Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harta karun hijau di bawah ancaman. Negara-negara berkembang kini memperketat kedaulatan biologis mereka guna mencegah eksploitasi sepihak atas sumber daya genetik oleh industri farmasi global. Dok: Istimewa.

Harta karun hijau di bawah ancaman. Negara-negara berkembang kini memperketat kedaulatan biologis mereka guna mencegah eksploitasi sepihak atas sumber daya genetik oleh industri farmasi global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia di tahun 2026 menyadari bahwa masa depan ekonomi tidak hanya bergantung pada teknologi digital. Dalam konteks ini, plasma nutfah atau sumber daya genetik telah menjadi “emas hijau” yang diperebutkan oleh banyak negara. Oleh karena itu, diplomasi biodiversitas kini menempati prioritas utama dalam agenda keamanan nasional negara-negara megabiodiversitas.

Negara-negara di Belahan Bumi Selatan (Selatan Global) mulai mempertegas kedaulatan atas kekayaan hayati mereka. Mereka menolak praktik biopiracy yang selama ini memungkinkan pihak asing mengambil sumber daya biologis tanpa izin dan tanpa bagi hasil yang adil.

Konflik Kepentingan: Farmasi Global vs Hak Lokal

Industri farmasi raksasa terus berupaya mencari bahan baku obat baru dari hutan tropis dan samudra. Namun, sering kali mereka mematenkan temuan genetik tersebut tanpa memberikan kompensasi kepada negara asal. Akibatnya, muncul ketegangan antara hukum paten internasional dengan hak kedaulatan biologis suatu bangsa.

Lebih lanjut, pengetahuan tradisional masyarakat adat sering menjadi sasaran eksploitasi tanpa pengakuan intelektual. Oleh sebab itu, negara-negara seperti Indonesia dan Brasil kini menerapkan aturan akses yang sangat ketat bagi peneliti asing. Mereka menuntut adanya transfer teknologi dan kepemilikan paten bersama sebagai syarat eksplorasi biologis. Keadilan ekonomi harus menjadi landasan utama dalam setiap riset genetik lintas batas.

Protokol Nagoya: Senjata Hukum Melawan Biopiracy

Dalam sistem tata kelola lingkungan global, Protokol Nagoya berfungsi sebagai pilar utama perlindungan sumber daya. Protokol ini mengatur mekanisme Access and Benefit-Sharing (ABS) yang sangat mendetail. Dalam hal ini, pihak yang ingin mengakses sumber daya genetik harus mendapatkan izin dari otoritas nasional penyedia.

Sebagai hasilnya, negara penyedia memiliki hak hukum untuk menagih bagi hasil dari setiap keuntungan komersial yang muncul. Protokol ini juga melindungi pengetahuan tradisional agar tidak dicuri melalui mekanisme digital (Digital Sequence Information). Meskipun demikian, tantangan penegakan hukum tetap tinggi karena banyak korporasi yang mencoba mencari celah regulasi di luar yurisdiksi nasional.

Alam sebagai Instrumen Soft Power Baru

Upaya perlindungan biodiversitas kini memberikan keuntungan diplomatik tambahan bagi sebuah negara. Secara simultan, keberhasilan menjaga kelestarian hutan dan laut menjadi bukti kepemimpinan global dalam isu iklim. Negara yang mampu mengelola plasma nutfahnya dengan baik akan mendapatkan citra positif sebagai “Penjaga Paru-paru Dunia”.

Baca Juga :  Thrifting & Upcycling: Gaya Sadar Lingkungan Generasi Baru

Terlebih lagi, status sebagai negara megabiodiversitas memberikan daya tawar dalam negosiasi perdagangan internasional. Negara-negara maju kini membutuhkan kerja sama genetik untuk mengembangkan vaksin dan pangan masa depan. Dengan demikian, kekayaan alam tidak lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan sebagai modal politik yang sangat kuat. Soft power berbasis biodiversitas ini terbukti efektif dalam memengaruhi kebijakan lingkungan di tingkat PBB pada tahun 2026.

Masa depan diplomasi hayati sangat bergantung pada kesolidan aliansi negara-negara kaya biodiversitas. Pada akhirnya, kedaulatan plasma nutfah adalah benteng pertahanan terakhir melawan kolonialisme gaya baru di bidang sains. Dunia memerlukan sistem internasional yang tidak hanya menghargai inovasi laboratorium, tetapi juga menghormati kedaulatan tanah dan hutan. Oleh karena itu, memperkuat kerangka hukum domestik dan internasional menjadi keharusan strategis demi menjamin keadilan bagi generasi mendatang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta H. Tri Waluyo SH. (Posnews/MR)

JABODETABEK

Tri Waluyo Desak Pemprov DKI Evaluasi Data Desil Penerima Bansos

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:35 WIB