Mengapa Kita Mudah Percaya Hoaks dan Sulit Memperbaikinya?

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kebohongan dan misinformasi tampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Meskipun sering dianggap sebagai masalah modern akibat internet, fenomena ini sebenarnya sudah ada setua peradaban manusia.

Orang telah berbohong satu sama lain sejak bahasa tercipta. Menipu orang lain sering kali memberikan keuntungan strategis atau melindungi ikatan sosial. Namun, kita kini hidup di era yang berbeda. Teknologi memungkinkan informasi—benar atau salah—menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik.

Potensi dampak buruknya pun membengkak. Peneliti seperti Stephan Lewandowsky dan Elizabeth Marsh memperingatkan bahwa misinformasi dapat memengaruhi sikap dan perilaku kita secara tidak sadar. Akibatnya, kerukunan sosial dan iklim politik menjadi korban utamanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otak Kita “Naif” Sejak Lahir

Mengapa kita begitu rentan terhadap hoaks? Jawabannya terletak pada cara kerja otak kita. Perdebatan filosofis klasik antara René Descartes dan Baruch Spinoza pada abad ke-17 memberikan petunjuk penting.

Baca Juga :  Sosiologi sebagai Fisika Sosial: Ambisi Positivisme Mengukur Perilaku Manusia

Descartes berpendapat bahwa manusia hanya menerima informasi setelah memverifikasi kebenarannya. Sebaliknya, Spinoza memiliki pandangan yang lebih pesimis namun akurat. Ia berargumen bahwa manusia secara default menerima semua informasi sebagai kebenaran terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita memverifikasi atau menolaknya lewat proses kognitif terpisah.

Penelitian modern mendukung teori Spinoza. Ternyata, otak kita memproses skeptisisme di bagian yang berbeda dari bagian pemrosesan informasi. Oleh karena itu, saat kita lelah atau teralihkan, kita cenderung menelan mentah-mentah apa pun yang kita baca sebagai fakta.

Media Gagal Memblokir Sejak Awal

Masalah kedua terletak pada sistem media kita. Media elektronik dan cetak sering kali gagal memblokir misinformasi sebelum mencapai audiens.

Di Amerika Serikat, misalnya, badan regulasi seperti FDA cenderung fokus pada deteksi pasca-kejadian (post hoc detection). Mereka memantau iklan obat yang menyesatkan setelah iklan tersebut tayang, bukan menyensornya sejak awal.

Baca Juga :  Ramadan Digital 2026: Bagaimana AI Membantu Umat Muslim Mengoptimalkan Ibadah

Meskipun ada program pelaporan seperti ‘Bad Ad’, kerusakan sering kali sudah terjadi. Informasi palsu sudah terlanjur menyebar dan memengaruhi persepsi publik sebelum sempat ditarik.

Mahal dan Sulitnya Meluruskan Fakta

Poin ketiga adalah yang paling menantang. Meluruskan misinformasi (countering misinformation) ternyata jauh lebih sulit dan mahal daripada menyebarkannya.

Kampanye korektif membutuhkan sumber daya besar untuk mencapai jangkauan yang sama luasnya dengan hoaks yang viral. Selain itu, audiens harus mampu memahami pesan koreksi tersebut.

Sayangnya, literasi media masyarakat masih rendah. Banyak orang bahkan tidak bisa membedakan antara berita palsu yang jelas salah dengan berita fakta saat membaca sekilas.

Pada akhirnya, perang melawan misinformasi adalah perjalanan panjang. Tidak ada solusi instan atau peluru perak. Kita membutuhkan upaya terkoordinasi yang terus-menerus, mulai dari pendidikan literasi sejak dini hingga pengembangan alat pemantauan yang lebih canggih.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Langkah taktis dua raksasa ekonomi. Intervensi gabungan otoritas keuangan Jepang dan Amerika Serikat mendongkrak nilai tukar yen hingga level 157 per dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Minggu, 2 Agu 2026 - 06:18 WIB