Ukraina Tuduh Rusia Lakukan 1.800 Pelanggaran Jelang Hari Kemenangan

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gencatan senjata di atas kertas. Presiden Volodymyr Zelenskyy menuding Moskow secara sengaja mengabaikan usulan jeda tempur melalui rentetan serangan rudal dan drone. Dok: Istimewa.

Gencatan senjata di atas kertas. Presiden Volodymyr Zelenskyy menuding Moskow secara sengaja mengabaikan usulan jeda tempur melalui rentetan serangan rudal dan drone. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Harapan rakyat Ukraina untuk mendapatkan jeda dari dentuman artileri kembali sirna. Presiden Volodymyr Zelenskyy secara resmi menuduh Rusia mengabaikan usulan gencatan senjata yang Kyiv ajukan pada hari Rabu dengan melancarkan puluhan serangan di medan perang, serangan udara, serta teror drone.

Zelenskyy sebelumnya mengusulkan penghentian permusuhan mulai 6 Mei. Langkah ini merupakan respons atas rencana gencatan senjata sepihak pemimpin Rusia Vladimir Putin pada 8-9 Mei guna memperingati kemenangan Perang Dunia II. Namun, Zelenskyy menilai Moskow justru menunjukkan penolakan nyata terhadap upaya penyelamatan nyawa manusia.

Ribuan Pelanggaran dalam Hitungan Jam

Hingga Rabu pagi, data pemerintah Ukraina mencatat setidaknya 1.820 pelanggaran militer oleh pihak Rusia. Moskow sendiri tidak pernah secara resmi mengonfirmasi kepatuhan mereka terhadap usulan Ukraina tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pilihan Rusia merupakan penolakan yang jelas terhadap gencatan senjata,” tegas Zelenskyy dalam pidato video malamnya. Ia menyatakan bahwa Ukraina kini sedang menentukan respons yang sepenuhnya sah terhadap agresi tersebut. Menurutnya, Rusia telah berperang sampai pada titik di mana parade militer utama mereka kini sangat bergantung pada pergerakan pasukan Ukraina.

Baca Juga :  Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Ancaman Serangan Masif ke Ibu Kota Kyiv

Dari pihak Rusia, retorika perang semakin memanas menjelang peringatan 9 Mei. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengeluarkan peringatan keras kepada misi diplomatik asing di Kyiv. Moskow mendesak otoritas internasional untuk mengevakuasi staf mereka secepat mungkin.

Zakharova memperingatkan serangan rudal besar-besaran terhadap Kyiv jika Ukraina mencoba mengganggu peringatan Hari Kemenangan. Selain itu, Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa setiap upaya sabotase akan mendapatkan balasan yang menghancurkan. Di Moskow, Walikota Sergei Sobyanin melaporkan sebuah drone Ukraina sempat menghantam gedung bertingkat pada Senin malam, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Tragedi di Sumy dan Zaporizhzhia

Realitas perang di lapangan terus memakan korban warga sipil. Di wilayah timur laut Sumy, serangan drone Rusia menewaskan dua orang yang sedang berada di dalam mobil pribadi dan di dekat sebuah taman kanak-kanak.

Bahkan, kehancuran infrastruktur juga meluas ke kota-kota besar lainnya:

  • Zaporizhzhia: Serangan udara lanjutan merusak situs industri setelah sebelumnya menewaskan 12 orang.
  • Merefa & Vilnyansk: Rudal Rusia menghantam pemukiman warga dan fasilitas publik.
  • Kharkiv & Kryvyi Rih: Serangan tengah malam merusak gedung-gedung swasta dan jaringan listrik.
Baca Juga :  Diplomasi Iklim: Selamatkan Bumi atau Panggung Pertarungan Kekuasaan Baru?

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyebut seruan gencatan senjata Rusia pada 9 Mei sebagai “kepalsuan diplomatik” yang tidak memedulikan nyawa manusia.

Strategi Pertahanan dan Celah Serangan Jarak Jauh

Zelenskyy mengungkapkan laporan intelijen yang menunjukkan Rusia mulai memusatkan sistem pertahanan udara mereka di sekitar Moskow guna melindungi parade militer. Oleh karena itu, ia menilai kondisi ini menciptakan “peluang tambahan” bagi militer Ukraina untuk meluncurkan serangan jarak jauh ke wilayah lain di Rusia.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv memang meningkatkan intensitas serangan terhadap situs militer-industri dan infrastruktur energi Rusia, terutama fasilitas minyak. Langkah ini bertujuan untuk melumpuhkan mesin perang Kremlin di tahun 2026.

Keputusasaan dan Pilihan Rakyat

Masyarakat Ukraina sendiri mulai skeptis terhadap keberhasilan upaya gencatan senjata sepihak. Banyak warga yang mendesak militer mereka untuk tidak lagi berdiam diri saat kota-kota mereka terus dihujani bom.

Singkatnya, selama ambisi militer masih mendominasi di atas kemanusiaan, jalur perdamaian di Eropa Timur tetap akan tertutup rapat. Masyarakat internasional kini menanti dengan cemas apa yang akan terjadi pada tanggal 9 Mei mendatang, yang diprediksi akan menjadi salah satu hari paling tegang dalam sejarah konflik panjang ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB