Pelaku Pembunuhan Anak PKS Ditangkap Saat Mencuri, Ahli Forensik Angkat Bicara

Minggu, 4 Januari 2026 - 07:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Reza Indragiri Amriel, Ahli psikologi forensik. (Posnews/Youtube)

Reza Indragiri Amriel, Ahli psikologi forensik. (Posnews/Youtube)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID β€” Pengungkapan kasus pembunuhan anak politikus Partai Keadilan Sosial (PKS) Cilegon oleh pihak kepolisian kembali memantik polemik serius.

Pasalnya, polisi memastikan tidak ada satu pun barang berharga yang hilang dari rumah anggota PKS yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan.

Namun ironisnya, sosok yang disebut sebagai pelaku pembunuhan justru ditangkap saat berusaha mencuri di rumah anggota DPRD.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta ini langsung menimbulkan pertanyaan tajam di ruang publik. Apakah satu orang pelaku benar-benar melakukan dua kejahatan dengan motif yang bertolak belakang? Ataukah terjadi kekeliruan serius dalam penetapan tersangka?

Di rumah anggota PKS, pelaku disebut tidak mengambil barang apa pun. Artinya, kejahatan itu tidak mengandung motif instrumental atau keuntungan materi.

Sebaliknya, di rumah anggota DPRD, pelaku tertangkap tangan saat melakukan pencurian, yang jelas bermotif ekonomi.

Perbedaan ini memunculkan keraguan logis. Mengapa pelaku yang sama tiba-tiba mengubah motif kejahatan secara drastis? Atau, jangan-jangan pelaku pencurian bukanlah pelaku pembunuhan?

Penetapan Cepat, Bukti Belum Terlihat

Polisi dinilai terlalu cepat menyimpulkan bahwa pelaku pencurian juga merupakan pelaku pembunuhan. Indikasi kuatnya, kesimpulan tersebut diduga bersumber dari pengakuan awal tersangka saat interogasi pertama.

Baca Juga :  Imigrasi Soetta Gagalkan 23 Calon Haji Nonprosedural ke Jeddah, Total 42 Orang Dicegah

Namun hingga kini, publik belum melihat adanya:

  • Foto atau sketsa wajah pelaku pembunuhan
  • Rekaman CCTV yang dapat dibandingkan
  • Deskripsi saksi yang mengarah jelas pada satu orang
  • Hasil uji DNA atau kecocokan sidik jari antara TKP pembunuhan dan tersangka pencurian

Tanpa bukti objektif tersebut, penetapan pelaku dinilai masih menyisakan celah besar.

Kekerasan Ekstrem, Logika Psikologis Dipertanyakan

Pembunuhan sadis terhadap anak itu terjadi pada 16 Desember 2025. Korban mengalami puluhan luka tusuk dan lebam, menandakan kekerasan ekstrem.

Secara psikologis, tindakan seperti ini lazimnya membuat pelaku ketakutan, trauma, atau memilih kabur dan mengisolasi diri.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dua pekan kemudian, pelaku kembali beraksi dengan mencuri. Kondisi ini dinilai mencengangkan dan menabrak logika psikologi kriminal.

Ahli Forensik: Pengakuan Tak Bisa Berdiri Sendiri

Menurut Reza Indragiri Amriel, ahli psikologi forensik, pengakuan tersangka tidak boleh menjadi satu-satunya dasar penetapan pelaku, terlebih jika muncul dalam kondisi tekanan psikologis.

Baca Juga :  Gratis! Nikmati Jakarta Light Festival & Gegap Gempita Kota Tua untuk HUT Ke-80 RI, Hiburan Artis Top Menanti

β€œDalam situasi shock setelah ditangkap, seseorang sangat rentan memberikan pengakuan yang tidak sepenuhnya akurat. Apalagi jika interogasi dilakukan secara intens, berulang, atau disertai tekanan,” ujarnya.

Reza menegaskan, kondisi tersebut membuka peluang terjadinya coerced false confession, yakni pengakuan palsu akibat tekanan, baik fisik maupun psikologis.

Dua Alat Bukti Tetap Mutlak

Meski perkara sudah diumumkan ke publik, aparat penegak hukum tetap wajib berpegang pada prinsip hukum acara pidana.

Minimal dua alat bukti sah harus dipenuhi sebelum memproses seseorang sebagai pelaku pembunuhan.

Praktik merekayasa cerita, menanam bukti, atau menekan tersangka dinilai berbahaya dan justru dapat merusak keadilan.

Pengungkapan dua peristiwa pidana ini memang penting. Namun yang lebih krusial, penegakan hukum harus berjalan proporsional, prosedural, dan profesional.

Publik berharap aparat bekerja berdasarkan fakta dan bukti, bukan semata pengakuan. Hanya dengan cara itu, kebenaran bisa terungkap dan keadilan benar-benar ditegakkan.

Penulis : Hadwan

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HUT ke-81 RI: 81 Pesawat dan Helikopter Ramaikan Langit Istana
BNN Gerebek Kampung Bahari, Bos Narkoba MR Ditangkap
Mahkamah Konstitusi Bangun Digital Constitutional Court untuk Layanan Publik
Kasus Tantangan Hafalan Surat Ad-Duha Berhadiah Miras Diambil Alih Polda Metro
BNN Gerebek Kampung Bahari, Loyalis Bandar Narkoba Serang Petugas dengan Mercon
Misteri 2.000 SGD Hilang, KPK Siap Periksa Ajudan Menhut dan Kapolres Kuansing
Ngaku Mantan Tahanan KPK, Komplotan Penipu Gasak Fortuner Nenek di Serpong
SIMASHAM: Aplikasi Pengaduan HAM KemenHAM untuk Laporan Cepat dan Transparan

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:08 WIB

HUT ke-81 RI: 81 Pesawat dan Helikopter Ramaikan Langit Istana

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:57 WIB

Mahkamah Konstitusi Bangun Digital Constitutional Court untuk Layanan Publik

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:43 WIB

Kasus Tantangan Hafalan Surat Ad-Duha Berhadiah Miras Diambil Alih Polda Metro

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:10 WIB

BNN Gerebek Kampung Bahari, Loyalis Bandar Narkoba Serang Petugas dengan Mercon

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:55 WIB

Misteri 2.000 SGD Hilang, KPK Siap Periksa Ajudan Menhut dan Kapolres Kuansing

Berita Terbaru

Komunitas fans berhasil membuat port native untuk Zelda Ocarina of Time dan Majora's Mask di perangkat iOS, lengkap dengan dukungan hingga 60 FPS tanpa emulasi. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Zelda Ocarina of Time dan Majora’s Mask Kini Berjalan Native

Kamis, 13 Agu 2026 - 13:06 WIB

Valve memperluas dukungan SteamOS ke lebih banyak handheld pihak ketiga seperti MSI, OneXPlayer, dan perangkat berbasis ARM lewat update beta terbaru. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

SteamOS Kini Dukung Lebih Banyak Handheld Pihak Ketiga

Kamis, 13 Agu 2026 - 12:03 WIB

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung . (Posnews/Kominfo)

JABODETABEK

HUT ke-81 RI, Warga Jakarta Bakal Disuguhi Pesta Rakyat

Kamis, 13 Agu 2026 - 11:22 WIB

Program promosi Intel Gamer Days membuat harga prosesor Core Ultra 7 270K Plus dan Core Ultra 5 250K Plus turun di bawah MSRP, disertai bonus dua game senilai US$119,98. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Harga Core Ultra 270K Plus dan 250K Plus Turun di Bawah MSRP

Kamis, 13 Agu 2026 - 11:00 WIB