EVIAN-LES-BAINS, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim menarik mengenai hubungannya dengan para pemimpin dunia baru-baru ini. Sebab, ia menyebut Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebagai penggemar terbesarnya di panggung diplomasi global saat ini.
Trump menyampaikan pernyataan menggelitik tersebut dalam konferensi pers pasca-selesainya Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains. Dalam hal ini, ia memuji kepemimpinan Takaichi karena sukses membawa kemajuan besar bagi perekonomian domestik Jepang.
Sengketa Keamanan Selat Hormuz
Sebelumnya, jurnalis mempertanyakan apakah Trump mendesak sekutu G7 untuk mengirimkan pasukan militer ke perairan Selat Hormuz. Sebab, jalur pelayaran minyak global tersebut menghadapi kelumpuhan total akibat perang bersenjata melawan pihak Iran sejak Februari kemarin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Amerika Serikat dan Iran telah berhasil menyepakati draf perdamaian sementara menjelang pembukaan KTT G7 pekan ini. Dengan demikian, kesepakatan tersebut akan memperpanjang masa gencatan senjata serta membuka kembali lalu lintas Selat Hormuz segera.
Sikap Loyal dan Pujian Sanae Takaichi
Takaichi yang merupakan perdana menteri perempuan pertama Jepang memang memilih sikap yang sangat berbeda dari para sekutu G7 lainnya. Sebab, ia secara konsisten menolak memberikan komentar miring atau kritik tajam terhadap kebijakan perang agresif Donald Trump.
Takaichi bahkan sempat membanjiri Trump dengan pujian luar biasa saat berkunjung ke Gedung Putih pada Maret lalu. Ia menilai Trump sebagai satu-satunya sosok pemimpin yang sanggup menciptakan perdamaian dan kemakmuran di muka bumi.
Sentilan Trump Atas Sikap Pasif Militer Jepang
Meskipun begitu, Trump tidak ragu untuk membongkar keengganan militer Jepang untuk membantu mengamankan wilayah laut selama perang. Ia mengungkapkan bahwa pihak Tokyo menolak mentah-mentah permintaannya untuk mengirimkan kapal perang saat konflik bersenjata berkecamuk.
Akibatnya, Amerika Serikat terpaksa menyelesaikan pertempuran tersebut secara mandiri bersama militer Israel dan dukungan taktis beberapa negara Arab. Namun, Trump mengonfirmasi bahwa Jepang baru menawarkan bantuan pengawasan setelah kedua negara menyepakati draf perdamaian sementara saat ini.
Pada akhirnya, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan bantuan pasukan asing untuk mengamankan Selat Hormuz.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












