PORT-AU-PRINCE, POSNEWS.CO.ID – Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi Haiti pada hari Selasa kemarin. Langkah taktis ini bertujuan untuk melihat langsung dampak buruk kekerasan geng bersenjata.
Sebab, pertempuran kelompok kriminal tersebut telah memaksa satu dari sepuluh warga Haiti kehilangan tempat tinggal. Guterres menyaksikan penderitaan luar biasa rakyat Haiti di tengah kehancuran kota Port-au-Prince.
Statistik Mengerikan dan Penculikan Pejabat
PBB merilis data terbaru mengenai krisis kemanusiaan yang melanda Haiti sepanjang tahun ini. Angka laporan menunjukkan geng bersenjata telah menewaskan 2.300 warga sipil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, kelompok kriminal juga menculik 100 orang dan memaksa 1,5 juta warga mengungsi. Penculikan tersebut menyasar James Boyard yang menjabat sebagai Kepala Kabinet Kementerian Pertahanan. Kelompok bersenjata menyandera Boyard saat ia berada di kawasan aman ibu kota pekan lalu.
Kunjungan Lapangan Guterres ke Cité Soleil
Guterres melakukan perjalanan darurat ke Port-au-Prince setelah bentrokan maut pecah di kawasan kumuh Cité Soleil. Dalam hal ini, Koperasi Perdamaian dan Pembangunan melaporkan pertempuran tersebut menewaskan dan melukai lebih dari 30 warga.
Iring-iringan mobil Sekjen PBB melewati jalanan sepi yang dahulu berada di bawah kendali penuh geng kriminal. Guterres melihat deretan rumah kosong dan diler mobil yang hancur akibat terjangan peluru. Sebuah bus umum juga melintas dengan kaca depan yang penuh dengan lubang tembakan.
Tembok beton yang runtuh di pinggir jalan menyajikan coretan grafiti penolakan terhadap geng kriminal. Warga menulis pesan yang menuntut pembubaran Viv Ansanm dan mendukung penuh aksi kepolisian nasional.
Pemerintah Amerika Serikat mengategorikan Viv Ansanm sebagai organisasi teroris asing yang sangat berbahaya. Kelompok bersenjata ini menguasai sekitar 70 persen wilayah ibu kota Port-au-Prince saat ini.
Rekor Tertinggi Jumlah Pengungsi
Rombongan PBB melewati ribuan warga yang kini tinggal di bawah tenda darurat dari terpal plastik. Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat jumlah pengungsi di Port-au-Prince telah mencapai rekor tertinggi.
Kepala Misi IOM di Haiti, Gregoire Goodstein, memperingatkan krisis pengungsian ini telah memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Sebab, sebanyak 18.000 warga melarikan diri dari wilayah Cité Soleil sepanjang bulan Mei lalu.
Harapan pada Pasukan Keamanan Multinasional
Guterres memulai kunjungannya dengan mendatangi markas besar pasukan khusus penumpas geng bersenjata. Dengan demikian, Dewan Keamanan PBB menyetujui pembentukan pasukan khusus ini pada bulan September lalu.
Pasukan baru ini menggantikan misi keamanan pimpinan kepolisian Kenya yang gagal akibat kekurangan dana. Saat ini, beberapa negara seperti Jamaika, Chad, El Salvador, dan Guatemala telah mengirimkan tentara. Pasukan gabungan tersebut bersiap memulai operasi penertiban dalam beberapa pekan mendatang.
Desakan Pemilu dari Perdana Menteri
Guterres menggelar pertemuan tertutup dengan Perdana Menteri Haiti Alix Didier-Fils-Aimé di Port-au-Prince. Namun, Fils-Aimé menghadapi tekanan politik yang sangat berat untuk segera menyelenggarakan pemilihan umum nasional.
Haiti tidak memiliki presiden sejak pembunuhan Jovenel Moïse di kediaman pribadinya pada Juli 2021 lalu. Oleh karena itu, PM Fils-Aimé menegaskan pemulihan keamanan menjadi prioritas utama pemerintah transisi sebelum menggelar pemilu. Ia mendesak Guterres membantu menekan negara donor agar segera merealisasikan bantuan dana keamanan.
Kondisi Memprihatinkan di Kelas Pengungsian
Guterres juga menyempatkan diri mengunjungi shelter pengungsian darurat di sebuah bangunan bekas sekolah. Sebab, tempat penampungan ini menampung lebih dari 1.200 pengungsi yang tidur berhimpitan di lantai kelas.
Para pengungsi melarikan diri setelah geng bersenjata membakar rumah mereka beberapa tahun lalu. Akibatnya, pengelola shelter hanya mampu menjamin satu porsi makanan layak bagi setiap pengungsi setiap hari.
Guterres berdiskusi dengan para ibu yang mengeluhkan minimnya privasi dan fasilitas sanitasi yang bersih. Selanjutnya, petugas keamanan segera mengamankan Guterres setelah seorang pria mulai berteriak histeris menuntut pulang.
Seorang pengungsi berusia 26 tahun, Wendy Cejour, mengaku masih memelihara harapan di tengah penderitaan hidup. Namun, ia mendesak pemerintah segera memulihkan keamanan agar mereka dapat kembali ke rumah.
Komitmen PBB Atasi Akar Kekerasan
Sebelum kunjungan berlangsung, Human Rights Watch mengirim surat resmi untuk mendesak PBB mengatasi akar kekerasan. Pada akhirnya, Guterres mengaku sangat prihatin setelah melihat penderitaan langsung warga Haiti.
“Pemandangan mengerikan ini tidak akan pernah hilang dari ingatan saya,” tegas Guterres dengan nada sedih. Ia menambahkan bahwa perempuan dan anak-anak menanggung beban penderitaan tertinggi akibat konflik ini.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












