OTTAWA, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memberikan peringatan keras kepada pemerintah provinsi Alberta. Ia menyamakan rencana separatisme di sana dengan peristiwa Brexit yang mengguncang Inggris. Carney menyebut langkah tersebut sebagai “gertakan yang sangat berbahaya.”
Carney memiliki pengalaman mendalam mengenai dampak perpisahan sebuah wilayah. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Inggris pada tahun 2016 saat pemungutan suara Brexit berlangsung. Oleh karena itu, ia memahami kompleksitas yang muncul ketika sebuah wilayah memutuskan untuk meninggalkan entitas negaranya.
Pelajaran dari Brexit
Carney mengingatkan publik bahwa warga Inggris tidak memahami konsekuensi penuh dari suara mereka saat itu. Selanjutnya, ia menyoroti bagaimana pemerintah Inggris hingga kini masih berjuang memperbaiki dampak ekonomi dari keputusan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya menyaksikan sendiri apa yang terjadi di Inggris,” ujar Carney kepada wartawan di Ottawa. Ia merujuk pada janji-janji manis mengenai transisi ekonomi yang ternyata tidak terjadi. Menurutnya, pihak yang mempromosikan perpisahan sering kali menjanjikan negosiasi mudah setelah pemungutan suara terjadi. Namun, realitas di lapangan justru menciptakan ketidakpastian yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pertarungan Hukum di Alberta
Kelompok separatis di Alberta mengeklaim telah mengumpulkan lebih dari 300.000 tanda tangan. Jumlah ini sudah cukup menurut hukum setempat untuk memicu referendum kemerdekaan.
Namun, seorang hakim Alberta membatalkan inisiatif tersebut. Hakim menilai proses ini tidak sah karena separatis mengabaikan hak-hak kelompok masyarakat adat. Meskipun begitu, Premier Alberta, Danielle Smith, menolak keputusan hakim tersebut. Ia berjanji akan menyusun pertanyaan baru untuk surat suara agar tidak melanggar hukum yang berlaku. Smith berencana menanyakan kepada warga apakah mereka menginginkan pemerintah untuk memulai proses hukum menuju kemerdekaan.
Frustrasi Industri dan Ketegangan Regional
Kelompok separatis melayangkan tuduhan serius terhadap Ottawa. Mereka mengeklaim pemerintah federal mencekik industri minyak Alberta melalui pengaruh berlebihan. Mereka menuding kebijakan lingkungan federal menghambat investasi di sektor energi.
Di sisi lain, jajak pendapat menunjukkan dukungan terhadap kemerdekaan Alberta kini mencapai 30 persen. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam sejarah provinsi tersebut. Oleh karena itu, para pemimpin di kedua sisi meyakini bahwa proses ini akan mengubah wajah politik Kanada secara permanen, terlepas dari hasil akhir referendum nanti.
Ujian bagi Persatuan Kanada
Perselisihan ini membuktikan rapuhnya konsensus nasional di tengah transisi energi global tahun 2026. Singkatnya, langkah Alberta mencerminkan ketidakpuasan mendalam terhadap kebijakan federal.
Dengan demikian, pemerintahan Mark Carney kini menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan persatuan negara. Di tengah krisis ekonomi global, stabilitas politik menjadi syarat utama bagi kemajuan Kanada di panggung internasional.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












