Diplomasi Buntu di Pakistan: Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai Permanen

Selasa, 14 April 2026 - 10:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meja perundingan yang mendingin. Perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan Selat Hormuz dalam kondisi blokade dan gencatan senjata yang kian rapuh di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Meja perundingan yang mendingin. Perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan Selat Hormuz dalam kondisi blokade dan gencatan senjata yang kian rapuh di tahun 2026. Dok: Istimewa.

ISLAMABAD, POSNEWS.CO.ID – Upaya diplomatik tingkat tinggi guna mengakhiri peperangan di Timur Tengah berakhir tanpa hasil nyata pada hari Minggu. Delegasi Amerika Serikat dan Iran secara resmi meninggalkan meja perundingan di Islamabad tanpa mengantongi kesepakatan damai permanen.

Dalam konteks ini, perundingan maraton yang berlangsung selama 21 jam tersebut gagal menjembatani perbedaan tajam antar-kedua negara. Oleh karena itu, ketidakpastian mengenai stabilitas energi global kembali menyelimuti pasar internasional di tahun 2026.

Garis Merah Washington dan Isu Nuklir

Wakil Presiden AS JD Vance memimpin langsung delegasi Washington dalam pertemuan bersejarah tersebut. Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menetapkan “garis merah” yang sangat jelas bagi kedaulatan keamanannya. Secara khusus, Washington menuntut komitmen afirmatif dari Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir.

“Mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami,” ujar Vance dalam konferensi pers singkat di Islamabad. Meskipun demikian, Vance mengeklaim bahwa kegagalan ini merupakan berita buruk bagi Teheran daripada Washington. AS kini mengajukan proposal sederhana sebagai “penawaran final dan terbaik” bagi pihak Iran.

Baca Juga :  Dari Netizen untuk Dedi Sitorus PDIP : Jangan Sok Bicara HAM! Tanya Ibu Mega, Pak Andhika dan Om Hendro: Bagaimana ‘Munir dan Theys’?

Iran: “Tuntutan AS Sangat Berlebihan”

Di sisi lain, otoritas Teheran memberikan respon defensif melalui kantor berita Tasnim. Pihak Iran menuduh Amerika Serikat mencoba mencapai tujuan perang melalui meja negosiasi. Dalam hal ini, Iran menolak tuntutan pemindahan material nuklir ke luar wilayah kedaulatannya.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengecam apa yang ia sebut sebagai ambisi berlebihan dari delegasi Amerika. Akibatnya, perundingan yang melibatkan menteri luar negeri Abbas Araghchi tersebut tidak membuahkan draf perdamaian. Iran bersikeras mempertahankan hak kedaulatannya atas program teknologi dalam negeri di tengah tekanan sanksi yang masih berjalan.

Selat Hormuz: Arteri Energi yang Tersumbat

Kegagalan diplomasi ini berdampak langsung pada urat nadi ekonomi dunia. Selat Hormuz tetap berada dalam kondisi blokade efektif sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Padahal, jalur sempit tersebut sangat vital bagi transportasi gas alam cair (LNG) dan seperlima pasokan minyak dunia.

Bahkan, harga energi global terus melonjak seiring jatuhnya angka kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump. Oleh sebab itu, Washington terus mendesak Teheran guna menjamin jalur aman bagi kapal komersial. Namun, tanpa kesepakatan politik yang komprehensif, navigasi internasional di wilayah Teluk tetap berada dalam status risiko tinggi.

Persiapan Operasi Militer Pembersihan Ranjau

Situasi lapangan semakin memanas dengan pergerakan armada laut. Militer Amerika Serikat melaporkan bahwa dua kapal perusak Angkatan Laut AS mulai memasuki jalur air tersebut. Tujuannya adalah mempersiapkan operasi pembersihan ranjau laut yang diduga milik Garda Revolusi Iran (IRGC).

Meskipun Iran membantah klaim keberadaan ranjau tersebut, kekhawatiran pelaku industri pelayaran tetap tinggi. Terlebih lagi, jeda pertempuran saat ini dipandang sangat rapuh karena militer Israel masih terus menggempur posisi Hezbollah di Lebanon. Pada akhirnya, dunia kini menanti berakhirnya masa gencatan senjata pada 21 April mendatang sebagai penentu apakah perang total akan kembali meletus di sisa tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS
Prabowo dan Putin Pererat Kerja Sama Energi serta Konsolidasi Kekuatan di BRICS
Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum
Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade
China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz
Perbaikan Jalan Tol Jakarta-Bandung hingga 18 April, Ini Titik Penutupan Lajurnya
Dua Wanita di Lebak Jadi Tersangka Injak Al-Qur’an, Polisi: Mengaku Salah dan Minta Maaf
Tersangka Narkoba Dilimpahkan Serentak, Bareskrim Serahkan ke Kejari Dumai dan Medan

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 14:27 WIB

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Selasa, 14 April 2026 - 13:36 WIB

Prabowo dan Putin Pererat Kerja Sama Energi serta Konsolidasi Kekuatan di BRICS

Selasa, 14 April 2026 - 12:45 WIB

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 April 2026 - 11:40 WIB

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WIB

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Berita Terbaru

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

INTERNASIONAL

Meksiko Protes Kematian Ke-14 Warganya dalam Tahanan ICE AS

Selasa, 14 Apr 2026 - 14:27 WIB

Diplomasi perspektif di Beijing. PM Spanyol Pedro Sánchez menyerukan pemahaman global yang lebih seimbang terhadap Tiongkok, menekankan bahwa kerja sama multilateral adalah kunci kemakmuran bersama di tengah dunia yang multipolar tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pedro Sánchez Desak Dunia Tinggalkan Pola Pikir Zero-Sum

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:45 WIB

Alarm ekonomi dunia. Harga minyak mentah melonjak 8 persen dan bursa saham Asia memerah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan Iran di tengah kegagalan kesepakatan damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Harga Minyak Tembus $100 Pasca-Pengumuman Blokade

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:40 WIB

Pecah kongsi global. Tiongkok, Uni Eropa, dan Rusia secara serentak menolak rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, mendesak de-eskalasi militer demi stabilitas pasar energi dunia tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China dan Eropa Desak Jalur Diplomasi Akhiri Krisis Selat Hormuz

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WIB