WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Kesepakatan damai sementara Presiden Donald Trump dengan pemerintah Iran menuai kritik tajam dari internal Partai Republik. Aparat keamanan dan anggota Kongres mulai mempelajari dokumen nota kesepahaman (MOU) tersebut pada hari Kamis kemarin.
Kritik Keras dari Para Senator Republik
Senator Republik asal Louisiana, Bill Cassidy, melayangkan kritik paling pedas melalui akun media sosial pribadinya. Ia menyebut draf kesepakatan damai sementara tersebut sebagai blunder kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade. Menurutnya, konflik ini menewaskan 13 tentara Amerika dan membebani dompet rakyat di pompa bensin. Ia menyayangkan keputusan Trump melonggarkan sanksi tanpa adanya pembatasan program senjata nuklir Iran yang jelas.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai hilangnya pencapaian militer Amerika Serikat. Wicker menolak keras rencana pencairan aset minyak Iran demi kesepakatan negosiasi transisi selama 60 hari. Ia juga menentang tekanan pemerintah federal yang memaksa Israel untuk menghentikan pertempuran melawan Hezbollah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemarahan Trump dan Pembelaan di Media Sosial
Presiden Donald Trump segera merespons badai kritik tersebut melalui unggahan emosional di akun media sosial pribadinya. Ia menyebut para pengkritik kebijakan luar negerinya sebagai orang-orang yang bodoh, cemburu, atau jahat. Trump berdalih bahwa kebijakannya sukses membawa pasar saham meraih rekor tertinggi sepanjang sejarah pekan ini. Ia juga memamerkan keberhasilan menurunkan harga minyak mentah dunia secara drastis pasca-pengumuman damai tersebut.
Kekecewaan Komentator Konservatif dan Sorotan terhadap Vance
Langkah damai ini juga merusak hubungan Trump dengan beberapa komentator konservatif terkemuka di Amerika Serikat. Komentator populer Ben Shapiro menyebut draf nota kesepahaman tersebut sebagai sebuah bencana besar bagi negara. Shapiro menyalahkan Wakil Presiden JD Vance karena mendukung penuh kesepakatan damai tersebut sejak awal.
Komentator Fox News, Mark Levin, juga menyerang Senator Roger Marshall karena membela kepemilikan rudal balistik Iran. Levin menilai pembiaran kepemilikan senjata mematikan tersebut sebagai bentuk penghinaan nyata terhadap para korban teror. Sebaliknya, Marshall tetap memuji keberanian Trump dalam memilih jalur perdamaian daripada memperpanjang perang tanpa akhir. Senator Lindsey Graham mengingatkan bahwa undang-undang mewajibkan Kongres untuk meninjau setiap kesepakatan sanksi dengan Iran.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa











