CIA Prediksi Iran Bertahan 4 Bulan Saat AS Bidik Jaringan

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harapan baru di Qatar. Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Doha untuk membahas proposal perdamaian guna mengakhiri konflik yang melumpuhkan pasokan energi global. Dok: Xinhua.

Harapan baru di Qatar. Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Iran bertemu di Doha untuk membahas proposal perdamaian guna mengakhiri konflik yang melumpuhkan pasokan energi global. Dok: Xinhua.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Proses rekonsiliasi militer di Timur Tengah kembali mengalami stagnasi hebat. Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam baku tembak di wilayah Teluk, saat analisis intelijen terbaru mengungkapkan bahwa Teheran memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.

Penilaian CIA menunjukkan bahwa Iran tidak akan menderita tekanan ekonomi yang cukup berat dari blokade pelabuhan AS setidaknya selama empat bulan ke depan. Akibatnya, posisi tawar Washington terhadap Teheran tetap terbatas di saat perang ini mulai kehilangan popularitas di mata pemilih domestik Amerika Serikat.

Kontradiksi Analisis Intelijen dan Kerusakan Ekonomi

Laporan CIA tersebut memicu perdebatan di internal pemerintahan Trump. Namun demikian, seorang pejabat intelijen senior membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai informasi palsu. Menurutnya, blokade tersebut justru sedang memberikan kerusakan sistemik yang nyata.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Blokade ini memutus jalur perdagangan, menghancurkan pendapatan negara, dan mempercepat keruntuhan ekonomi sistemik Iran,” tegas pejabat tersebut. Di lapangan, militer AS melaporkan telah menyerang dua kapal yang berafiliasi dengan Iran saat mereka mencoba memasuki pelabuhan. Jet tempur AS menargetkan cerobong asap kapal tersebut guna memaksa mereka berbalik arah.

Baca Juga :  Kerusuhan WNA China di Tambang Emas Ketapang, 26 Orang Diamankan Imigrasi

Eskalasi di Selat Hormuz dan Serangan ke UEA

Situasi di Selat Hormuz mencatatkan gejolak terbesar sejak gencatan senjata sebulan lalu. Iran terus memblokade pelayaran non-Iran di jalur yang menguasai seperlima pasokan minyak dunia tersebut. Sebagai respons, Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan udara baru pada Jumat pagi.

Pertahanan udara UEA berhasil mencegat dua rudal balistik dan tiga drone yang meluncur dari wilayah Iran. Insiden ini melukai tiga orang warga sipil. UEA menyebut tindakan ini sebagai “eskalasi besar” setelah Presiden Trump sempat menunda operasi “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal dagang.

Diplomasi Rubio di Roma: Mengkritik Sikap Sekutu

Di tengah ketegangan militer, Sekretaris Negara Marco Rubio melakukan kunjungan diplomatik ke Roma untuk menemui Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Rubio mempertanyakan mengapa Italia dan sekutu lainnya tidak mendukung upaya Washington untuk membuka kembali selat secara paksa.

“Apakah kalian akan menormalisasi sebuah negara yang mengeklaim kendali atas jalur air internasional?” tanya Rubio kepada wartawan. Ia memperingatkan bahwa pembiaran terhadap tindakan Iran akan menjadi preseden buruk yang akan terulang di berbagai tempat lain di dunia. Rubio menegaskan bahwa Washington masih menanti jawaban resmi Teheran terhadap proposal pengakhiran perang secara formal.

Baca Juga :  Oposisi Jepang Desak Pengetatan Aturan Ekspor Senjata

Sanksi Baru: Targetkan Jaringan Drone di China dan Hong Kong

Sembari menempuh jalur diplomasi, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan finansial. Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan, termasuk beberapa entitas yang berbasis di China dan Hong Kong.

Entitas-entitas tersebut terbukti membantu militer Iran dalam mengamankan senjata dan bahan baku untuk membangun drone Shahed. Selain itu, Washington mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap institusi keuangan asing yang masih berhubungan dengan kilang minyak independen China yang membeli minyak ilegal dari Iran. Langkah ini diambil hanya beberapa hari sebelum rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Menanti Kepastian di Meja Rundingan

Masa depan konflik ini kini bergantung pada respons yang akan dikirimkan oleh Teheran. Singkatnya, selama isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz belum menemui titik temu, risiko perang terbuka tetap membayangi stabilitas energi global.

Dengan demikian, masyarakat internasional terus memantau apakah tekanan sanksi terbaru mampu melunakkan sikap Iran atau justru semakin menjauhkan prospek perdamaian di tahun 2026. Harga minyak Brent sendiri mulai merangkak naik kembali di atas USD 101 per barel menyusul ketidakpastian di perairan Teluk tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai
Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik
Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump
Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan
AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP
Tanah Longsor Sapu Tujuh Persen Populasi Orangutan
Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:15 WIB

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:00 WIB

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:02 WIB

Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:21 WIB

AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP

Berita Terbaru

Gebrakan besar di perbatasan. Otoritas Hong Kong menyita ratusan ribu barang palsu termasuk jersi Piala Dunia siap ekspor senilai dua puluh juta dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:15 WIB

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Jun 2026 - 16:00 WIB