JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meletus sejak 28 Februari lalu kini menunjukkan sinyal de-eskalasi. Pemerintah Iran secara resmi sedang mempelajari draf perdamaian yang Washington ajukan guna menghentikan permusuhan fisik.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyatakan bahwa Teheran akan segera menyampaikan jawaban resmi mereka. Sementara itu, Presiden Donald Trump mengeklaim bahwa kedua belah pihak telah menunjukkan keinginan kuat untuk mengakhiri perang melalui dialog intensif di Ruang Oval.
Memorandum Satu Halaman: Pintu Masuk Perundingan
Sumber diplomatik menyebutkan bahwa kesepakatan kini berpusat pada memorandum satu halaman. Dokumen tersebut berfungsi sebagai kerangka awal untuk mengakhiri konflik secara formal. Selanjutnya, kesepakatan ini akan memulai jam hitung mundur selama 30 hari untuk negosiasi mendalam.
Fokus diskusi lanjutan tersebut meliputi:
- Pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
- Pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran.
- Penetapan batasan baru bagi program nuklir Teheran.
- Pelepasan dana Iran yang saat ini masih Amerika Serikat bekukan.
Optimisme Trump dan Ancaman Serangan Balasan
Meskipun terlihat optimis pada Rabu sore, Presiden Trump sempat menunjukkan sikap pesimis pada pagi harinya. Melalui unggahan di Truth Social, ia bahkan mengancam akan memulai kembali kampanye pengeboman masif jika Teheran menolak proposal tersebut.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami memiliki pembicaraan yang sangat baik,” ujar Trump kepada wartawan. Namun demikian, Trump tetap mempertahankan blokade militer di kawasan tersebut. Komando Sentral AS (CENTCOM) melaporkan pasukannya telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Iran yang mencoba melanggar blokade pada Rabu pagi.
Reaksi Pasar: Harga Minyak Brent Tumbang
Laporan mengenai kemungkinan berakhirnya perang langsung mengguncang pasar komoditas energi. Harga minyak mentah Brent sempat merosot tajam sekitar 11 persen hingga menyentuh angka USD 98 per barel. Oleh karena itu, pasar saham global melonjak tajam seiring dengan menurunnya imbal hasil obligasi akibat optimisme pasokan energi yang akan kembali normal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun harga kembali merangkak naik ke atas level USD 100, fluktuasi ini membuktikan betapa besarnya ketergantungan ekonomi dunia pada stabilitas Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelum pecahnya perang.
Ganjalan Utama: Uranium dan Proksi Regional
Tantangan terbesar tetap berada pada isu nuklir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa seluruh cadangan uranium yang diperkaya harus keluar dari wilayah Iran. Saat ini, Iran diperkirakan menyimpan lebih dari 400 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian mendekati standar senjata militer.
Selain itu, proposal terbaru AS dilaporkan belum menyentuh tuntutan lama Washington mengenai penghentian program rudal balistik dan dukungan terhadap milisi proksi di Timur Tengah. Anggota parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut teks tersebut lebih menyerupai “daftar keinginan Amerika” daripada realitas politik di lapangan.
Menanti Diplomasi Jared Kushner
Proses negosiasi ini dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Kehadiran Kushner menunjukkan bahwa Gedung Putih menggunakan jalur diplomasi personal untuk memecah kebuntuan.
Singkatnya, keberhasilan memorandum ini akan menjadi penentu apakah dunia akan terhindar dari resesi energi yang parah. Masyarakat internasional kini menanti respons resmi dari Teheran dalam beberapa jam ke depan guna memastikan apakah perdamaian di tahun 2026 ini benar-benar akan terwujud.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia











