Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Juni 2026 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

YEREVAN, POSNEWS.CO.ID – Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilihan umum parlemen pada hari Minggu kemarin. Sementara itu, pemerintah petahana sedang berupaya keras untuk melonggarkan hubungan diplomatik dengan Moskow. Sebab, mereka ingin memperdalam kerja sama dengan negara-negara Barat di tengah tekanan Rusia yang kian memuncak.

Ambisi Geopolitik Barat Nikol Pashinyan

Perdana Menteri Nikol Pashinyan bersama Partai Kontrak Sipil mengincar mandat kuat dari rakyat dalam pemilu kali ini. Dengan demikian, mereka dapat memuluskan arah geopolitik baru Armenia menuju Uni Eropa secara legal. Namun, mereka harus menghadapi oposisi lokal yang sangat vokal mendukung kebijakan Kremlin.

Saat memberikan suaranya, Pashinyan menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemerdekaan dan demokrasi negara. Selain itu, ia secara terbuka menyebut Uni Eropa sebagai mitra utama dalam implementasi reformasi hukum. Meskipun begitu, ia mengeklaim hubungan bilateral Armenia dan Rusia tetap berjalan secara institusional berdasarkan rasa saling menghormati.

Intimidasi Ekonomi dan Blokade Produk Rusia

Hubungan diplomatik kedua negara sebenarnya kian memburuk setelah Pashinyan secara aktif mendekati para pemimpin Eropa. Akibatnya, Moskow memperketat pembatasan ekspor komoditas pertanian asal Armenia dalam beberapa pekan terakhir. Rusia secara sepihak melarang impor bunga, minuman keras, anggur, kentang, hingga produk perikanan dari Armenia.

Komisi Eropa mengecam keras langkah boikot sepihak dari pemerintah Rusia tersebut. Sebab, mereka menilai Moskow sengaja menggunakan senjata ekonomi untuk memberikan tekanan politik kepada Armenia. Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin juga memberikan peringatan keras yang membandingkan jalan politik Armenia dengan negara Ukraina.

Kedaulatan Energi dan Sengketa Oposisi

Pashinyan juga harus menghadapi perlawanan politik yang sengit dari kelompok oposisi Strong Armenia. Sebab, partai pimpinan miliarder Samvel Karapetyan tersebut menuduh Pashinyan sengaja memicu perang terbuka dengan Rusia. Aparat hukum sendiri telah menahan Karapetyan atas tuduhan makar sebelum pemungutan suara berlangsung.

Baca Juga :  Umrah Tanpa Izin Saat Banjir, Bupati Aceh Selatan Dicopot Mendagri 3 Bulan

Rusia saat ini masih mengendalikan sebagian besar sektor energi dan infrastruktur penting di Armenia. Oleh karena itu, Putin mengingatkan bahwa Armenia tidak akan bisa bergabung dengan Uni Eropa. Sebab, negara tersebut masih terikat perjanjian kepabeanan dalam Uni Ekonomi Eurasia pimpinan Rusia.

Dukungan Donald Trump dan Tantangan Azerbaijan

Menariknya, kebijakan luar negeri Pashinyan justru mendapatkan dukungan tak terduga dari Presiden AS Donald Trump. Trump memuji Pashinyan sebagai sahabat yang hebat dan pemimpin yang membuat Armenia menjadi sangat aman. Meskipun demikian, tantangan domestik terbesar Pashinyan adalah penyelesaian sengketa wilayah Karabakh dengan Azerbaijan.

Kelompok oposisi terus mengkritik keras langkah damai Pashinyan dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Pada akhirnya, hasil pemilu parlemen ini akan menentukan nasib stabilitas keamanan kawasan Kaukasus Selatan. Dengan demikian, rakyat Armenia kini menanti apakah jalur diplomasi Barat ini mampu membawa kemakmuran jangka panjang.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok
Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?
Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC
Fokus Hari Bhayangkara, Polri Resmi Menunda Operasi Patuh 2026

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:26 WIB

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:21 WIB

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Juni 2026 - 15:02 WIB

Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Berita Terbaru

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

INTERNASIONAL

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Jun 2026 - 17:26 WIB

Ketegangan baru di Selat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengusir empat kapal pemerintah Tiongkok yang menerobos wilayah perairan selatan mereka setelah aksi saling lempar peringatan keras. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Jun 2026 - 16:21 WIB

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Jun 2026 - 14:51 WIB