HUT ke-80 RI: Lapangan Kerja Langka & Harga Pokok Melonjak, Sudahkah Rakyat Benar-Benar Merdeka?

Minggu, 17 Agustus 2025 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Warga antre membeli kebutuhan pokok di pasar tradisional Jakarta menjelang peringatan HUT RI ke-80, saat harga pangan terus melonjak. (Dok-Onlinews)

Warga antre membeli kebutuhan pokok di pasar tradisional Jakarta menjelang peringatan HUT RI ke-80, saat harga pangan terus melonjak. (Dok-Onlinews)

ONLINEWS.CO.ID – Pada HUT RI ke-80, bangsa seharusnya merayakan kemerdekaan penuh kemenangan. Namun, kenyataan berbicara lain. Masyarakat masih kesulitan mendapatkan lapangan kerja dan harus menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus melambung, sehingga pertanyaan apakah rakyat benar-benar sudah merdeka semakin relevan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Lapangan Kerja Semakin Sulit Diperoleh

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen. Angka ini memang turun tipis dari 4,82 persen tahun sebelumnya. Namun, jumlah penganggur masih tinggi, yakni 7,28 juta orang.

Khusus di Jakarta, kondisi justru memburuk. Pada Februari 2025, jumlah penganggur naik menjadi 338.390 orang dengan TPT 6,18 persen dari total angkatan kerja.

Fakta lebih pahit terlihat dari latar belakang pendidikan. Lulusan SMK menyumbang angka pengangguran terbesar, mencapai 8 persen. Lulusan SMA menempati posisi kedua dengan tingkat pengangguran 6,35 persen, sedangkan sarjana dan pascasarjana menyusul dengan 6,23 persen.

Baca Juga :  Siswa SMK di Jakarta Barat Dikeluarkan Setelah Sering Absen, Ternyata Disiksa Teman Sekelas

Artinya, meskipun pengangguran nasional sedikit menurun, jutaan warga, termasuk sarjana, tetap kesulitan mendapat pekerjaan sesuai kualifikasi.

2. Kebutuhan Pokok Makin Mahal, Daya Beli Menurun

Selain lapangan kerja, harga kebutuhan pokok menjad beban berat. BPS melaporkan inflasi tahunan nasional pada Juli 2025 mencapai 2,37 persen, naik dibanding Juni 2025 yang hanya 1,87 persen.

Inflasi pangan bahkan lebih mencolok. Harga makanan naik 3,75 persen pada Juli 2025 dibanding periode sama tahun lalu. Secara keseluruhan, inflasi Juli 2025 mencapai 2,4 persentertinggi sejak Juni 2024.

Lonjakan harga beras, minyak goreng, hingga cabai membuat daya beli masyarakat merosot. Warga di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) semakin sulit menjangkau kebutuhan dasar.

3. Apakah Rakyat Benar-Benar Sudah Merdeka?

Pertanyaan besar pun muncul: apa arti kemerdekaan bila jutaan warga tidak mampu mendapatkan pekerjaan layak meski berpendidikan tinggi? Apa makna merdeka bila harga pangan terus menghimpit masyarakat kecil?

Merdeka sejati seharusnya berarti bebas dari kemiskinan, memiliki akses pekerjaan layak, serta mampu memenuhi kebutuhan hidup. Faktanya, ketimpangan distribusi pekerjaan masih tinggi. Pemerintah pun masih mengandalkan program bantuan sosial untuk menopang rakyat yang paling terdampak.

Baca Juga :  Mitos Pekerja Tua: Beban Perusahaan atau Aset Tersembunyi?

4. Upaya Pemerintah Mengatasi Tantangan

Meski kondisi belum ideal, pemerintah terus berupaya memperbaiki situasi. Presiden Prabowo Subianto pada 15 Agustus 2025 menegaskan bahwa angka pengangguran turun menjadi 4,76 persen, sementara tingkat kemiskinan mencapai 8,47 persenterendah sepanjang sejarah.

Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program makan bergizi gratis, pelayanan kesehatan, revitalisasi sekolah, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. Target inflasi juga dipatok stabil di 2,5 persen untuk menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, Rancangan Anggaran 2026 mencapai USD 234 miliar dengan fokus pada kedaulatan pangan, energi, dan program makan gratis bagi 83 juta rakyat.

Merdeka yang Masih Perlu Diperjuangkan

Secara statistik, pengangguran menurun dan kemiskinan merosot. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan lapangan kerja layak masih langka dan harga kebutuhan pokok tetap menghimpit.

Merdeka sejati bukan sekadar upacara dan simbol proklamasi, melainkan hadirnya kesempatan kerja dan terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat. Selama ketimpangan sosial dan ekonomi masih nyata, pertanyaanapakah rakyat sudah merdeka?” akan tetap relevan. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB