NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Suasana surreal menyelimuti pengadilan federal di Manhattan pada hari Senin. Presiden Venezuela yang baru saja jatuh, Nicolás Maduro, berdiri di hadapan hakim dengan kaki terbelenggu rantai. Dua hari setelah pasukan khusus AS menangkapnya dalam operasi yang mengguncang dunia, Maduro dengan lantang menyatakan dirinya tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba, senjata, dan terorisme-narkoba.
Sidang dakwaan tersebut berlangsung singkat, hampir tak sampai 30 menit. Namun, formalitas birokrasi itu kontras dengan dampak geopolitik luar biasa yang timbul di luar ruang sidang. Sementara Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menjawab pertanyaan hakim Alvin Hellerstein, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat hanya beberapa mil di utara sana.
“Saya Masih Presiden”
Maduro, 63 tahun, bersikeras bahwa ia adalah kepala negara yang sah. “Saya masih presiden negara saya,” tegasnya kepada hakim. Ia menyebut penangkapannya di rumahnya di Caracas sebagai penculikan ilegal dan melabeli dirinya sebagai “tawanan perang”.
“Saya tidak bersalah. Saya orang baik,” seru Maduro dalam bahasa Spanyol, berulang kali mencoba berbicara memotong hakim.
Sebelumnya, saat memasuki ruang sidang dengan sandal oranye dan kemeja biru di atas seragam tahanan neon, ia sempat menoleh ke arah galeri publik. Dengan nada yang terdengar ironis di tengah situasi genting itu, ia mengucapkan, “Happy new year!” dalam bahasa Inggris.
Tuduhan Berat: Terorisme Narkoba
Maduro menghadapi empat dakwaan pidana federal AS, termasuk konspirasi “narco-terrorism”, impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan perangkat destruktif. Setiap tuduhan membawa ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Jaksa Agung AS Pam Bondi membuka dakwaan kriminal pada Sabtu lalu. Dakwaan ini menggemakan klaim Presiden Donald Trump. Washington menuduh Maduro dan komplotannya telah bermitra selama puluhan tahun dengan pengedar narkoba dan pejabat korup. Tujuannya adalah membanjiri AS dengan berton-ton kokain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ibu Negara Terluka
Pasukan AS juga menangkap Istri Maduro, Cilia Flores, dalam serangan fajar hari Sabtu yang menewaskan sedikitnya 40 orang. Pengacaranya, Mark Donnelly, mengungkapkan bahwa Flores menderita “cedera signifikan selama penculikan”. Ia memerlukan pemeriksaan medis untuk memar parah di tulang rusuknya.
Tampil dengan plester besar di pelipis dan dahinya, Flores juga menyatakan dirinya “sepenuhnya tidak bersalah”. Aparat menahan pasangan ini di bawah pengamanan ketat di pusat penahanan Metropolitan di Brooklyn. Penjara ini pernah menampung tokoh-tokoh kontroversial seperti El Chapo dan Sean ‘Diddy’ Combs.
Gejolak Regional Meluas
Sementara itu, dampak operasi militer ini terus menjalar liar. Di Caracas, Delcy Rodríguez, pengganti Maduro yang baru saja mengambil sumpah jabatan, tampaknya mulai melunak. Awalnya menantang, ia kini mengisyaratkan kesediaan bekerja sama dengan AS setelah Trump mengancamnya akan “membayar harga yang sangat mahal”.
Ketegangan juga merembet ke negara tetangga. Presiden Kolombia Gustavo Petro memperingatkan bahwa negaranya akan “mengangkat senjata” jika Trump merealisasikan ancaman aksi militer di sana.
Di PBB, Sekretaris Jenderal António Guterres melalui perwakilannya menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menyebut operasi ini berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi hubungan antarnegara. Ia juga menegaskan bahwa Washington “belum menghormati aturan hukum internasional.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















