PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Presiden Tiongkok Xi Jinping bersiap tiba di Korea Utara untuk kunjungan kenegaraan pada hari Senin. Sebab, langkah strategis ini bertujuan untuk memperkokoh aliansi bilateral kedua negara secara langsung.
Kunjungan penting ini berlangsung setelah Xi menggelar pertemuan puncak berturut-turut bersama Donald Trump dan Vladimir Putin. Dengan demikian, Tiongkok terus memperkuat posisinya sebagai pendukung diplomatik utama bagi negara berpenduduk 26 juta jiwa tersebut.
Kebuntuan Diplomasi Nuklir dan Komitmen Stabilitas
Hubungan diplomatik antara Pyongyang dan Washington saat ini masih berada dalam kondisi buntu tanpa kemajuan. Meskipun demikian, Gedung Putih mengeklaim Tiongkok dan AS tetap berkomitmen mewujudkan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, memaparkan fokus utama dari pertemuan puncak tersebut. Menurutnya, kedua pemimpin negara akan bertukar pandangan demi memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.
Namun, saudara perempuan Kim Jong Un mengeluarkan pernyataan keras menjelang kedatangan delegasi Tiongkok. Ia menegaskan bahwa program senjata nuklir Korea Utara merupakan garis batas yang tidak dapat mereka tawar.
Skenario Penyangga Geopolitik dan Pengaruh Rusia
Guru besar diplomasi dari Universitas DePaul, Minseon Ku, memberikan analisis mendalam mengenai kunjungan tersebut. Ia menilai pemerintah Beijing kini cenderung menerima status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Oleh karena itu, Xi Jinping kemungkinan besar akan mendesak Kim Jong Un untuk mengutamakan stabilitas regional. Langkah preventif ini penting untuk meredam potensi konflik bersenjata baru di wilayah perbatasan.
Pengamat dari Harvard University Asia Center, Seong-Hyon Lee, juga menyuarakan pandangan yang senada. Menurutnya, Tiongkok kini lebih fokus menjaga daya tahan rezim Pyongyang daripada memaksakan proses denuklirisasi.
Sementara itu, Korea Utara juga sukses mengamankan dukungan militer penting dari Rusia untuk perang Ukraina. Dengan demikian, pertemuan puncak ini dapat menjadi taktik Tiongkok untuk mengimbangi pengaruh Rusia yang kian membesar.
Ketegangan Regional di Asia Timur
Analis menilai Korea Utara memiliki peran strategis sebagai penyeimbang kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan. Apalagi, hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Jepang terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Hal ini terjadi setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memberikan sinyal intervensi militer terkait Taiwan. Oleh sebab itu, Tiongkok wajib mempererat kemitraan pertahanan formal satu-satunya demi menjaga kedaulatan wilayah mereka.
Pengamat dari Kyungnam University, Lim Eul-chul, memproyeksikan Tiongkok akan menarik Korea Utara lebih aktif dalam orbitnya. Pada akhirnya, langkah taktis ini akan memperkokoh poros pertahanan bersama di kawasan Asia Timur.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












