Mengapa Nuklir Inggris Tidak Menakuti AS, tapi Nuklir Iran Menjadi Krisis?

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Matahari di dalam wadah. Ilmuwan dunia kini berada di ambang revolusi energi dengan mencoba menjinakkan tenaga bintang melalui fusi nuklir, sebuah solusi yang menjanjikan listrik melimpah tanpa emisi karbon. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Matahari di dalam wadah. Ilmuwan dunia kini berada di ambang revolusi energi dengan mencoba menjinakkan tenaga bintang melalui fusi nuklir, sebuah solusi yang menjanjikan listrik melimpah tanpa emisi karbon. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 menyaksikan paradox keamanan yang sangat mencolok. Amerika Serikat tetap tenang meskipun Inggris memiliki ratusan hulu ledak nuklir yang mampu menghancurkan New York. Namun, Washington meluncurkan perang besar hanya untuk mencegah Iran memiliki satu perangkat nuklir.

Mengapa reaksi ini sangat berbeda? Konstruktivisme menjelaskan bahwa ancaman bukanlah sekadar masalah fisik atau jumlah senjata. Dalam konteks ini, ancaman adalah hasil dari konstruksi sosial dan persepsi identitas antarnegara.

Makna di Balik Senjata: Bukan Sekadar Angka

Pandangan Realisme tradisional selalu menghitung kekuatan berdasarkan jumlah tank, pesawat, dan rudal. Namun, realitas menunjukkan bahwa angka-angka tersebut tidak memiliki makna tanpa konteks sosial. Alexander Wendt menegaskan bahwa “makna” di balik senjata jauh lebih penting daripada senjata itu sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Inggris memiliki ratusan rudal nuklir, tetapi Amerika Serikat tidak pernah merasa terancam. Oleh karena itu, kekuatan militer Inggris dipandang sebagai “kekuatan kawan” yang justru memperkuat keamanan Amerika. Sebaliknya, kemajuan teknologi nuklir Iran dianggap sebagai ancaman eksistensial. Perbedaan ini membuktikan bahwa identitas aktor yang memegang senjata lebih menentukan daripada daya ledak senjata tersebut.

Baca Juga :  Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Identitas “Kawan” yang Menghapus Ketakutan

Persahabatan antara AS dan Inggris tidak tumbuh secara instan. Identitas sebagai “Negara Demokrasi Barat” menciptakan rasa saling percaya yang mendalam selama puluhan tahun. Akibatnya, kedua negara tidak lagi memandang satu sama lain melalui kacamata persaingan militer.

Dalam hal ini, identitas kolektif sebagai sekutu strategis mengubah fungsi senjata nuklir. Senjata Inggris menjadi instrumen perlindungan bersama dalam persepsi Washington. Selanjutnya, kesamaan nilai budaya dan sistem politik memperkuat keyakinan bahwa Inggris tidak akan pernah menyerang AS. Identitas “kawan” secara otomatis menurunkan status senjata mematikan menjadi simbol kerja sama pertahanan.

Narasi Sejarah dan Konstruksi Musuh

Berbeda dengan Inggris, hubungan AS-Iran terjebak dalam memori konflik yang kelam sejak Revolusi 1979. Oleh sebab itu, setiap langkah teknologi Iran selalu mendapatkan label negatif oleh elit politik di Washington. Narasi sejarah yang penuh kecurigaan membangun identitas Iran sebagai “lawan” atau “negara nakal” (rogue state).

Baca Juga :  Bhabinkamtibmas Palmerah Panen Pokcoy di Atap Masjid, Bukti Warga Bisa Swasembada Pangan

Terlebih lagi, media dan pemerintah AS secara konsisten membingkai Iran sebagai aktor yang tidak rasional. Secara simultan, narasi ini menciptakan persepsi sosial bahwa Iran akan segera menggunakan nuklir jika memilikinya. Konstruksi ancaman ini menjadi pembenaran bagi aksi militer yang masif di tahun 2026. Padahal, kalkulasi militer murni menunjukkan bahwa Iran mungkin tidak akan pernah menggunakan senjata tersebut karena risiko balasan yang mematikan.

Keamanan adalah Masalah Persepsi

Kasus nuklir Inggris dan Iran menunjukkan bahwa anarki internasional tidak memaksa negara untuk selalu curiga. Pada akhirnya, cara kita melihat satu sama lain menentukan apakah sebuah senjata menjadi jaminan keamanan atau pemicu perang. Oleh karena itu, diplomasi seharusnya fokus pada perbaikan identitas dan hubungan sosial, bukan sekadar membatasi jumlah hulu ledak. Dengan demikian, dunia dapat menjadi lebih damai jika kita mampu mendobrak konstruksi ancaman yang berakar pada prasangka masa lalu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer
Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza
Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan
Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis
Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya
14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:48 WIB

Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:37 WIB

Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan

Berita Terbaru

Rampungnya proses syuting Elden Ring. Sutradara Alex Garland dan studio A24 menyelesaikan tahapan pengambilan gambar film adaptasi game bernilai 100 juta dolar AS. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Sabtu, 1 Agu 2026 - 13:24 WIB