Inggris dan Prancis Siap Kirim Pasukan ke Ukraina Pasca-Damai

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Macron dan Starmer tandatangani deklarasi bersejarah. Pasukan akan dikerahkan sebagai

Macron dan Starmer tandatangani deklarasi bersejarah. Pasukan akan dikerahkan sebagai "pusat militer" setelah gencatan senjata, meski Moskow menolak keras. Dok: The Guardian.

PARIS, POSNEWS.CO.ID – Peta keamanan Eropa kembali bergeser secara dramatis pada Selasa malam. Inggris dan Prancis secara resmi menyatakan kesiapan mereka untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina setelah kesepakatan damai tercapai. Komitmen besar ini muncul setelah diskusi intensif berbulan-bulan, meskipun Rusia kemungkinan besar akan memblokirnya dengan keras.

Pengumuman tersebut keluar pasca-KTT di Paris yang tuan rumahnya adalah Presiden Prancis Emmanuel Macron. Lebih dari dua lusin pemimpin “koalisi negara yang bersedia” hadir, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Menariknya, utusan AS Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner, juga turut serta, menegaskan dukungan Washington di balik layar.

Ketiga pemimpin utama—Macron, Starmer, dan Zelenskyy—menandatangani deklarasi niat trilateral. Dokumen ini akan membuka jalan bagi penempatan sepatu bot tentara Prancis dan Inggris di tanah Ukraina.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Setelah gencatan senjata, Inggris dan Prancis akan mendirikan pusat-pusat militer di seluruh Ukraina,” tegas Starmer.

Baca Juga :  PM Mark Carney Peringatkan Alberta soal Bahaya Separatisme

Misi “Penjaminan”, Bukan Penyerangan

Namun, pasukan darat yang direncanakan ini tidak akan terlibat langsung dalam pertempuran dengan Rusia jika Moskow melancarkan invasi ulang. Macron memperjelas bahwa tujuan pasukan adalah “untuk memberikan jaminan kembali setelah gencatan senjata”.

Ia mencatat bahwa pasukan tersebut akan ditempatkan “jauh di belakang garis kontak”. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai ukuran atau cakupan kekuatan potensial tersebut. Selain itu, Macron menyebut koalisi telah menyusun rencana pemantauan gencatan senjata di bawah kepemimpinan Amerika.

AS Dukung Penuh di Tengah Isu Venezuela

Kehadiran delegasi AS menjadi sorotan tersendiri. Steve Witkoff menegaskan bahwa jaminan keamanan tersebut “sekuat yang pernah ada”. Ia menjawab keraguan apakah AS akan membantu pasukan Eropa jika diserang.

“Presiden tidak mundur dari komitmennya, dia kuat untuk negara Ukraina dan untuk kesepakatan damai,” ujar Witkoff. Padahal, Menteri Luar Negeri Marco Rubio batal hadir karena fokus Washington sedang tersedot ke krisis Venezuela pasca-serangan militer AS di sana.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat di Tamansari, 1.268 Jiwa Selamat, Kerugian Capai Rp28 Miliar

Tembok Penghalang Kremlin dan Perpecahan Eropa

Meskipun Trump mengklaim perdamaian sudah di depan mata, realitas di lapangan berkata lain. Pejabat Rusia berulang kali menolak gencatan senjata sementara. Kremlin juga menyatakan secara kategoris akan menentang penempatan tentara NATO di tanah Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.

“Kita hanya bisa mencapai kesepakatan damai jika Putin siap berkompromi. Putin tidak menunjukkan dia siap untuk damai,” aku Starmer realistis.

Di sisi lain, front Eropa tidak sepenuhnya solid. Georgia Meloni dari Italia dan Donald Tusk dari Polandia menyatakan negaranya tidak akan menyumbang pasukan. Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengambil jalan tengah: pasukan Jerman bisa berkontribusi, tetapi hanya akan berbasis di negara tetangga, bukan di dalam Ukraina.

Zelenskyy sendiri mengakui ketakutannya. “Jika mereka tidak siap sama sekali, maka itu sebenarnya bukan ‘koalisi yang bersedia’ (coalition of the willing),” sindirnya, menegaskan bahwa kehadiran fisik pasukan sekutu adalah kunci agar jaminan keamanan memiliki makna.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama
AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa
Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang
Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan
Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak
AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa
DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia
Bank of Japan Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:59 WIB

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama

Jumat, 18 September 2026 - 13:30 WIB

AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa

Jumat, 18 September 2026 - 12:23 WIB

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 September 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 September 2026 - 10:12 WIB

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Berita Terbaru

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:20 WIB