POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa sedih saat seorang influencer mengumumkan rehat? Atau merasa bangga saat mereka sukses? Perasaan ini muncul seolah-olah mereka adalah teman masa kecil Anda. Fenomena ini bukan hal aneh. Masyarakat mengenalnya sebagai Parasocial Relationship.
Batas antara idola dan penggemar kini semakin kabur di era media sosial yang personal. Oleh karena itu, kita perlu memahami mekanisme “keintiman semu” ini. Hal ini penting agar kita tetap memiliki kesadaran sehat saat berinteraksi di ruang siber.
Ikatan Satu Arah: Ketika Otak Gagal Membedakan Realitas
Teori Parasocial Interaction menjelaskan keterbatasan biologis manusia. Otak kita sulit membedakan interaksi tatap muka langsung dengan wajah di layar. Pasalnya, otak memproses isyarat komunikasi—seperti kontak mata dan nada suara—sebagai hubungan sosial nyata.
Namun, hubungan ini bersifat asimetris atau satu arah. Audiens mungkin mengetahui detail sarapan hingga rahasia terdalam sang influencer. Sebaliknya, sang influencer sama sekali tidak mengenal ribuan penontonnya. Ketidakseimbangan ini menciptakan ilusi persahabatan yang kuat bagi audiens. Bagi figur publik, hal itu hanyalah bagian dari pekerjaan dan konten semata.
Arsitek Keintiman: Peran Vlog dan Live Streaming
Kemajuan format konten tahun 2026 mempererat hubungan parasosial secara signifikan. Dahulu selebriti terlihat “jauh” di atas panggung. Kini, influencer hadir tepat di samping bantal melalui layar ponsel.
Beberapa teknik menciptakan ilusi keintiman antara lain:
- Kontak Mata Buatan: Kreator meletakkan kamera sejajar mata. Hal ini memberi kesan mereka sedang berbicara pribadi dengan Anda.
- Vlog Keseharian: Momen “tidak sempurna” membuat penonton merasa masuk ke lingkaran orang dalam (inner circle).
- Interaksi Langsung: Dalam live streaming, influencer sering menyebut nama penonton. Validasi ini membuat kehadiran Anda terasa nyata secara personal.
Akses 24/7 terhadap kehidupan idola membuat audiens merasa terlibat dalam perjalanan hidup mereka. Alhasil, rasa kepemilikan ini sering kali berubah menjadi loyalitas yang sangat dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua Sisi Koin: Manfaat Sosial vs Risiko Obsesi
Hubungan parasosial tidak selalu berdampak buruk. Bahkan, figur teladan digital dapat memberikan dampak positif bagi banyak orang.
- Dukungan Komunitas: Bergabung dalam kelompok penggemar (fandom) meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging).
- Inspirasi: Kisah perjuangan figur publik menjadi sumber energi bagi penonton dengan masalah serupa.
Namun, risiko negatif selalu membayangi. Oleh sebab itu, pakar kesehatan mental memperingatkan bahaya obsesi berlebih. Banyak audiens mulai mengabaikan hubungan nyata di dunia fisik. Mereka memantau setiap detik kehidupan sang idola. Bahkan, stan culture yang beracun sering memicu konflik antar-penggemar. Perilaku agresif sering muncul saat idola tidak memenuhi ekspektasi mereka.
Menjaga Jarak Sehat di Ruang Siber
Hubungan parasosial merupakan bagian alami dari evolusi komunikasi di era teknologi. Meskipun terasa nyata, kita harus tetap sadar akan realitas sesungguhnya. Apa yang muncul di layar hanyalah sebagian kecil dari kenyataan.
Pada akhirnya, kuncinya terletak pada keseimbangan. Menikmati konten dan merasa terinspirasi adalah hal wajar. Namun, pastikan kita tetap mencurahkan lebih banyak energi emosional untuk orang-orang nyata. Dengan batasan jelas, kita bisa memanfaatkan koneksi digital tanpa kehilangan identitas diri dan kesehatan mental.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















