SALATIGA, POSNEWS.CO.ID – Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari kampus ternama atau laboratorium besar.
Di Salatiga, Jawa Tengah, perusahaan manufaktur teknologi Dtech Engineering membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari keterbatasan.
Perusahaan yang berdiri sejak 2009 itu kini dikenal sebagai produsen mesin Computer Numerical Control (CNC), teknologi utama yang menopang industri manufaktur modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Utama PT Dtech Inovasi Indonesia, Fajar Budi Laksono, mengatakan mesin CNC berperan penting dalam produksi berbagai komponen presisi, mulai dari suku cadang kendaraan hingga peralatan industri.
“Sebagian besar produk manufaktur menggunakan mesin CNC dalam proses produksinya. Karena itu, kami menyebut CNC sebagai mother of machine,” kata Fajar.
Berawal dari Laptop Bekas dan Internet Gratis
Pendiri Dtech Engineering, Arfian Fuadi, memulai usaha bersama adiknya dari jasa desain keteknikan untuk klien luar negeri.
Karena keterbatasan modal, Arfian mencari pelanggan menggunakan laptop hasil reparasi dan memanfaatkan jaringan internet gratis di sekitar Kantor Pos Salatiga saat masih bekerja sebagai penjaga malam.
Berkat kemampuan desain teknik, Dtech Engineering kemudian mengerjakan berbagai proyek internasional, termasuk desain pesawat ultraringan untuk pertanian di Amerika Serikat serta pesawat listrik untuk ekspedisi Kutub Utara.
Tak hanya itu, perusahaan tersebut juga memenangkan sejumlah kompetisi desain komponen pesawat tingkat internasional.
“Kami hanya ingin membuktikan kemampuan insinyur Indonesia. Hasilnya, kami meraih juara pertama dengan desain yang 84 persen lebih ringan dibanding desain konvensional,” ujarnya.
Kembangkan Mesin CNC untuk UMKM
Titik balik perusahaan terjadi pada 2018 setelah tim Dtech mempelajari rendahnya indeks inovasi Indonesia dibanding beberapa negara tetangga.
Mereka menemukan bahwa negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki kapasitas manufaktur kuat dan jumlah mesin CNC yang besar.
Berangkat dari temuan itu, Dtech Engineering mengembangkan mesin CNC berbiaya lebih terjangkau untuk UMKM, sekolah vokasi, dan perguruan tinggi.
Berbeda dengan mesin impor yang bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah, mesin buatan Salatiga dirancang lebih ekonomis, menggunakan listrik rumah tangga, mudah dirawat, dan dilengkapi sistem berbahasa Indonesia.
“Kami ingin teknologi benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia,” kata Fajar.
Produk Lokal Jadi Tren di Filipina
Selanjutnya, Dtech membangun ekosistem pendidikan teknologi melalui Akademi Inovasi Indonesia yang memberikan pelatihan gratis kepada generasi muda.
Program tersebut melahirkan berbagai produk komersial, termasuk suku cadang sepeda motor melalui merek Arumi Motoparts.
Menariknya, produk-produk tersebut ikut mendorong tren modifikasi motor di Filipina.
“Bahkan muncul tagar Indo Concept. Banyak pengguna motor di Filipina memakai produk asal Indonesia, termasuk produk kami,” ungkap Fajar.
Selain memproduksi jutaan suku cadang motor setiap tahun, Dtech juga memasok komponen kursi kereta api untuk PT INKA yang digunakan pada rangkaian kereta premium nasional.
Dorong Teknologi Buatan Indonesia Mendunia
Di tengah pertumbuhan bisnisnya, Dtech Engineering terus memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual melalui pengajuan paten, merek, dan desain industri.
Perusahaan juga memanfaatkan berbagai program pemerintah, seperti sertifikasi TKDN, SNI, hingga pameran industri internasional di Jerman.
“Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi dan produk manufaktur berdaya saing global,” tegas Fajar. **
Editor : Hadwan












