sebaliknya, kenaikan upah minimum (UMR) merangkak naik bak siput. Gap atau kesenjangan ini kian melebar seiring berjalannya waktu.

Dulu, seseorang bisa menabung gaji selama lima tahun untuk membayar uang muka. Kini, mereka mungkin butuh satu dekade hanya untuk mengejar Down Payment (DP). Inflasi properti berlari jauh lebih cepat daripada kemampuan menabung rata-rata pekerja muda. Akibatnya, daya beli mereka tergerus habis sebelum sempat memulai cicilan.

Baca Juga :  Hari Ke-8 Longsor Cisarua, 70 Jenazah Ditemukan - Pencarian 10 Korban Terus Dikebut

Mitos “Latte Factor” dan Beban Struktural

Banyak penasihat keuangan dari generasi tua sering menyalahkan gaya hidup. Mereka menuding kebiasaan minum kopi mahal atau latte factor sebagai biang kerok. Narasi ini menyebut anak muda boros sehingga tidak bisa beli rumah.

Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Biaya hidup struktural sebenarnya menjadi beban terbesar. Biaya sewa tempat tinggal, transportasi, dan kuota internet menyedot porsi terbesar pendapatan bulanan.

Menghemat uang kopi sebesar Rp50.000 sehari tidak akan serta merta menutup harga rumah miliaran rupiah. Kita perlu berhenti menyalahkan gaya hidup receh. Kita harus mulai melihat masalah sistemik yang sebenarnya. Beban biaya pendidikan dan kesehatan yang meroket juga turut memperparah situasi ini.

Pilihan Sulit: Sewa Selamanya atau Tua di Jalan?

Kondisi ini memaksa anak muda mengambil pilihan-pilihan sulit. Sebagian besar akhirnya memilih tren renting forever atau menyewa selamanya. Mereka memprioritaskan fleksibilitas dan akses lokasi kerja strategis.

Baca Juga :  Menkomdigi Larang Thrifting di Medsos, Pemerintah Gaspol Tertibkan Pakaian Bekas Ilegal

Kelompok ini enggan terikat utang KPR puluhan tahun. Namun, pilihan ini berarti mereka tidak memiliki aset properti di hari tua.

Sebagian lainnya memilih jalan kompromi. Mereka membeli rumah di pinggiran kota atau kawasan suburban. Harga di sana memang lebih masuk akal.

Akan tetapi, mereka harus membayar harga lain yang tak kalah mahal. Waktu mereka habis di jalan. Kemacetan dan biaya transportasi (commute) menjadi makanan sehari-hari. Kualitas hidup mereka menurun karena kelelahan fisik dan mental akibat perjalanan jauh.

Mendefinisikan Ulang Kesuksesan

Pada akhirnya, kita mungkin perlu merenungkan kembali standar kesuksesan. Masyarakat lama menganggap kepemilikan sertifikat tanah sebagai puncak pencapaian. Namun, zaman telah berubah drastis.

Generasi muda kini mulai mencari bentuk keamanan finansial lain. Mereka berinvestasi pada saham, obligasi, atau aset digital. Rumah mungkin bukan lagi satu-satunya tujuan akhir.

Memiliki tempat berteduh memang kebutuhan dasar. Namun, memaksakan diri membeli properti di tengah kondisi pasar yang tidak rasional justru bisa menjadi bumerang finansial. Kita berhak menentukan definisi sukses kita sendiri, dengan atau tanpa kepemilikan rumah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan rudal dan drone di Marib serta Hadramaut yang menewaskan puluhan prajurit pemerintah Yaman. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agu 2026 - 11:07 WIB

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB