Tidur Sambil Bergerak: Keajaiban Orca dan Burung Migrasi

Kamis, 25 Desember 2025 - 17:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar fase istirahat. Sains modern membuktikan bahwa saat kita terlelap, otak justru bekerja keras melakukan restorasi sel, konsolidasi memori, hingga penguatan sistem imun. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar fase istirahat. Sains modern membuktikan bahwa saat kita terlelap, otak justru bekerja keras melakukan restorasi sel, konsolidasi memori, hingga penguatan sistem imun. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Orang tua baru sering mengeluh kurang tidur saat merawat bayi. Namun, manusia sebenarnya masih beruntung jika kita bandingkan dengan Orca atau paus pembunuh.

Penelitian mengejutkan datang dari Universitas California, Los Angeles (UCLA). Ahli saraf Jerome Siegel dan rekannya Oleg Lyamin menemukan fakta mencengangkan. Selama bulan pertama pasca-kelahiran, induk Orca dan bayinya sama sekali tidak mengalami tidur normal.

Mereka terus bergerak tanpa henti. Faktanya, pola ini sangat kontras dengan mamalia lain yang biasanya butuh tidur ekstra saat bayi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gerakan dan kesigapan orca muda membantu mereka menjaga suhu tubuh tetap konstan,” jelas Siegel. Selain itu, mereka harus terus bergerak agar bisa bernapas dan waspada terhadap serangan hiu.

Otak Besar Tanpa Tidur?

Temuan ini mengguncang pemahaman kita tentang fungsi tidur. Dulu, ilmuwan meyakini tidur mutlak kita perlukan untuk perkembangan otak.

“Di sini kita memiliki makhluk yang menumbuhkan salah satu otak terbesar di dunia hewan, namun ia melakukannya tanpa tidur,” ujar Siegel heran.

Baca Juga :  Logika Aristoteles: Fondasi Berpikir Runtun Melalui Silogisme

Sementara semua mamalia dan burung tampaknya butuh tidur, misteri masih menyelimuti reptil dan ikan. Contohnya, ikan mas di akuarium tidak pernah benar-benar berbaring diam. Mereka mungkin memasuki kondisi “dorman” yang mirip tidur, namun tetap waspada.

Relung Lingkungan Menentukan Tidur

Apa yang menentukan durasi tidur hewan? Tampaknya, faktor lingkungan lebih berpengaruh daripada fungsi biologis semata. Ketersediaan makanan menjadi kunci utama.

Kelelawar, misalnya, memiliki waktu istirahat yang sangat panjang. Alasannya, mereka bisa mendapatkan cukup makanan (serangga) hanya dalam tiga jam berburu.

“Mungkin hal terbaik bagi kelelawar adalah menggantung terbalik di gua sepanjang hari untuk menghemat energi,” kata Siegel.

Di sisi lain, lumba-lumba memiliki kemampuan tidur yang unik. Mereka bisa mengistirahatkan separuh otak mereka sementara separuh lainnya tetap terjaga. Bahkan, mereka tidur dengan satu mata terbuka untuk memantau predator. Mata yang tertutup selalu berlawanan dengan belahan otak yang sedang tidur.

Burung yang Tidur Sambil Terbang

Adaptasi ekstrem juga terlihat pada burung migrasi seperti Swainson’s thrush. Biasanya, burung ini tidur 10-12 jam sehari. Akan tetapi, saat musim migrasi tiba, mereka memangkas waktu tidurnya secara drastis menjadi hanya 2,5 jam.

Baca Juga :  Menembus Batas Medis: Menakar Potensi Hipnoterapi

Psikolog Verner Bingman menyebut mereka sebagai “model alami kurang tidur”. Hebatnya, burung ini tetap berfungsi efektif meski kurang istirahat.

Mereka melakukan micro-naps atau tidur mikro sebanyak 50 kali per jam. Setiap sesi hanya berlangsung 10 hingga 20 detik. Secara teknis, gelombang otak mereka menunjukkan pola tidur normal, meskipun mereka sedang terbang atau beraktivitas.

Bisakah Manusia Menirunya?

Penemuan ini memicu imajinasi liar. Bisakah manusia beradaptasi untuk hidup dengan tidur minimal seperti burung thrush? Bingman membayangkan masa depan di mana manusia bisa hidup aktif selama 20 jam sehari tanpa kehilangan efektivitas.

“Triknya adalah mengembangkan teknik atau obat yang bisa menciptakan kembali pola otak serupa pada manusia,” harap Bingman.

Namun, ahli saraf Clifford Saper tidak setuju. Ia memperingatkan bahaya fatal bagi otak manusia. Kurang tidur terbukti merusak memori, kewaspadaan, dan penilaian.

“Efek terjaga 20 jam saat mengemudi setara dengan minum dua gelas wiski,” peringat Saper.

Pada akhirnya, otak manusia tampaknya tidak sefleksibel hewan. Kita mungkin bermimpi untuk tidak tidur, tetapi biologi kita berkata lain. Tidur tetap menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa kita tawar demi kesehatan dan keselamatan jiwa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Solusi komputasi harian yang ringkas. COLORFUL merilis laptop Rimbook L1 Plus berlayar 16 inci 2.5K dan prosesor AMD Ryzen 7 7735HS. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

COLORFUL Resmi Meluncurkan Rimbook L1 Plus Ryzen 7

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:10 WIB