Uni Eropa Cari Jalur Alternatif guna Hindari Selat Hormuz

Minggu, 26 April 2026 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

PAPHOS, POSNEWS.CO.ID – Uni Eropa (UE) mulai merumuskan langkah drastis guna mengakhiri ketergantungan pada Selat Hormuz. Guncangan harga bahan bakar yang dipicu oleh perang Iran memaksa Brussel untuk mencari rute energi alternatif di kawasan Timur Tengah.

Dalam konteks ini, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan kesiapan UE guna berkolaborasi dengan negara-negara Teluk. Oleh karena itu, Brussel kini memacu pembangunan infrastruktur yang tidak lagi tersandera oleh konflik geopolitik di jalur maritim tradisional pada tahun 2026.

Pelajaran Pahit dari Krisis Selat Hormuz

Von der Leyen menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di Siprus pada Jumat sore. Ia menekankan bahwa keamanan pelayaran global berkaitan erat dengan stabilitas industri di daratan Eropa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ancaman terhadap kapal dagang di Selat Hormuz adalah ancaman nyata bagi sebuah pabrik, misalnya di Belgia,” tegas Von der Leyen. Akibatnya, lonjakan harga minyak dan gas selama 43 hari terakhir telah merugikan 27 negara anggota UE sebesar 25 miliar Euro ($29,3 miliar). Data pasar mencatat harga minyak mentah Brent kini kembali menembus angka $100 per barel di tengah kelangkaan pasokan global.

Baca Juga :  Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Koridor Ekonomi dan Rekonstruksi Regional

Meskipun detail teknis belum tersedia, Von der Leyen merujuk pada Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa sebagai salah satu solusi strategis. UE berencana mematangkan proyek ini dalam pertemuan puncak dengan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) akhir tahun ini.

Selain itu, KTT di Siprus juga menghadirkan sejumlah pemimpin dari Suriah, Mesir, Lebanon, dan Yordania. Presiden Lebanon Joseph Aoun mendesak dukungan UE guna membangun kembali negaranya yang hancur akibat perang. Sebagai hasilnya, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa berjanji akan membantu proses pelucutan senjata Hezbollah sebagai bagian dari solusi jangka panjang bagi kedaulatan Lebanon di tahun 2026.

Formalisasi Pertahanan Kolektif: Efek Serangan Siprus

Konflik di Timur Tengah kini telah merambah langsung ke wilayah kedaulatan Uni Eropa. Pada 2 Maret lalu, sebuah drone Shahed meledakkan hanggar pesawat di pangkalan militer Inggris di pesisir selatan Siprus.

Terlebih lagi, insiden ini memicu aktivasi klausul bantuan timbal balik dalam traktat dasar Uni Eropa. Negara-negara seperti Yunani, Perancis, Italia, Spanyol, dan Belanda segera mengirimkan kapal perang dengan kemampuan anti-drone ke perairan Siprus. Oleh sebab itu, Presiden Siprus Nikos Christodoulides menyatakan bahwa para pemimpin UE telah sepakat guna membangun mekanisme respon formal yang lebih andal daripada kesepakatan ad hoc sebelumnya.

Baca Juga :  Transformasi Kerja Dimulai, WFH dan Sepeda Jadi Andalan Hemat Energi

Sanksi Iran: Belum Ada Jeda Diplomasi

Terkait posisi diplomatik terhadap Teheran, Uni Eropa mengambil sikap yang sangat kaku. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa blok tersebut tidak akan mencabut sanksi hingga Iran menghentikan program rudal dan dukungan terhadap milisi proksi.

Dalam hal ini, Antonio Costa menyebut bahwa masih terlalu dini guna membicarakan pelonggaran sanksi ekonomi. Meskipun demikian, UE bersikeras bahwa mereka bukan bagian dari konflik fisik namun tetap akan menjadi bagian dari solusi politik. Pada akhirnya, kedaulatan energi Eropa di tahun 2026 akan bergantung pada keberanian Brussel dalam merombak peta logistik dunia yang selama ini didominasi oleh titik-titik panas militer.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB