Misteri Tulang di Pegunungan Cardamom: Nancy Athfield dan Teka-Teki Mayat dalam Guci

Kamis, 25 Desember 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Siapa pemilik tulang-belulang di tebing Kamboja? Nancy Athfield gunakan radiocarbon dating untuk ungkap rahasia kuno yang membingungkan ilmuwan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Siapa pemilik tulang-belulang di tebing Kamboja? Nancy Athfield gunakan radiocarbon dating untuk ungkap rahasia kuno yang membingungkan ilmuwan. Dok: Istimewa.

PHNOM PENH, POSNEWS.CO.ID – Hutan lebat di Pegunungan Cardamom, Kamboja, menyimpan rahasia yang telah terkubur berabad-abad. Penduduk lokal menemukan sisa-sisa manusia kuno yang tersembunyi di tempat tak lazim. Tulang-belulang itu tersimpan dalam guci keramik besar dan batang kayu berlubang di tebing-tebing curam.

Penemuan misterius ini menarik perhatian Nancy Athfield, seorang ilmuwan spesialis penanggalan radiokarbon (radiocarbon dating). Seketika, ia meninggalkan pekerjaan rutinnya di Laboratorium Rafter G.N.S. Science, Selandia Baru, demi terjun ke lapangan.

Athfield baru saja kembali dari ekspedisi penelitian yang menantang. Bersama timnya, ia bertekad menguak identitas orang-orang yang terkubur di tebing tinggi tersebut.

Mematahkan Mitos Kerajaan Angkor

Kisah ini bermula pada tahun 2003. Sebuah perusahaan film dokumenter meminta Athfield untuk meneliti sampel tulang dari situs tersebut. Kala itu, para pembuat film ingin menguji sebuah teori populer.

Banyak orang menduga sisa-sisa itu adalah tempat peristirahatan terakhir keluarga kerajaan Angkor. Konon, mereka melarikan diri ke pegunungan setelah kota Angkor jatuh ke tangan pasukan penyerbu pada tahun 1431.

Baca Juga :  Modus Batik dan Lanyard Terbongkar, Polisi Ciduk Pencuri di Hotel Mewah

Namun, hasil analisis sains berkata lain. Athfield melakukan penanggalan radiokarbon pada sampel tulang asli. Hasilnya, tulang tersebut berasal dari tahun 1620-an.

Fakta ini langsung mematahkan teori tentang bangsawan Angkor. Pasalnya, tahun tersebut terlalu muda, berselisih hampir dua abad dari runtuhnya Angkor. Hingga kini, nasib akhir keluarga kerajaan legendaris itu masih menjadi tanda tanya besar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari New York ke Laboratorium Dunia

Perjalanan karier Athfield sendiri seunik objek penelitiannya. Wanita kelahiran New York ini memiliki latar belakang yang tidak konvensional. Ia menyelesaikan pendidikan menengah lebih awal pada usia 16 tahun dan sempat bekerja serabutan dengan gaji rendah.

Lantas, saran seorang teman mengubah hidupnya. Ia mengikuti ujian masuk universitas dan lulus dengan mengejutkan. Saat kuliah, ia bekerja di Observatorium Bumi Lamont-Doherty dan bertemu Wally Brocker, pionir radiokarbon.

“Darinya saya belajar bahwa tempat terbaik adalah di mana segala sesuatu yang Anda tahu terguncang oleh informasi baru,” kenang Athfield.

Baca Juga :  Mencekam! Warga Temukan Potongan Tubuh dalam Karung Saat Lebaran, Polisi Buru Pelaku

Kemudian, ia pindah ke Selandia Baru dan meraih gelar PhD. Disertasinya berfokus pada kontroversi kedatangan tikus di pulau tersebut, membuktikan ketelitiannya dalam memverifikasi metode penanggalan.

Kolaborasi Lintas Disiplin

Meskipun sempat terkendala dana, semangat Athfield tak pernah padam. Titik terang akhirnya muncul saat Dewan Riset Australia memberikan dukungan finansial.

Kini, ia memimpin proyek besar bersama Universitas Sydney untuk membuat database radiokarbon seluruh Kamboja. Proyek ini menyatukan para ahli dari berbagai bidang, mulai dari geolog, biolog, hingga spesialis keramik.

Tantangannya sangat berat karena Kamboja belum memiliki peta geologi yang luas. Akan tetapi, penemuan situs penguburan guci baru oleh Kementerian Kebudayaan Kamboja membuat Athfield semakin antusias.

Pada akhirnya, teka-teki Pegunungan Cardamom belum sepenuhnya terpecahkan. Namun, dengan bantuan sains modern, Athfield perlahan menyusun kepingan sejarah manusia yang hilang di tengah belantara Asia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat
Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk
Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular
Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 19:10 WIB

Operasi Ketupat 2026 Hari ke-11: 251 Kecelakaan, 17 Tewas – Arus Balik Mulai Meningkat

Senin, 23 Maret 2026 - 18:30 WIB

Bom Waktu 48 Jam: Trump Ancam Ratakan Listrik Iran, Teheran Targetkan Fasilitas Air Teluk

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WIB

Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB