Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik

Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Transformasi pertahanan Jepang. PM Sanae Takaichi berkomitmen untuk merombak kebijakan militer pasca-perang guna menghadapi apa yang ia sebut sebagai

Transformasi pertahanan Jepang. PM Sanae Takaichi berkomitmen untuk merombak kebijakan militer pasca-perang guna menghadapi apa yang ia sebut sebagai "tekanan Tiongkok" yang semakin meningkat di kawasan Asia-Pasifik. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Sanae Takaichi secara resmi mengumumkan rencana untuk mengubah haluan kebijakan keamanan nasional Jepang. Dalam pidato kebijakan pertamanya di hadapan parlemen, ia menegaskan bahwa Jepang tidak lagi bisa hanya terpaku pada kebijakan militer defensif.

Takaichi menggunakan isu “tekanan Tiongkok yang meningkat” sebagai alasan utama di balik langkah berani ini. Meskipun demikian, ia tetap mengakui Tiongkok sebagai tetangga yang penting. Ia mengeklaim bahwa membangun hubungan yang stabil dengan Beijing tetap menjadi prioritas pemerintahannya, walau realita di lapangan menunjukkan eskalasi ketegangan yang nyata.

Revisi Dokumen Keamanan dan Anggaran 2 Persen

Takaichi berkomitmen untuk merevisi tiga dokumen keamanan nasional tahun ini dengan strategi pertahanan baru. Dokumen-dokumen ini sebelumnya telah mengalami perubahan signifikan sejak era Shinzo Abe pada 2013. Kemudian, pemerintahan Kishida melanjutkannya pada 2022.

Baca Juga :  Iran Membara: Mahasiswa dan Pedagang Turun ke Jalan

Selanjutnya, Jepang berencana meningkatkan pengeluaran pertahanannya hingga 2 persen dari PDB pada tahun 2027. Langkah ini berpotensi menjadikan negara dengan konstitusi pasifis tersebut sebagai salah satu pembelanja militer terbesar di dunia. Selain itu, dokumen tersebut kini memasukkan interpretasi mengenai “kemampuan serangan balik” (counterstrike capabilities) sebagai kunci utama untuk menangkal invasi. Hal ini memungkinkan Jepang memiliki senjata jarak jauh yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Perubahan Aturan Ekspor Senjata Mematikan

Di bawah kepemimpinan Takaichi, Partai Demokrat Liberal (LDP) berencana memperluas aturan ekspor militer Jepang secara drastis. Pemerintah akan menghapus batasan ekspor yang selama ini hanya mengizinkan pengiriman alat non-mematikan.

Bahkan, kebijakan baru ini akan melegalkan penjualan senjata mematikan ke luar negeri. Hal ini mencakup penjualan sistem senjata hasil pengembangan bersama kepada negara-negara di luar mitra proyek asli. Langkah tersebut bertujuan untuk memperkuat basis produksi pertahanan domestik Jepang sekaligus memperluas jangkauan pasar penjualan alutsista di kancah internasional.

Baca Juga :  Beras, Telur, Minyak Goreng Murah di Bazar Polsek Cikarang Utara

Provokasi Diplomatik dan Peringatan Tiongkok

Serangkaian provokasi diplomatik terhadap Tiongkok mewarnai masa jabatan Takaichi selama empat bulan terakhir. Pada November lalu, Takaichi secara kontroversial mengaitkan isu Taiwan dengan “situasi krisis eksistensial” bagi Jepang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, diplomat Tiongkok telah berulang kali membantah pernyataan tersebut. Pasalnya, mereka menganggap pernyataan itu melanggar kedaulatan Tiongkok dan tatanan internasional pasca-perang. Menanggapi rencana terbaru Takaichi, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi memberikan peringatan keras dalam Konferensi Keamanan Munich ke-62 pada 14 Februari lalu. Wang Yi mendesak dunia untuk tetap waspada terhadap upaya remiliterisasi Jepang yang ia nilai sebagai tren yang membahayakan stabilitas kawasan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi
Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung
Inggris Pertimbangkan UU untuk Hapus Andrew Mountbatten-Windsor dari Garis Suksesi
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Mengenaskan, Polisi Selidiki Dugaan Dianiaya Ibu Tiri
Polda Metro Jaya Lengkapi Berkas Kasus Richard Lee, Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan
Eskalasi Meningkat, Ops Damai Cartenz Ringkus DPO Prioritas Homi Heluka di Yahukimo

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:37 WIB

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:52 WIB

Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:39 WIB

Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:33 WIB

Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung

Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:28 WIB

Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik

Berita Terbaru

Zelensky sedang memberikan pidato pada konferensi beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:37 WIB