PRANCIS, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, meluncurkan kritik tajam terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Jumat. Rubio membantah keras tuduhan bahwa Washington mendesak Kyiv untuk menyerahkan wilayah Donbas demi mendapatkan jaminan keamanan.
Dalam konteks ini, pernyataan Rubio muncul di sela-sela pertemuan Group of Seven (G7) di Prancis. Ia merespon wawancara Zelenskyy sebelumnya yang mengeklaim bahwa jaminan keamanan AS bersifat bersyarat pada pelepasan kontrol atas wilayah timur Ukraina.
Rubio: “Itu Adalah Kebohongan”
Rubio secara eksplisit menyebut klaim Zelenskyy sebagai informasi yang tidak benar. “Itu bohong. Sangat disayangkan ia mengatakan hal tersebut karena ia tahu itu tidak benar,” ujar Rubio kepada wartawan. Oleh karena itu, Amerika Serikat berupaya meluruskan bahwa posisi Washington tetap sebagai mediator yang netral.
Menurut Rubio, Amerika Serikat hanya meneruskan tuntutan resmi dari pihak Rusia kepada Ukraina. Dalam hal ini, Rusia memang bersikeras meminta seluruh wilayah Donbas sebagai pangkalan strategis masa depan. Namun, Rubio menegaskan bahwa AS tidak mengadvokasi atau memaksa Ukraina untuk menerima syarat tersebut.
Dilema Jalur Tengah dan Kedaulatan Ukraina
Washington memandang peran mereka saat ini adalah menjembatani kepentingan kedua belah pihak yang bertikai. Rubio menyatakan bahwa keputusan mengenai wilayah sepenuhnya berada di tangan rakyat Ukraina. “Kami tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menerimanya atau meninggalkannya,” tegas Rubio.
Meskipun demikian, perbedaan persepsi ini menunjukkan adanya keretakan komunikasi antara Gedung Putih dan kantor kepresidenan Ukraina. Pihak Kyiv hingga saat ini menolak memberikan komentar tambahan mengenai diskrepansi informasi tersebut. Akibatnya, spekulasi mengenai masa depan dukungan AS terhadap integritas wilayah Ukraina semakin memanas di forum internasional.
Krisis Patriot dan Prioritas “America First”
Ketegangan diplomatik ini diperparah oleh isu logistik persenjataan. Laporan media menyebutkan bahwa Amerika Serikat mulai memindahkan rudal pertahanan udara Patriot dari Eropa menuju Timur Tengah. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat posisi AS dalam perang melawan Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Zelenskyy memperingatkan bahwa Ukraina “pasti” akan menghadapi kelangkaan sistem pertahanan udara akibat pergeseran fokus Washington. Menanggapi hal tersebut, Rubio menegaskan prinsip “America First” dalam kebijakan pertahanan. “Jika kami membutuhkan sesuatu untuk Amerika, kami akan menyimpannya untuk Amerika terlebih dahulu,” ujar Rubio. Meskipun demikian, ia mengeklaim bahwa secara resmi belum ada pembatalan penjualan senjata yang ditujukan untuk Ukraina hingga saat ini.
Kesimpulan: Menanti Kepastian di Meja Perundingan
Masa depan perang Ukraina kini terjepit di antara tuntutan kaku Moskow dan pergeseran prioritas militer Washington. Pada akhirnya, keberhasilan gencatan senjata akan bergantung pada kemampuan diplomat untuk menemukan titik temu yang tidak mengorbankan kedaulatan Kyiv.
Dengan demikian, dunia kini memantau apakah Amerika Serikat mampu menyeimbangkan peran mereka sebagai polisi dunia di Timur Tengah sembari tetap menjaga komitmen keamanan di Eropa Timur. Krisis informasi antara Rubio dan Zelenskyy ini menjadi sinyal bahwa diplomasi di tahun 2026 berada dalam fase yang sangat rapuh.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















