TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Risiko meluasnya perang Iran meningkat drastis setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran meluncurkan serangan pertama mereka ke wilayah Israel. Langkah ini memecah kebuntuan militer saat ribuan pasukan tambahan Amerika Serikat mulai mendarat di Timur Tengah pada hari Sabtu.
Dalam konteks ini, Houthi menegaskan bahwa mereka akan terus melancarkan operasi militer hingga “agresi” terhadap Iran di semua front berakhir. Meskipun serangan rudal tersebut tidak menimbulkan kerusakan fisik di Israel, aksi ini memberikan sinyal ancaman baru terhadap jalur perdagangan maritim global.
Front Baru Houthi dan Ancaman Bab al-Mandab
Militer Israel mengonfirmasi bahwa sebuah rudal telah ditembakkan dari arah Yaman. Akibatnya, kekhawatiran akan penutupan Selat Bab al-Mandab kini menjadi nyata. Jalur tersebut merupakan chokepoint krusial yang mengendalikan lalu lintas laut menuju Terusan Suez.
Selain itu, Houthi memiliki rekam jejak dalam mengganggu pelayaran internasional demi mendukung aliansi “Poros Perlawanan”. Jika Houthi benar-benar memblokade Bab al-Mandab setelah Iran menutup Selat Hormuz, maka rantai pasok energi dunia akan mengalami kelumpuhan total. Seperlima pasokan minyak dan LNG global kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
Mobilisasi Pasukan Elit Amerika Serikat
Washington merespons ketegangan ini dengan mengirimkan dua kontingen besar pasukan Marinir. Selanjutnya, Pentagon juga segera menerjunkan ribuan prajurit dari Divisi Airborne ke-82. Langkah ini bertujuan memberikan fleksibilitas maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam menyesuaikan strategi tempur di lapangan.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat berharap dapat menyelesaikan operasi militer ini dalam beberapa pekan ke depan. Namun demikian, penambahan pasukan darat menunjukkan bahwa Washington bersiap menghadapi skenario terburuk. Pengerahan aset militer ini terjadi di tengah serangan Iran yang berhasil melukai 12 personel militer AS di sebuah pangkalan udara Arab Saudi pada hari Jumat.
Guncangan Ekonomi: Harga Minyak Brent Naik 50 Persen
Pasar finansial dunia bereaksi dengan alarm tinggi terhadap tanda-tanda perang yang berkepanjangan. Oleh karena itu, harga minyak mentah Brent telah meroket lebih dari 50 persen sejak konflik bermula pada 28 Februari lalu. Di Amerika Serikat, harga bahan bakar diesel bahkan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di negara bagian California.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, kebijakan energi Trump kini berada di bawah tekanan politik domestik yang berat. Demonstrasi anti-perang meletus di berbagai kota besar di AS pada hari Sabtu sebagai bentuk protes terhadap kebijakan luar negeri yang agresif. Dengan pemilihan sela yang akan berlangsung November mendatang, ketidakstabilan ekonomi akibat perang di Timur Tengah menjadi beban besar bagi Partai Republik.
Kebuntuan Diplomasi dan Tragedi Kemanusiaan
Upaya diplomatik melalui Pakistan, Mesir, dan Turki hingga kini belum membuahkan terobosan nyata. Meskipun Iran telah mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz sebagai “jalur aman”, blokade utama tetap berlaku. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan akan adanya pembalasan kuat jika infrastruktur ekonomi mereka terus menjadi sasaran.
Sebagai hasilnya, jumlah korban jiwa di kedua belah pihak terus bertambah. Serangan udara di Lebanon telah menewaskan tiga jurnalis dan petugas penyelamat. Sementara itu, gempuran ke wilayah Zanjan dan Universitas Sains dan Teknologi Iran juga merenggut nyawa warga sipil. Dunia kini memandang dengan cemas ke arah Timur Tengah, menanti apakah jendela negosiasi selama 10 hari yang Trump berikan mampu meredam kiamat energi global tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















