Serangan Tahun Pertama Trump Lampaui Empat Tahun Biden

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Sebuah survei terbaru mengungkap fakta militer yang mencengangkan pada hari Selasa. Amerika Serikat ternyata melakukan lebih banyak serangan udara dan pesawat nirawak (drone) di luar negeri pada tahun pertama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Secara statistik, jumlah ini melampaui total serangan selama empat tahun masa jabatan mantan Presiden Joe Biden.

Data dari Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED) memperjelas situasi tersebut. Antara 20 Januari 2025 hingga 5 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan 573 serangan udara dan drone. Sebaliknya, AS hanya mencatat 494 serangan mandiri selama empat tahun pemerintahan Biden.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika menghitung operasi mitra koalisi, angkanya tetap timpang. Trump mencatat 658 serangan gabungan dalam setahun. Sementara itu, Biden mencatat 694 operasi koalisi dalam empat tahun.

Yaman dan Kartel Narkoba Jadi Target Utama

Selanjutnya, ACLED merinci sebaran serangan tersebut. Lebih dari 80 persen serangan tertuju pada pemberontak Houthi di Yaman antara Januari dan Desember 2025. Akibatnya, lebih dari 530 kematian terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Percepatan Reforma Agraria Banyuasin, GTRA Pastikan Sertifikat Tanah Tepat Sasaran

Selain itu, target operasi meluas hingga ke perairan internasional. Laporan Newsweek menyebutkan bahwa serangan AS menewaskan setidaknya 110 terduga pengedar narkoba di Laut Karibia dan Pasifik Timur.

Namun, beberapa data masih gelap. Laporan tersebut mencatat bahwa jumlah kematian akibat serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada bulan Juni masih belum diketahui.

Secara total, AS terlibat dalam 1.008 peristiwa militer asing di setidaknya sembilan negara selama 12 bulan terakhir. Estimasi total kematian mencapai 1.093 jiwa.

Doktrin “Serang Dulu, Tanya Belakangan”

Analisis ACLED menyoroti perubahan doktrin militer yang tajam. Pengawas konflik tersebut menyebut strategi Trump sebagai pendekatan “serang dulu, tanya belakangan”.

“Angka-angka menunjukkan pemerintahan Trump sangat bergantung pada tindakan militer cepat dan berdampak tinggi sebagai respons pertama,” tulis analisis tersebut. “Mereka bergerak cepat dan dengan batasan yang lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya.”

Baca Juga :  CIA Prediksi Iran Bertahan 4 Bulan Saat AS Bidik Jaringan

Clionadh Raleigh, CEO ACLED, memberikan pandangan kritisnya. Menurutnya, aktivitas luar negeri AS saat ini sangat mencolok. Hal ini bukan hanya karena kecepatannya. Namun, AS secara terbuka menantang gagasan bahwa aturan bersama harus membatasi kekuasaan.

“Operasi terbaru di negara-negara seperti Venezuela dan Nigeria menunjukkan betapa cepatnya pendekatan ini dapat berubah menjadi kekuatan fisik,” ujar Raleigh.

Peringatan untuk Negara Berdaulat

Lebih jauh lagi, Raleigh memperingatkan potensi target berikutnya. Ia menyebut perhatian AS mungkin beralih ke tempat-tempat seperti Greenland, Kolombia, dan Kuba.

Seharusnya, dunia memperlakukan wilayah-wilayah tersebut sebagai negara merdeka dengan agensi politik mereka sendiri. Namun, Raleigh menuduh pemerintahan Trump memiliki pandangan lain.

“Pemerintahan Trump membingkai tempat-tempat tersebut sebagai masalah yang harus dikelola,” tudingnya. “Mereka melihatnya sebagai tempat yang menyimpan aset yang ingin AS kendalikan, baik itu minyak, wilayah, atau posisi strategis.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1
Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir
Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani
Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas
Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan
Trump Tunda Serangan Militer dan Buka Perundingan dengan Iran
Plt Jaksa Agung AS Batalkan Dana Ganti Rugi Trump Rp29 Triliun

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir

Selasa, 4 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:34 WIB

Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan

Berita Terbaru

Pemerintah Australia memperingatkan potensi lonjakan penyebaran wabah flu burung H5N1 setelah menemukan kasus kematian massal pertama. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Australia Waspadai Lonjakan Flu Burung H5N1

Selasa, 4 Agu 2026 - 13:24 WIB

Kepolisian Twin Falls mengonfirmasi insiden penembakan di restoran In-N-Out Burger, Idaho. Akibatnya, tiga orang tewas dan tujuh warga mengalami luka-luka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:49 WIB

Tom Holland mengonfirmasi pengetahuan tentang jadwal debut Miles Morales di MCU saat mempromosikan film Spider-Man: Brand New Day yang mencetak rekor pendapatan box office. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU

Selasa, 4 Agu 2026 - 10:00 WIB