Doktrin Perang Abadi: Israel Bangun Zona Penyangga di Lebanon, Gaza, dan Suriah

Jumat, 10 April 2026 - 08:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peta baru konflik Timur Tengah. Israel beralih ke strategi

Peta baru konflik Timur Tengah. Israel beralih ke strategi "zona penyangga" semi-permanen di wilayah tetangga, mengakui bahwa musuh-musuhnya tidak dapat dihancurkan sepenuhnya secara instan. Dok: (AP Photo/Hussein Malla)

TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Israel mulai merombak total arsitektur keamanan nasionalnya menyusul konflik yang tak kunjung usai. Langkah ini secara resmi menempatkan Israel dalam kondisi “perang abadi” melawan musuh-musuh regionalnya.

Dalam konteks ini, Israel kini fokus pada penyitaan dan penguasaan wilayah teritorial di negara-negara tetangga sebagai benteng perlindungan. Strategi ini merupakan pengakuan jujur dari para pejabat militer bahwa ancaman asimetris dari kelompok bersenjata tidak dapat pemerintah hilangkan sepenuhnya dalam waktu dekat.

Sabuk Keamanan: Dari Dataran Hermon hingga Gaza

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan konfirmasi resmi mengenai pembentukan “sabuk keamanan” ini pada pesan video akhir Maret lalu. Israel berupaya menciptakan ruang hampa militer di luar perbatasan aslinya guna menjamin keselamatan warga sipil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara khusus, zona penyangga ini mencakup tiga front utama:

  1. Gaza: Israel mempertahankan kendali atas lebih dari separuh wilayah kantong tersebut pasca-gencatan senjata Oktober lalu.
  2. Suriah: Pembangunan sabuk keamanan yang membentang dari puncak Gunung Hermon hingga Sungai Yarmuch.
  3. Lebanon: Invasi darat untuk membersihkan area hingga Sungai Litani, yang mencakup sekitar 8 persen wilayah kedaulatan Lebanon.
Baca Juga :  Sopir Pembunuh Bocah 11 Tahun di Pondok Pinang Meninggal Dunia di RS Polri

Strategi Litani: Penghancuran Desa dan Pembersihan Area

Di front utara, militer Israel menargetkan pembersihan area sejauh 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan. Tujuannya adalah untuk menjauhkan kota-kota perbatasan Israel dari jangkauan granat berpeluncur roket (RPG) dan rudal anti-tank milik Hezbollah.

Seorang perwira militer senior mengungkapkan bahwa hampir 90 persen rumah di beberapa desa Lebanon Selatan berafiliasi dengan infrastruktur senjata. Oleh karena itu, Israel memandang bangunan-bangunan tersebut sebagai target militer sah yang harus pemerintah ratakan dengan tanah. Langkah ini mengikuti model operasi di Rafah dan Khan Younis di Gaza, di mana kebijakan bumi hangus pemerintah terapkan guna melumpuhkan perlawanan gerilya.

Penolakan Peace Deal dan Skeptisisme Publik

Pergeseran strategi ini juga mencerminkan kegagalan upaya diplomasi jangka panjang selama beberapa dekade terakhir. Akibatnya, kepercayaan publik Israel terhadap perjanjian damai melalui negosiasi berada pada titik terendah di tahun 2026.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya 21 persen warga Israel yang percaya pada solusi dua negara dengan Palestina. Terlebih lagi, mayoritas warga mengekspektasikan dimulainya kembali pertempuran dalam waktu singkat meskipun gencatan senjata sedang berlangsung. “Israel tidak lagi menunggu serangan datang. Israel menyerang secara preventif saat melihat ancaman muncul,” tegas Brigadir Jenderal (Purn) Assaf Orion.

Baca Juga :  Zelenskyy Ungkap Bukti Rusia Pasok Intelijen Tempur ke Iran

Risiko Hukum Internasional dan Beban Militer

Meskipun demikian, strategi zona penyangga ini mengundang kritik tajam dari para pakar hukum internasional. Penghancuran sistematis terhadap properti sipil tanpa analisis kasus per kasus dianggap melanggar norma hukum perang global. Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai kedaulatan wilayah kedaulatan Lebanon yang kian tergerus oleh ambisi ekspansi teritorial tersebut.

Secara simultan, pengerahan ribuan personel untuk menjaga front di empat wilayah sekaligus mulai membebani kapasitas militer nasional. Analis keamanan Ofer Shelah memperingatkan bahwa mempertahankan pos-pos di luar perbatasan internasional akan menguras sumber daya manusia dan logistik secara signifikan. Pada akhirnya, kedaulatan informasi dan militer Israel akan diuji oleh seberapa lama mereka mampu menanggung beban “perang tanpa akhir” ini di tengah isolasi diplomatik global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri
Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu – Tablet dan TV Program MBG
Kurir Sabu 510 Gram Ditangkap di Pasar Rebo, Polisi Kejar Bandar dan Penerima
Pesawat Militer AS Tetap Pasok Peralatan Karantina Ebola
Pasokan Air PAM Jaya Terganggu 5-6 Juni, 45 Kelurahan Diminta Siapkan Cadangan
Fortuner Hantam Dua Motor di Kemang Bogor, Satu Pengendara Tewas di Tempat
Aliansi: Donald Trump Konfirmasi Hadiri KTT NATO di Turki
KPK Jerat Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi, Sita Dolar AS hingga Dolar Singapura

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:03 WIB

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:42 WIB

Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu – Tablet dan TV Program MBG

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kurir Sabu 510 Gram Ditangkap di Pasar Rebo, Polisi Kejar Bandar dan Penerima

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:59 WIB

Pesawat Militer AS Tetap Pasok Peralatan Karantina Ebola

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:51 WIB

Pasokan Air PAM Jaya Terganggu 5-6 Juni, 45 Kelurahan Diminta Siapkan Cadangan

Berita Terbaru

Penertiban birokrasi federal. Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempermudah pemecatan 8.000 pegawai federal senior bergaji tinggi demi efisiensi kerja. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Jun 2026 - 15:03 WIB

Abaikan blokir hukum. Sebanyak 20 penerbangan militer Amerika Serikat tetap mendarat di Kenya untuk merampungkan proyek fasilitas karantina Ebola di tengah protes warga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pesawat Militer AS Tetap Pasok Peralatan Karantina Ebola

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:59 WIB