Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Isu perubahan iklim kini menjadi pusat gravitasi politik dunia pada tahun 2026. Namun, bagi penganut Marxisme dan Teori Ketergantungan, agenda ini menyimpan motif ekonomi yang jauh lebih dalam. Mereka menyebut fenomena ini sebagai “Imperialisme Hijau”.

Dalam konteks ini, negara-negara maju (Utara) dituduh menggunakan standar lingkungan untuk mengamankan dominasi mereka. Isu hijau bukan sekadar upaya menyelamatkan bumi. Sebaliknya, agenda ini menjadi instrumen untuk membatasi ruang industrialisasi bagi negara-negara berkembang (Selatan).

Proteksionisme Hijau: Menghambat Industri Selatan

Negara-negara maju membangun kekayaan mereka melalui industrialisasi berbasis energi fosil yang murah selama berabad-abad. Kini, saat negara berkembang mulai membangun industri manufakturnya, negara Utara justru memberlakukan aturan lingkungan yang sangat ketat. Akibatnya, negara-negara Selatan kehilangan akses terhadap energi murah yang sangat mereka butuhkan untuk berkembang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kritik Marxisme menekankan bahwa standar lingkungan ini berfungsi sebagai “Hambatan Non-Tarif”. Negara kaya memaksakan standar emisi yang sangat tinggi pada produk-produk impor dari Selatan. Oleh karena itu, produk manufaktur dari negara berkembang sulit bersaing di pasar global. Langkah ini secara efektif menjaga posisi negara berkembang sebagai penyedia bahan baku mentah semata dalam sistem ekonomi dunia.

Baca Juga :  Polisi Bongkar Fakta Baru WO Marwah, Pemiliknya Residivis Penipuan Wedding Organizer

Monopoli Teknologi dan Utang Ekologi

Ketimpangan transfer teknologi menjadi pilar kedua dari imperialisme hijau ini. Negara-negara Utara menguasai paten atas teknologi energi terbarukan yang paling efisien. Sebaliknya, negara berkembang tidak memiliki kapasitas riset yang sama besar. Akibatnya, negara Selatan terpaksa mengimpor teknologi hijau mahal dari korporasi multinasional milik negara Utara.

Lebih lanjut, kondisi ini menciptakan siklus ketergantungan finansial yang baru. Negara berkembang sering kali harus meminjam dana dari lembaga keuangan internasional untuk membeli teknologi tersebut. Dengan demikian, agenda transisi hijau justru memperdalam beban utang negara-negara miskin. Perspektif Teori Ketergantungan melihat hal ini sebagai cara Utara mengeksploitasi sumber daya Selatan melalui kedok “bantuan lingkungan”.

Dampak Green Deal Eropa terhadap Komoditas

Kebijakan European Green Deal menjadi contoh nyata dari praktik ini di tahun 2026. Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) mengenakan pajak tambahan pada produk impor yang memiliki jejak karbon tinggi. Kebijakan ini menghantam langsung ekspor komoditas utama seperti besi, baja, semen, dan produk pertanian dari negara berkembang.

Baca Juga :  Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Sebagai contoh, ekspor minyak sawit dan mineral kritis kini menghadapi kriteria “berkelanjutan” yang sangat subjektif. Negara berkembang melihat kebijakan ini sebagai proteksionisme terselubung untuk melindungi petani dan industri di Eropa. Secara simultan, kedaulatan ekonomi negara Selatan kian tergerus oleh aturan-aturan sepihak yang pemerintah Utara buat tanpa mempertimbangkan kesiapan lokal.

Imperialisme hijau membuktikan bahwa masalah lingkungan tidak terlepas dari konflik kelas internasional. Pada akhirnya, transisi energi yang adil membutuhkan lebih dari sekadar retorika penyelamatan bumi. Dunia memerlukan penghapusan hak paten teknologi hijau untuk kepentingan kemanusiaan universal.

Selain itu, negara maju harus membayar “utang ekologi” mereka melalui kompensasi finansial langsung tanpa syarat yang mengikat. Tanpa adanya keadilan dalam distribusi kekuatan ekonomi dan teknologi, agenda lingkungan global hanya akan menjadi alat penindasan baru. Masa depan bumi di tahun 2026 bergantung pada keberanian kita untuk merombak struktur kekuasaan global yang timpang ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang
Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran
Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru
Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad
Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un
PM Israel Benjamin Netanyahu Targetkan Turki di Suriah
Andy Burnham Luncurkan Program Penanganan Tunawisma
Sosok Natalie Harp, Asisten Setia Donald Trump

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:35 WIB

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:47 WIB

Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un

Berita Terbaru

Game Science mendadak merilis trailer gameplay berdurasi 15 menit untuk Black Myth: Zhong Kui. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Game Science Rilis Trailer Gameplay Black Myth: Zhong Kui

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:30 WIB

Morgan Stanley memprediksi harga memori DDR4 melonjak sekitar 50 persen pada kuartal ketiga 2026. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Harga Memori DDR4 Diprediksi Melonjak 50% pada Kuartal III

Sabtu, 22 Agu 2026 - 13:50 WIB

Tool overclocking HYDRA memungkinkan pemilik kartu grafis NVIDIA RTX 50 series mendapatkan performa ekstra, meski konsumsi daya dan suhu ikut meningkat sebagai konsekuensinya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HYDRA, Tool Overclocking yang Buka Potensi Ekstra RTX 50

Sabtu, 22 Agu 2026 - 12:48 WIB