JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Puluhan tahun lamanya, dunia memuja mantra “dunia tanpa batas”. Arus barang dan uang mengalir deras melintasi samudra tanpa hambatan berarti. Namun, pesta pora globalisasi itu tampaknya mulai usai.
Data ekonomi menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sejak krisis finansial 2008, rasio perdagangan global terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia mengalami stagnasi, bahkan penurunan.
Majalah The Economist menamai fenomena ini sebagai “Slowbalization”. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana integrasi ekonomi global melambat secara signifikan. Lantas, pertanyaan besar pun muncul. Apakah era globalisasi benar-benar sudah tamat?
Tembok Tarif dan Nasionalisme Ekonomi
Tanda-tanda kemunduran terlihat sangat nyata di depan mata. Pertama, tembok penghalang perdagangan makin tinggi. Perang tarif antara Amerika Serikat dan China menjadi bukti paling mencolok.
Negara-negara kini lebih mengutamakan kepentingan nasional di atas efisiensi global. Akibatnya, semangat nasionalisme ekonomi bangkit kembali. Pemimpin negara berlomba-lomba menyerukan slogan “Beli Produk Lokal” dan membatasi impor.
Selain itu, arus perpindahan manusia juga terhambat. Pembatasan imigrasi yang ketat membuat tenaga kerja tidak lagi bebas berpindah antarnegara. Oleh sebab itu, dunia terasa semakin sempit dan tertutup.
Dari Kontainer ke Kabel Optik
Meskipun demikian, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan kematian globalisasi. Faktanya, globalisasi sedang bermetamorfosis atau berubah bentuk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perdagangan barang fisik yang menggunakan kontainer memang melambat. Sebaliknya, perdagangan jasa dan arus data digital justru melesat bak roket.
Kita mungkin mengurangi pembelian baju dari luar negeri. Akan tetapi, kita semakin sering mengonsumsi layanan digital lintas batas. Kita menonton streaming film asing, menggunakan perangkat lunak buatan luar, atau melakukan rapat daring antarbenua. Globalisasi tidak mati, ia hanya pindah alam ke dunia maya.
Bangkitnya Blok Regional
Perubahan besar lainnya adalah pergeseran pola kerja sama. Perjanjian dagang global di bawah payung Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kini mulai ditinggalkan. Pasalnya, kesepakatan multilateral terlalu rumit dan lambat.
Sebagai gantinya, negara-negara memilih membentuk blok perdagangan regional. Munculnya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Asia atau USMCA di Amerika Utara menjadi bukti nyata.
Negara lebih nyaman berdagang dengan tetangga dekat mereka. Artinya, rantai pasok global yang panjang dan rentan kini memendek menjadi rantai pasok regional yang lebih aman.
Globalisasi yang Melambat, Bukan Berhenti
Pada akhirnya, “Slowbalization” mengajarkan kita realitas baru. Globalisasi tidak akan hilang sepenuhnya selama manusia masih membutuhkan sumber daya dari tempat lain.
Ia hanya sedang mengerem lajunya dan mencari keseimbangan baru. Maka, kita harus bersiap menghadapi dunia yang lebih terkotak-kotak secara fisik, namun tetap terhubung erat secara digital.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















