YEREVAN, POSNEWS.CO.ID – Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilihan umum parlemen pada hari Minggu kemarin. Sementara itu, pemerintah petahana sedang berupaya keras untuk melonggarkan hubungan diplomatik dengan Moskow. Sebab, mereka ingin memperdalam kerja sama dengan negara-negara Barat di tengah tekanan Rusia yang kian memuncak.
Ambisi Geopolitik Barat Nikol Pashinyan
Perdana Menteri Nikol Pashinyan bersama Partai Kontrak Sipil mengincar mandat kuat dari rakyat dalam pemilu kali ini. Dengan demikian, mereka dapat memuluskan arah geopolitik baru Armenia menuju Uni Eropa secara legal. Namun, mereka harus menghadapi oposisi lokal yang sangat vokal mendukung kebijakan Kremlin.
Saat memberikan suaranya, Pashinyan menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemerdekaan dan demokrasi negara. Selain itu, ia secara terbuka menyebut Uni Eropa sebagai mitra utama dalam implementasi reformasi hukum. Meskipun begitu, ia mengeklaim hubungan bilateral Armenia dan Rusia tetap berjalan secara institusional berdasarkan rasa saling menghormati.
Intimidasi Ekonomi dan Blokade Produk Rusia
Hubungan diplomatik kedua negara sebenarnya kian memburuk setelah Pashinyan secara aktif mendekati para pemimpin Eropa. Akibatnya, Moskow memperketat pembatasan ekspor komoditas pertanian asal Armenia dalam beberapa pekan terakhir. Rusia secara sepihak melarang impor bunga, minuman keras, anggur, kentang, hingga produk perikanan dari Armenia.
Komisi Eropa mengecam keras langkah boikot sepihak dari pemerintah Rusia tersebut. Sebab, mereka menilai Moskow sengaja menggunakan senjata ekonomi untuk memberikan tekanan politik kepada Armenia. Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin juga memberikan peringatan keras yang membandingkan jalan politik Armenia dengan negara Ukraina.
Kedaulatan Energi dan Sengketa Oposisi
Pashinyan juga harus menghadapi perlawanan politik yang sengit dari kelompok oposisi Strong Armenia. Sebab, partai pimpinan miliarder Samvel Karapetyan tersebut menuduh Pashinyan sengaja memicu perang terbuka dengan Rusia. Aparat hukum sendiri telah menahan Karapetyan atas tuduhan makar sebelum pemungutan suara berlangsung.
Rusia saat ini masih mengendalikan sebagian besar sektor energi dan infrastruktur penting di Armenia. Oleh karena itu, Putin mengingatkan bahwa Armenia tidak akan bisa bergabung dengan Uni Eropa. Sebab, negara tersebut masih terikat perjanjian kepabeanan dalam Uni Ekonomi Eurasia pimpinan Rusia.
Dukungan Donald Trump dan Tantangan Azerbaijan
Menariknya, kebijakan luar negeri Pashinyan justru mendapatkan dukungan tak terduga dari Presiden AS Donald Trump. Trump memuji Pashinyan sebagai sahabat yang hebat dan pemimpin yang membuat Armenia menjadi sangat aman. Meskipun demikian, tantangan domestik terbesar Pashinyan adalah penyelesaian sengketa wilayah Karabakh dengan Azerbaijan.
Kelompok oposisi terus mengkritik keras langkah damai Pashinyan dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Pada akhirnya, hasil pemilu parlemen ini akan menentukan nasib stabilitas keamanan kawasan Kaukasus Selatan. Dengan demikian, rakyat Armenia kini menanti apakah jalur diplomasi Barat ini mampu membawa kemakmuran jangka panjang.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa













